Desapenari.id – Suasana khidmat peringatan HUT ke-81 RI di puncak Gunung Bawakaraeng mendadak berubah mencekam. Tim SAR gabungan terpaksa turun tangan dan bergerak cepat mengevakuasi tidak kurang dari 26 pendaki yang mengalami berbagai gangguan kesehatan serius. Proses evakuasi dramatis ini terjadi tepat di tengah rangkaian upacara kemerdekaan yang digelar di kawasan pegunungan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan tersebut. Bukan hanya sekadar kelelahan biasa, tim medis menemukan beragam kondisi mengkhawatirkan, mulai dari cedera fisik yang cukup parah hingga hipotermia yang mengancam nyawa akibat suhu dingin ekstrem di jalur pendakian dan area puncak. Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 14 orang pendaki yang terdiri dari berbagai kalangan sudah berhasil dievakuasi keluar dari jalur berbahaya dan saat ini tengah mendapatkan perawatan intensif dari tim medis. Sementara itu, 12 orang pendaki lainnya masih dalam proses evakuasi yang menegangkan dan terus diupayakan oleh tim gabungan di lapangan.
Evakuasi Darurat di Tengah Perayaan Kemerdekaan
Komandan Rescuer Basarnas Makassar, Darul, secara resmi mengungkapkan data terkini yang cukup mencengangkan di tengah operasi penyelamatan. Tim siaga khusus yang dikerahkan langsung menemukan dan menangani total 26 orang pendaki yang mengalami berbagai macam ‘trouble’ atau masalah kesehatan selama mengikuti kegiatan di gunung. Dari data sementara yang berhasil dihimpun di posko utama, komposisi pendaki yang terdampak ini terdiri dari tujuh orang laki-laki dan 19 orang perempuan. “Data sementara dari tim siaga khusus sampai saat ini telah menangani 26 orang pendaki yang mengalami trouble, dengan rincian tujuh laki-laki dan 19 perempuan,” ujar Darul dengan nada serius di sela-sela kesibukannya mengkoordinasi tim, Senin (17/8). Jumlah yang didominasi oleh pendaki perempuan ini menjadi perhatian khusus bagi tim evakuasi karena beberapa di antaranya harus ditandu melewati medan ekstrem.
Proses penyelamatan yang berlangsung dramatis ini ternyata tersebar di beberapa titik rawan di sepanjang jalur pendakian Gunung Bawakaraeng. Tim SAR gabungan tidak hanya berfokus pada satu lokasi, melainkan bergerak lincah dari satu pos ke pos lainnya untuk menjangkau para korban. Mereka menyisir dan melakukan pertolongan mulai dari Pos 5, kemudian melanjutkan ke Pos 7, hingga Pos 8 di jalur Lembanna yang terkenal terjal. Tidak berhenti di situ, tim penyelamat juga memanjat hingga ke Pos 10 yang berada di kawasan puncak, serta menyusuri jalur ekstrem Tassoso yang sering kali licin dan berbahaya. Hingga saat ini, dari total 26 pendaki yang berhasil ditemukan dan ditangani, sebanyak 14 orang sudah berhasil dievakuasi dengan selamat dan langsung memperoleh pertolongan medis darurat di posko kesehatan. Namun, sebanyak 12 pendaki lainnya masih dalam perjalanan panjang dan melelahkan menuju posko utama Aju Bulu Balea dengan pengawalan ketat dari tim SAR.
Cedera, Kelelahan, dan Hipotermia Mengintai Para Pendaki
Tim medis yang bertugas di lapangan mendapati spektrum gangguan kesehatan yang sangat beragam dan cukup mengkhawatirkan di kalangan para pendaki. Tidak sedikit pendaki yang mengalami cedera kaki akibat terkilir atau terjatuh di bebatuan tajam, sementara beberapa lainnya mengeluhkan kram otot yang hebat ketika mereka berusaha menuruni jalur curam. Kelelahan fisik yang ekstrem juga menjadi musuh utama bagi para pendaki, dimana banyak dari mereka yang sudah kehabisan tenaga di tengah perjalanan. Bahkan, kondisi menjadi lebih buruk ketika tim evakuasi menemukan pendaki yang terjatuh akibat terpeleset di jalur licin dan mengalami cedera tulang belakang yang cukup serius. Selain itu, ancaman hipotermia menjadi momok paling menakutkan karena beberapa pendaki mengalami penurunan suhu tubuh secara drastis akibat terpapar angin dingin dan kabut tebal di kawasan puncak yang membuat suhu mendekati titik beku.
Tim SAR gabungan tidak tinggal diam dan langsung menerapkan strategi evakuasi yang terencana dengan sistem estafet dari titik tertinggi. Mereka secara bergantian mengevakuasi korban dari Puncak Pos 10 yang paling ekstrem, kemudian menurunkannya ke Pos 9, serta menyisir area rawan di antara Pos 7 dan Pos 8 yang terkenal dengan medan berbatu. Untuk pendaki yang mengalami insiden jatuh dan cedera parah, tim terpaksa mengevakuasi mereka menggunakan tandu khusus agar tidak memperparah kondisi luka. “Proses evakuasi kami laksanakan secara estafet, mulai dari puncak menuju ke pos delapan, dan dilanjutkan oleh tim yang berada di pos tujuh,” jelas Darul dengan napas terengah-engah. “Selanjutnya kami serahkan ke tim di pos lima untuk dititip sementara, kemudian dibawa turun ke Pos Aju Bulu Balea untuk mendapat perawatan lanjutan,” sambungnya. Sistem estafet ini terbukti efektif mengingat medan yang sangat berat dan jarak tempuh yang jauh.
Setelah berhasil melewati jalur ekstrem dan tiba di posko evakuasi, para pendaki yang mengalami hipotermia, cedera kaki, maupun kram kaki parah segera mendapatkan penanganan serius. Mereka tidak hanya diberi pertolongan pertama di lapangan, tetapi petugas kesehatan langsung merujuk mereka ke Puskesmas Tinggi Moncong untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan yang lebih intensif. Tim medis di puskesmas pun disiagakan untuk menangani berbagai kemungkinan komplikasi akibat suhu dingin dan cedera fisik yang diderita para pendaki. Para pendaki yang sebelumnya menggigil kedinginan pun perlahan mendapatkan kehangatan dan perawatan layak. Ini menjadi angin segar bagi para pendaki yang nyaris putus asa di tengah dinginnya Gunung Bawakaraeng.
Ribuan Pendaki Memadati Jalur, Operasi Siaga Dikerahkan
Di balik hiruk-pikuk evakuasi, tim gabungan juga tidak mengabaikan tugas pemantauan terhadap ribuan pendaki lainnya yang masih berada di jalur. Pos Siaga Merah Putih mencatat angka yang fantastis, dimana total pendaki yang telah melakukan registrasi resmi mencapai 3.786 orang. Jumlah sebanyak itu masuk melalui empat jalur utama yang berbeda menuju kawasan puncak Gunung Bawakaraeng. Rinciannya cukup mengejutkan, dimana Pos Registrasi Bulu Balea menjadi titik tersibuk dengan mencatat 2.033 pendaki, disusul Posko Tassoso dengan 1.081 orang, kemudian Posko Kanreapia dengan 422 orang, dan Posko Lembanna yang mencatat 250 pendaki. Dengan kepadatan yang luar biasa ini, tim gabungan terus melakukan pengawasan ketat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Operasi besar-besaran yang diberi nama Siaga Merah Putih ini berlangsung dalam kurun waktu empat hari, tepatnya pada 15 hingga 18 Agustus 2026. Untuk memastikan kelancaran operasi dan keselamatan para pendaki, pihak berwenang mengerahkan kekuatan besar dengan menurunkan 295 personel gabungan. Mereka terdiri dari unsur Basarnas yang profesional, komunitas SAR yang berpengalaman, para relawan yang tangguh, serta tenaga medis yang siap sedia. Seluruh personel ini ditempatkan secara strategis di delapan lokasi penting dan rawan kecelakaan, termasuk di kawasan puncak Gunung Bawakaraeng yang ekstrem dan Lembah Ramma yang terjal, agar dapat memberikan respons cepat terhadap setiap kondisi darurat yang terjadi.
Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menegaskan bahwa Operasi Siaga Khusus Merah Putih ini melibatkan Tim SAR gabungan yang tersebar di delapan titik pemantauan vital. Lokasi-lokasi tersebut meliputi Posko Lembanna, Posko Aju Bulu Balea, Pos 5, Pos 7, Pos 8 jalur Lembanna, puncak Gunung Bawakaraeng, Lembah Ramma, dan jalur Tassoso yang ekstrem. Dengan penyebaran personel yang merata ini, tim berharap dapat menjangkau setiap sudut rawan dengan cepat. Meskipun operasi sudah berjalan maksimal, Arif menyampaikan pesan penting yang tidak boleh dilupakan oleh para pendaki.
Sebelum operasi besar ini berlangsung, Arif sudah berulang kali mengingatkan para pendaki untuk mengutamakan keselamatan di atas segalanya. Ia dengan tegas meminta mereka agar tidak memaksakan diri untuk terus menuju puncak jika kondisi fisik sudah mulai melemah. Menjaga kondisi fisik dan memperhatikan tanda-tanda bahaya seperti hipotermia atau kelelahan ekstrem menjadi kunci utama untuk mencegah gangguan kesehatan selama perjalanan. “Ini bukan hanya tentang menjaga jalur pendakian. Ini tentang memastikan setiap orang yang datang untuk memperingati kemerdekaan dapat kembali dengan selamat kepada keluarganya. Semangat kemerdekaan harus berjalan bersama kepedulian dan kemanusiaan,” imbuh Arif dengan penuh haru, mengingatkan bahwa nyawa jauh lebih berharga daripada sekadar mencapai puncak gunung.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

