PANDEGLANG, Desapenari.id – Gemuruh dahsyat mengguncang kawasan Kampung Cisarua, Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Rabu siang (26/8/2026). Warga sekitar sontak berlarian ketakutan usai sebuah ledakan keras terdengar dari salah satu rumah warga. Dugaan sementara mengarah pada bom ikan yang meledak diduga karena kelalaian sang pemilik rumah. Nahas, seorang nelayan bernama MA (48) meregang nyawa di tempat kejadian, sementara sang istri harus berjuang melawan rasa sakit yang luar biasa dengan luka berat di tubuhnya.
Kepala Desa Citeureup, Oman Suherman, mengungkapkan bahwa kejadian tragis ini berlangsung sekitar pukul 13.15 WIB. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Rabu malam, Oman menuturkan bahwa informasi pertama kali ia terima dari pengurus Rukun Tetangga (RT) setempat. Pengurus RT melaporkan adanya ledakan yang sangat kuat dan diduga berasal dari bom ikan yang biasa digunakan untuk menangkap ikan secara ilegal. Tanpa membuang waktu, Oman segera mengoordinasikan bantuan darurat ke lokasi kejadian demi menyelamatkan siapa pun yang masih bisa tertolong.
ISTRI NELAYAN ALAMI LUKA BERAT DAN DIRAWAT INTENSIF
Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis oleh Polda Banten, korban jiwa MA ternyata tinggal serumah dengan istrinya, IY (43), di lokasi kejadian. Pada saat ledakan dahsyat itu terjadi, IY berada tidak jauh dari suaminya. Akibat ledakan yang sangat keras, IY mengalami luka parah di sekujur tubuhnya. Tim medis yang tiba di lokasi langsung mengevakuasi IY ke Rumah Sakit Panimbang, Pandeglang, untuk mendapatkan perawatan intensif. Kondisinya kini masih kritis, dan pihak keluarga besar berharap IY bisa segera pulih dari cedera berat yang dialaminya.
Selain menewaskan MA dan melukai istrinya, ledakan bom ikan tersebut juga menimbulkan dampak kerusakan yang cukup meresahkan warga sekitar. Beberapa rumah yang berada di dekat lokasi kejadian ikut terkena imbas getaran keras dan pecahan material. Kepala Desa Oman Suherman mengonfirmasi bahwa setidaknya empat rumah warga mengalami kerusakan ringan akibat ledakan tersebut. “Dampak kerusakan ada empat rumah di pinggir, rusak ringan,” ujar Oman dengan nada prihatin. Warga sekitar masih diliputi ketakutan dan trauma mendalam usai mendengar suara ledakan yang mengguncang ketenangan siang hari mereka.
TIM GEGANA DARI POLDA BANTEN LANGSUNG TURUN KE LOKASI
Menyikapi insiden mematikan ini, Kabidhumas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea, menegaskan bahwa pihak kepolisian langsung merespons cepat dengan menerjunkan Tim Gegana Satbrimob Polda Banten. Tim Gegana yang terkenal ahli dalam penanganan bahan peledak segera melakukan sterilisasi lokasi guna mengamankan area dari potensi bahaya susulan. Selain itu, Tim INAFIS (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) Ditreskrimum Polda Banten juga dikerahkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Langkah ini penting untuk mengumpulkan barang bukti yang dapat mengungkap penyebab pasti ledakan serta asal-usul bahan peledak yang digunakan.
“Tim Gegana Satbrimob Polda Banten masih melakukan sterilisasi untuk selanjutnya dilakukan olah TKP oleh Tim INAFIS Ditreskrimum Polda Banten, guna mengumpulkan barang bukti,” jelas Maruli melalui keterangan tertulis yang diterima awak media. Ia juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban atas meninggalnya MA secara tragis. “Kami turut berduka cita atas meninggalnya saudara MA dalam peristiwa dugaan ledakan bom ikan di Panimbang. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar Maruli dengan penuh rasa simpati.
POLISI MASIH SELIDIKI ASAL USUL BAHAN PELEDAK
Hingga saat ini, polisi masih terus menyelidiki secara mendalam untuk memastikan penyebab pasti ledakan serta asal-usul bahan peledak yang memicu peristiwa nahas tersebut. Tim penyidik belum menutup kemungkinan bahwa bahan peledak tersebut diracik sendiri oleh korban untuk keperluan menangkap ikan di laut. Oleh karena itu, penyelidikan akan difokuskan pada siapa yang memasok bahan-bahan kimia berbahaya tersebut dan bagaimana cara korban mendapatkan akses terhadap bahan peledak itu.
Sebagai langkah antisipasi, Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea juga mengimbau masyarakat luas, terutama para nelayan, untuk tidak meracik atau menggunakan bahan peledak dalam aktivitas penangkapan ikan. Ia menekankan bahwa penggunaan bom ikan tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa. “Selain dapat merusak lingkungan, penggunaan bahan peledak juga dapat membahayakan keselamatan,” tegas Maruli. Imbauan ini sekaligus menjadi pengingat keras bagi para nelayan agar mengutamakan metode penangkapan ikan yang aman dan ramah lingkungan.
Peristiwa menyedihkan ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak bahwa kelalaian dalam menangani bahan peledak dapat berakibat fatal. Tidak hanya merenggut nyawa, ledakan bom ikan juga meninggalkan luka fisik dan psikis bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga keluarga korban diberi ketabahan dan kesabaran menghadapi musibah ini. Masyarakat pun diimbau untuk segera melapor ke pihak berwajib jika mengetahui adanya aktivitas ilegal yang menggunakan bahan peledak di lingkungan sekitar. Keselamatan bersama jauh lebih penting daripada sekadar hasil tangkapan ikan yang instan namun penuh risiko.
Sementara itu, pihak Rumah Sakit Panimbang Pandeglang terus berupaya maksimal untuk menstabilkan kondisi IY, istri korban yang masih kritis. Keluarga besar korban dan warga sekitar masih menunggu dengan harap-harap cemas perkembangan kondisi IY. Mereka berdoa agar IY cepat pulih dan bisa melanjutkan kehidupannya meski ditinggal sang suami untuk selamanya. Duka mendalam menyelimuti Kampung Cisarua, dan doa terus mengalir dari banyak pihak untuk kesembuhan IY serta ketabahan bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

