MADIUN, Desapenari.id – Nasib nahas menimpa Sutrisno (49), warga Desa Sambirejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Alih-alih mendapat rumput segar untuk pakan ternaknya, pria paruh baya ini justru harus meregang nyawa di ruang operasi selama tiga hari penuh! Peristiwa tragis itu terjadi di area persawahan Desa Bacem, Kecamatan Balerejo, pada Sabtu (22/8/2026), ketika peluru nyasar menembus pipi kiri korban dengan kejam. Meskipun kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian, namun hingga Rabu (26/8/2026), identitas pelaku masih diselimuti misteri yang mencekam.
Sutrisno, dengan suara lirih namun penuh trauma, menceritakan kembali pengalaman mengerikan yang nyaris merenggut nyawanya. Saat itu, dirinya baru saja menyelesaikan pekerjaan rutin dan memutuskan untuk mencari rumput hijau di area persawahan yang biasa ia datangi. Setelah karung rumput yang dibawanya terisi penuh hingga nyaris meluber, tiba-tiba suasana damai itu pecah oleh suara letusan tembakan yang memekakkan telinga. Sebelum sempat memahami apa yang sedang terjadi, Sutrisno langsung merasakan hantaman benda keras yang menyambar bagian kiri wajahnya dengan kekuatan luar biasa, diikuti rasa panas yang menjalar dan pandangan yang tiba-tiba menjadi gelap gulita.
Bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa, Sutrisno langsung berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan kepada para petani lain yang kebetulan masih berada di sekitar lokasi. “Saya kira kiamat datang, tiba-tiba pipi saya terasa hancur dan dunia terasa berputar,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Warga yang mendengar teriakan histeris itu langsung berhamburan mendekati sumber suara, dan alangkah terkejutnya mereka melihat Sutrisno tergeletak dengan darah mengucur deras dari pipi kirinya. Meskipun warga berusaha melakukan pencarian intensif untuk menemukan sumber tembakan dan pelaku yang bertanggung jawab, namun usaha mereka sia-sia belaka. Sang pelaku seolah ditelan bumi, dan jejaknya sama sekali tidak terlihat di sekitar area persawahan yang luas tersebut.
Tanpa membuang waktu, warga segera bergotong royong mengevakuasi Sutrisno ke rumah sakit terdekat menggunakan kendaraan seadanya. Dalam perjalanan yang terasa sangat panjang, nyawa Sutrisno benar-benar berada di ujung tanduk karena kehilangan banyak darah. Sesampainya di rumah sakit, tim medis langsung bertindak cepat dengan melakukan operasi darurat untuk mengeluarkan peluru yang dengan mengerikan masih bersarang di dalam pipi korban. “Operasi berlangsung selama berjam-jam dan sangat menegangkan. Syukur alhamdulillah, tim dokter berhasil mengeluarkan peluru dengan selamat,” ujar Sutrisno dengan rasa syukur yang mendalam.
Selama tiga hari penuh, Sutrisno harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Baru pada hari Selasa kemarin, dirinya diizinkan pulang meskipun masih harus menjalani masa pemulihan yang panjang. Saat ini, bekas luka tembak di pipi kirinya masih terlihat jelas dan menjadi pengingat akan peristiwa mengerikan yang hampir merenggut nyawanya. “Saya baru sadar betapa beruntungnya saya masih bisa bernapas sampai sekarang. Kalau pelurunya sedikit melenceng, mungkin saya sudah tidak ada di sini,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Sutrisno juga menambahkan bahwa peristiwa ini mengajarkan kepadanya betapa berbahayanya aktivitas sehari-hari yang sering dianggap sepele. Dulu, ia tidak pernah membayangkan bahwa mencari rumput untuk pakan ternak bisa berakhir dengan tragedi mengerikan seperti ini. “Saya hanya ingin mencari nafkah untuk keluarga, tapi hampir kehilangan nyawa,” keluhnya sambil mengusap wajah yang masih dibalut perban tebal.
Keluarga Sutrisno pun turut merasakan dampak psikologis yang mendalam dari kejadian ini. Istri korban, yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku terus kepikiran dan sulit tidur membayangkan penderitaan yang dialami suaminya. “Setiap kali melihat bekas luka di pipi suami saya, hati saya seperti ditusuk-tusuk. Kami sangat berharap polisi bisa segera menangkap pelaku agar kejadian ini tidak terulang pada warga lain,” ucapnya dengan mata sembab. Anak-anak Sutrisno juga masih diliputi rasa takut yang mendalam, dan mereka terus bertanya-tanya kapan ayah mereka akan pulih sepenuhnya.
Harapan besar Sutrisno dan keluarganya kini tertumpu pada kinerja aparat kepolisian. Dengan penuh keyakinan, Sutrisno meminta agar pihak berwenang bergerak cepat mengungkap identitas pelaku yang telah membuat hidupnya terancam. “Saya tidak ingin ada korban lain yang mengalami nasib seperti saya. Pelaku harus bertanggung jawab atas perbuatannya,” tegasnya dengan nada penuh determinasi.
Sementara itu, Kapolres Madiun melalui Kasat Reskrim AKP Agung Hartawan memberikan konfirmasi resmi bahwa laporan korban telah diterima dan saat ini proses penyelidikan sedang berlangsung secara intensif. “Kami sudah menerima laporan dari korban dan langsung bergerak cepat untuk mengumpulkan bukti-bukti di lapangan,” jelas Agung dengan nada serius. Tim kepolisian disebutkan telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara menyeluruh dan memeriksa sejumlah saksi yang mungkin melihat kejadian pada hari itu.
Namun, pengungkapan kasus ini bukanlah tugas yang mudah. Agung mengakui bahwa lokasi kejadian yang berada di area persawahan terbuka menyulitkan proses identifikasi sumber tembakan. “Kami masih bekerja keras mencari asal muasal peluru nyasar ini. Kemungkinan besar peluru berasal dari jarak yang cukup jauh, sehingga korban tidak menyadari adanya aktivitas mencurigakan di sekitarnya,” paparnya. Tim penyidik juga akan bekerja sama dengan ahli balistik untuk melacak jenis senjata yang digunakan, serta menelusuri apakah ada laporan aktivitas penembakan liar di sekitar lokasi kejadian pada hari yang sama.
Polisi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap waspada, serta melaporkan segera jika ada informasi yang dapat membantu pengungkapan kasus ini. Kasus ini juga menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk tidak melakukan aktivitas penembakan di area pemukiman atau lahan pertanian yang banyak dihuni warga. “Kami tidak akan berhenti sampai pelaku berhasil kita tangkap,” tegas Agung dengan penuh keyakinan.
Peristiwa ini menjadi sorotan tajam di kalangan masyarakat Madiun, dan banyak warga yang mulai mempertanyakan keamanan di area persawahan yang selama ini dianggap sebagai zona aman. “Kalau ini bisa terjadi di sawah, maka tidak ada tempat yang benar-benar aman lagi,” ujar salah satu petani setempat yang enggan disebutkan namanya. Bahkan, sejumlah warga mulai enggan beraktivitas di sawah sendirian dan memilih untuk berkelompok demi menghindari potensi bahaya serupa.
Tak hanya itu, peristiwa ini juga memicu diskusi hangat di kalangan netizen dan warganet mengenai pengawasan peredaran senjata api ilegal di Indonesia. Banyak yang mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk lebih tegas memberantas peredaran senjata api gelap yang seringkali menjadi biang keladi dari kecelakaan fatal semacam ini.
Kini, Sutrisno yang masih dalam masa pemulihan berharap bisa segera kembali beraktivitas normal meskipun trauma mendalam masih membayangi pikirannya. Ia mengaku akan lebih berhati-hati dan waspada dalam menjalani aktivitas sehari-hari, terutama saat berada di area terbuka seperti sawah. “Saya sudah mempelajari pelajaran berharga: keselamatan harus diutamakan di atas segalanya,” tutupnya dengan senyum yang terpaksa merekah di balik perban yang masih membalut wajahnya.
Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua, dan semoga Sutrisno segera pulih total serta pelaku segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya! Pantau terus perkembangan kasus ini hanya di Desapenari.id!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

