BANJAR, Desapenari.id – Aksi heroik helikopter water bombing dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan ternyata menyisakan duka mendalam bagi seorang warga Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Bagaimana tidak, kolam pemancingan miliknya yang menjadi tumpuan hidup keluarga justru dikorbankan demi menjinakkan si jago merah yang tengah mengamuk di sejumlah wilayah Kalsel.
Bayangkan, helikopter pemadam itu terus-menerus menyedot air dari kolam milik Ahmad Jailani tanpa permisi! Tindakan nekat tersebut terpaksa dilakukan lantaran sumber air di sekitar lokasi kebakaran sangat terbatas. Akibatnya, volume air di kolam pemancingan itu menyusut drastis dalam sekejap.
Padahal, di dalam kolam tersebut tengah berkembang biak sekitar 2 ton ikan dengan berbagai jenis yang menjadi kebanggaan Jailani. Sungguh memilukan nasib yang menimpa pria paruh baya ini!
SUMBER AIR KOLAM DISEDOT PAKSA DEMI WATER BOMBING
Siapa sangka, peristiwa nahas itu terjadi pada Kamis (27/8/2026) lalu. Helikopter pemadam datang bergantian mengisap air dari kolam milik Jailani tanpa memberi tahu pemiliknya terlebih dahulu. Pengambilan air berlangsung beberapa kali hingga membuat para pekerja kolam hanya bisa geleng-geleng kepala melihat volume air yang terus menurun.
Bahkan, ketika helikopter melintas di atas kolam, Jailani bersama anak buahnya sudah berusaha memberi kode agar heli tidak mengambil air di tempat tersebut. Mereka melambaikan tangan dan memberi isyarat dengan penuh harap agar sumber kehidupan ini tidak digunakan. Namun, semua upaya itu sia-sia belaka! Sang pilot rupanya tetap ngotot mengambil air dari kolam tersebut seolah tak peduli dengan nasib ikan-ikan yang ada di dalamnya.
“Kami sudah kasih kode jelas agar mereka tidak mengambil air di kolam ini. Tapi mereka tetap nekat mengambilnya,” ujar Jailani dengan nada kecewa saat ditemui Jumat (28/8/2026). Betapa pahitnya rasanya ketika usaha mempertahankan sumber kehidupan justru diabaikan begitu saja!
2 TON IKAN MATI SIAR-SIAR, PEMILIK KOLAM MERANA
Jailani menjelaskan dengan nada sendu bahwa kolam tersebut sengaja ia kelola khusus sebagai tempat pemancingan umum. Di dalamnya terdapat sekitar 2 ton ikan dengan beragam jenis seperti nila, mas, patin, dan mujair. Namun, kedatangan helikopter water bombing yang terus-menerus menyedot air membuat kondisi kolam berubah total dalam waktu singkat.
Yang lebih memprihatinkan, ikan-ikan yang tadinya sehat dan lincah mulai stres berat karena debit air menurun drastis. Tak hanya stres, banyak di antaranya yang mati mengapung di permukaan kolam! Pemandangan menyedihkan itu tentu membuat hati Jailani tersayat-sayat.
“Kolam saya ini memang khusus untuk usaha pemancingan, dan isinya sekitar 2 ton ikan berbagai jenis. Karena ulah helikopter tadi, ikan-ikan jadi stres dan banyak yang mati sia-sia,” keluh Jailani dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana tidak, matinya ikan-ikan tersebut berarti pundi-pundi pendapatan keluarganya ikut melayang!
KEMARAU PANJANG, JAILANI RELA KELUAR UANG JUTAAN DEMI IKAN
Yang membuat cerita ini semakin tragis, Jailani ternyata sudah berjuang mati-matian mempertahankan kolamnya selama musim kemarau. Sejak 2010 ia mengelola tempat pemancingan ini, dan setiap tahun pasti menghadapi tantangan serupa saat musim panas tiba.
Demi menjaga agar ikan-ikan tetap bertahan hidup, Jailani nekat mengisi air kolam menggunakan mobil pikap yang dilengkapi tandon air. Setiap kali mengangkut air, ia harus mengeluarkan uang Rp 600.000 dari kantong sendiri! Jumlah yang tidak sedikit bagi warga biasa.
“Selama kemarau panjang ini, kami berusaha mati-matian mempertahankan debit air dengan mengisi menggunakan mobil pikap plus tandon air. Sekali angkut saja, saya harus merogoh kocek Rp 600.000,” beber Jailani sambil menghela napas panjang.
Tapi apa daya? Usaha kerasnya selama berbulan-bulan harus sirna dalam hitungan jam karena helikopter water bombing terus menggerogoti persediaan air yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah. Ironis sekali, bukan?
KERUGIAN MENGERIKAN, JAILANI SIAP GUGAT BNPB!
Tak pelak lagi, peristiwa ini membuat Jailani mengalami kerugian yang tidak sedikit. Selain biaya pengangkutan air yang membengkak, ikan-ikan yang mati juga menyebabkan ia kehilangan sumber pendapatan utama keluarganya. Betapa tidak, kolam pemancingan tersebut selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangganya.
Kini, Jailani masih sibuk menghitung total kerugian yang dideritanya akibat berkurangnya air kolam dan banyaknya ikan yang mati. Tapi yang jelas, ia sudah bertekad bulat untuk meminta pertanggungjawaban dan ganti rugi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku pihak yang mengoperasikan helikopter water bombing tersebut.
“Siapa yang bertanggung jawab untuk mengganti kerugian kami? Air ini kami dapat dengan biaya sendiri, kami langsir dengan susah payah supaya ikan tetap bertahan. Sekarang airnya habis lagi dan ikannya stres berat!” pungkas Jailani dengan nada penuh kekecewaan.
ANTARA KEBUTUHAN DAN KEPEDULIAN
Di sisi lain, pengoperasian helikopter water bombing ini memang masih terus dilakukan untuk membantu pemadaman kebakaran di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Keterbatasan sumber air menjadi kendala utama yang membuat petugas terpaksa memanfaatkan kolam pemancingan milik warga sebagai lokasi pengambilan air.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah pengorbanan Jailani ini sebanding dengan upaya pemadaman yang dilakukan? Tentu kita semua berharap agar ada solusi bijak yang tidak merugikan salah satu pihak. Pemerintah dan BNPB diharapkan dapat memberikan kompensasi yang layak atas kerugian yang diderita masyarakat seperti Jailani.
Situasi darurat karhutla memang membutuhkan tindakan cepat, namun hal itu seharusnya tidak mengabaikan nasib warga yang juga berjuang mempertahankan mata pencahariannya. Semoga kisah pilu ini menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak agar lebih bijak dalam mengambil kebijakan di masa mendatang.
Apakah kompensasi akan segera diberikan? Atau nasib Jailani hanya akan menjadi cerita pilu yang terlupakan? Kita nantikan langkah selanjutnya dari BNPB dan pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan ini. Yang jelas, semoga kebakaran segera padam dan tidak ada lagi korban berjatuhan, baik manusia maupun hewan peliharaan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

