JAYAPURA, Desapenari.id – Peristiwa memilukan menyelimuti kompleks Asrama Polres Mamberamo Tengah di Papua Pegunungan pada Senin (17/8/2026). Siang yang terik berubah menjadi mimpi buruk ketika kobaran api dengan cepat melahap 17 petak barak tempat tinggal para personel kepolisian. Peristiwa ini bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga merenggut rasa aman dan tempat berlindung bagi 46 personel beserta keluarga tercinta. Kebakaran hebat itu seakan tak memberi ampun, menyisakan puing-puing hitam dan duka yang mendalam di hati para penghuni asrama yang kini harus kehilangan seluruh harta benda mereka dalam sekejap.
Kepanikan langsung melanda kompleks asrama ketika kepulan asap tebal mulai membubung tinggi. Para personel yang sedang beristirahat atau berada di dekat lokasi sontak berlarian keluar, sebagian masih berusaha menyelamatkan barang-barang berharga. Namun, api dengan keganasannya bergerak begitu cepat, merayap dari satu petak ke petak lain tanpa bisa dihentikan. Nuansa kebersamaan yang biasanya hangat di asrama tersebut kini berubah menjadi teror yang membuat semua penghuninya berteriak dan berusaha menyelamatkan diri. Meskipun para personel adalah orang-orang yang terlatih, menghadapi si jago merah yang dipicu oleh kesalahan kecil memang terkadang membuat mereka kewalahan.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, dengan sigap memberikan keterangan resmi terkait peristiwa nahas ini. Menurutnya, api pertama kali muncul dari salah satu petak barak yang ditempati oleh personel Polres Mamberamo Tengah. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal di lokasi kejadian, petugas menduga kuat bahwa sumber api berasal dari penumpukan colokan pada stop kontak yang posisinya sangat berbahaya karena menempel langsung pada gorden rumah. Percikan api kecil yang muncul dari stop kontak tersebut pun dengan cepat membakar gorden berbahan kain yang mudah terbakar. Sangat disayangkan, kelalaian kecil dalam menata kabel dan peralatan elektronik ini ternyata memicu bencana besar yang merugikan banyak orang.
Kobaran api yang mulai membesar dengan cepat merambat ke dinding-dinding rumah yang seluruhnya terbuat dari kayu. Material kayu yang kering dan mudah terbakar menjadi “makanan” sempurna bagi api untuk terus meluas tanpa kendali. Kombes Cahyo menambahkan bahwa kondisi cuaca yang terik dan panas pada hari itu benar-benar menjadi faktor pemicu yang memperparah situasi. Selain cuaca yang panas, hembusan angin kencang yang bertiup di kawasan tersebut dengan kejam turut mempercepat penyebaran api ke seluruh sudut kompleks asrama. Angin seakan menjadi komplotan api, menyulut setiap sudut bangunan yang dijangkau, sehingga upaya pemadaman secara manual pun nyaris sia-sia.
Melihat situasi yang kian mengkhawatirkan, seluruh personel Polres Mamberamo Tengah yang berada di lokasi kejadian langsung bergerak cepat melakukan upaya pemadaman secara manual. Dengan peralatan seadanya, mereka berusaha memadamkan api menggunakan alat pemadam kebakaran ringan (APAR) dan bahkan ember-ember berisi air. Mereka bahu-membahu, saling berteriak memberikan arahan, dan berusaha memutus jalur api agar tidak terus menjalar. Namun, besarnya kobaran api yang didukung oleh angin dan material bangunan yang mudah terbakar membuat upaya heroik mereka tidak cukup ampuh. Api tetap berkobar dengan ganas, dan akhirnya meludeskan 17 petak barak yang menjadi tempat tinggal sehari-hari mereka.
Peristiwa ini memang menjadi pelajaran berharga, namun kerugian yang ditimbulkan tidak bisa dianggap remeh. Kombes Cahyo Sukarnito menegaskan bahwa saat ini pihaknya masih terus melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti kebakaran. Meskipun dari hasil pemeriksaan awal mengarah pada penumpukan stop kontak di dekat gorden, penyelidikan lebih lanjut tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada faktor lain yang turut memicu peristiwa ini. Semua saksi yang berada di lokasi kejadian pun telah dimintai keterangan untuk membantu proses penyelidikan. Hal ini penting dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, dan agar langkah pencegahan bisa lebih ditingkatkan.
Meskipun kebakaran ini menimbulkan kerugian materiil yang besar, satu hal yang patut disyukuri adalah tidak adanya korban jiwa ataupun korban luka dalam peristiwa ini. Seluruh personel dan anggota keluarga berhasil dievakuasi dengan selamat dari lokasi kebakaran. Namun, di balik rasa syukur tersebut, kesedihan tetap menyelimuti karena mereka harus kehilangan tempat tinggal dan seluruh barang berharga di dalamnya. Saat ini, pihak berwenang masih terus mendata nilai kerugian materiil yang ditimbulkan oleh kebakaran ini, dan diperkirakan jumlahnya akan mencapai angka yang cukup fantastis mengingat banyaknya fasilitas dan barang pribadi yang hangus terbakar.
Pasca kebakaran yang menghancurkan ini, Kapolres Mamberamo Tengah bersama seluruh jajarannya langsung bergerak cepat untuk memberikan respons terbaik bagi para korban. Mereka tidak tinggal diam, dan segera menyiapkan tempat tinggal sementara bagi 46 personel beserta keluarga yang kini kehilangan atap. Prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan tempat berlindung yang layak dan kebutuhan dasar lainnya seperti makanan, pakaian, serta perlengkapan mandi. Penanganan ini dilakukan secara bertahap dan penuh dengan empati, karena mereka paham betul betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh rekan-rekan mereka yang menjadi korban.
Kombes Cahyo Sukarnito dengan tegas menyatakan bahwa perhatian utama Polda Papua saat ini adalah memastikan seluruh personel dan keluarga yang terdampak mendapatkan tempat tinggal sementara yang layak serta kebutuhan dasar lainnya. Pihaknya tidak ingin ada satu pun personel yang merasa terlantar setelah peristiwa ini. Koordinasi intensif pun terus dilakukan dengan jajaran terkait untuk mendukung penanganan darurat dan juga proses pendataan kerugian. Polda Papua juga memberikan perhatian serius terhadap kondisi psikologis personel yang terdampak, karena kehilangan tempat tinggal dalam sekejap tentu menyisakan trauma mendalam yang membutuhkan pemulihan secara perlahan.
Selain itu, peristiwa ini menjadi pengingat yang sangat keras bagi kita semua tentang pentingnya keselamatan listrik di lingkungan rumah tangga. Penumpukan colokan pada satu stop kontak dan penempatannya di dekat benda mudah terbakar seperti gorden ternyata menyimpan potensi bahaya yang sangat besar. Kita tidak pernah menduga bahwa hal sepele yang sering kita abaikan sehari-hari bisa berubah menjadi musibah besar yang merugikan banyak orang. Oleh karena itu, marilah kita jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran untuk lebih waspada dan teliti dalam mengelola instalasi listrik di rumah masing-masing, agar kejadian serupa tidak menimpa kita di kemudian hari.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

