Malang, Desapenari.id – Kabar duka masih menyelimuti kawasan wisata favorit di Jawa Timur. Gunung Bromo yang dikenal dengan pesona matahari terbitnya yang legendaris, ternyata masih memilih untuk “tutup pintu” lebih lama dari perkiraan. Akibat kebakaran hutan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), sebanyak 3.445 wisatawan pun akhirnya mengambil keputusan berat untuk menarik kembali atau refund tiket mereka. Angka ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi sektor pariwisata di tengah masa pemulihan pasca-bencana.
Meskipun kobaran api besar dilaporkan telah berhasil dijinakkan, namun pihak pengelola belum juga berani membuka gerbang seluas-luasnya bagi para pengunjung. Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, dengan tegas menyatakan bahwa hingga detik ini, kawasan TNBTS masih dalam status tertutup. Menurutnya, tidak ada satu pun pengunjung yang diizinkan memasuki area wisata sebelum ada pengumuman resmi yang menyatakan bahwa kondisi sudah benar-benar aman. “Memang benar, kawasan TNBTS masih kami tutup untuk aktivitas wisata. Selama tidak ada surat pengumuman pembukaan, maka ya tetap kami pertahankan penutupan ini,” ujar Endrip dengan nada tegas saat dikonfirmasi pada Senin (17/8/2026).
Tentu saja, kebijakan penutupan yang berkepanjangan ini langsung berdampak besar pada antusiasme para pelancong. Berdasarkan data lengkap yang dihimpun oleh Balai Besar TNBTS, jumlah wisatawan yang sudah memesan tiket secara daring untuk periode 9 hingga 16 Agustus 2026 tercatat mencapai 4.234 orang. Rinciannya, 3.802 orang di antaranya merupakan wisatawan nusantara yang berasal dari berbagai penjuru tanah air, sementara 432 lainnya adalah wisatawan asing yang sudah merencanakan liburan dari jauh-jauh hari. Namun, ekspektasi untuk menikmati keindahan lautan pasir dan kawah Bromo harus pupus sudah.
Dari total 4.234 pemegang tiket tersebut, mayoritas besar memilih opsi yang paling aman, yaitu mengembalikan tiket mereka. Tercatat, sebanyak 3.445 wisatawan telah mengajukan permohonan refund tiket kepada pihak pengelola. Jumlah tersebut terdiri dari 3.125 wisatawan nusantara (WNI) dan 320 wisatawan mancanegara (WNA) yang memilih untuk tidak mengambil risiko menunggu kepastian yang masih abu-abu. Proses pengembalian dana ini pun langsung diproses oleh pihak manajemen untuk mengurangi kekecewaan para pengunjung.
Selain memilih refund, ada pula sebagian kecil wisatawan yang masih optimis dan memilih untuk menjadwal ulang atau reschedule kunjungan mereka. Menariknya, tercatat 82 wisatawan yang mengambil opsi ini, dan semuanya merupakan wisatawan domestik. Mereka masih berharap bisa menyaksikan keindahan Bromo di lain waktu ketika situasi sudah benar-benar pulih dan aman dari potensi bahaya kebakaran.
Namun, yang cukup mencengangkan adalah masih adanya 707 wisatawan yang hingga kini belum mengambil keputusan apapun. Mereka masih berada dalam posisi bimbang, entah akan meminta uang mereka kembali atau menunggu kabar baik dari pihak taman nasional. Jumlah itu terdiri dari 595 wisatawan lokal dan 112 wisatawan asing yang mungkin masih menaruh harapan besar bahwa dalam waktu dekat pintu gerbang Bromo akan segera terbuka kembali. “Mereka masih kami data dan kami beri waktu untuk memutuskan,” tambah Endrip.
Sebagai informasi awal, kebijakan pembatasan akses ini sebenarnya bukan tanpa peringatan. Sebelum api benar-benar meluas, Balai Besar TNBTS sudah mulai membatasi akses wisata Gunung Bromo sejak 3 Agustus 2026 lalu. Saat itu, pembatasan hanya diberlakukan melalui pintu masuk utama di Jemplang, Kabupaten Malang, dan Senduro, Kabupaten Lumajang. Wisatawan dari arah Probolinggo dan Pasuruan masih sempat diberikan kelonggaran. Namun, kondisi api yang terus merambat dan luasan lahan yang kian melebar bak bola salju, membuat pihak pengelola tidak punya pilihan lain.
Melihat situasi yang semakin genting, Balai Besar TNBTS akhirnya mengeluarkan kebijakan darurat yang lebih ekstrem. Mereka memutuskan untuk menutup seluruh pintu masuk kawasan wisata Bromo tanpa terkecuali mulai Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan untuk mendukung efektivitas pemadaman kebakaran yang saat itu masih sulit dikendalikan serta sebagai langkah antisipasi guna memastikan keamanan dan keselamatan jiwa para pengunjung yang merupakan prioritas utama.
Penutupan total ini pun langsung mematikan semua akses populer menuju kawah Bromo. Mulai dari pintu masuk Cemorolawang yang terkenal di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan yang sering menjadi favorit para pendaki, hingga Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang, semuanya digembok rapat. Tidak ada celah sedikitpun bagi wisatawan untuk menerobos, demi kebaikan bersama.
Kabar baiknya, api besar yang selama ini menjadi momok utama akhirnya dinyatakan padam total pada Jumat (14/8/2026) pagi. Para petugas gabungan pun menghela napas lega setelah berjuang keras memadamkan si jago merah selama berhari-hari. Namun, jangan dulu buru-buru bersorak! Meskipun api utama telah padam, sejumlah hotspot atau titik panas masih terpantau oleh satelit dan tim di lapangan. Titik-titik ini berpotensi besar kembali menjadi titik api jika angin bertiup kencang dan cuaca sangat ekstrem. Oleh karena itu, pihak pengelola masih memilih untuk bersikap sangat waspada dan belum akan membuka kawasan dalam waktu dekat.
Masyarakat dan calon wisatawan pun diharapkan untuk terus memantau informasi resmi dari Balai Besar TNBTS sebelum merencanakan perjalanan ke sana. Jangan sampai liburan impian Anda malah berakhir dengan kekecewaan karena akses yang masih ditutup. Keselamatan tetap nomor satu, dan semoga alam Bromo segera pulih kembali seperti sediakala.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

