Desapenari.id – Bayangkan, kebun raya terbesar di Sumatera Selatan tiba-tiba berubah jadi lautan api! Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyerang kawasan Kebun Raya Sriwijaya di Kabupaten Ogan Ilir, dan luas area yang hangus terbakar mencapai sekitar 30 hektare. Peristiwa dahsyat ini berlangsung selama berjam-jam, tepatnya sejak Jumat (4/9/2026) siang hingga malam hari. Namun, berkat kerja keras tim gabungan di lapangan, api akhirnya berhasil dijinakkan. Meski begitu, pemandangan asap tebal yang membumbung tinggi masih menyisakan kekhawatiran bagi warga sekitar.
Api Membara di Bawah Tanah, Kenapa Begitu Sulit Dipadamkan?
Kepala Balai Dalkarhut Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan bahwa kebakaran ini bukan sekadar kebakaran biasa. Ia menjelaskan, karakteristik lahan yang terbakar bukan tanah mineral, melainkan gambut dalam yang menyimpan potensi bahaya lebih besar. “Luasan lahan Kebun Raya Sriwijaya yang terbakar mencapai 30-an hektare,” ujarnya dengan nada serius saat ditemui pada Sabtu (5/9/2026). Menurutnya, kondisi ini menjadi tantangan berat bagi petugas pemadam karena api tidak hanya menjalar di permukaan, tetapi juga merambat ke bawah tanah.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, kenapa api di lahan gambut begitu sulit dipadamkan? Nah, salah satu penyebab utamanya adalah kedalaman gambut yang mencapai 1,5 meter di kawasan Kebun Raya Sriwijaya. Kondisi ini membuat api seperti “bersembunyi” di dalam lapisan tanah yang kaya akan bahan organik. Akibatnya, meski api di permukaan sudah terlihat padam, bara panas tetap bertahan di bawah permukaan dan bisa menyala kembali sewaktu-waktu. Tim Manggala Agni yang bertugas di lokasi pun harus ekstra waspada karena setiap percikan kecil bisa memicu kebakaran ulang.
Ferdian menambahkan, proses pemadaman membutuhkan kesabaran ekstra karena gambut yang terbakar tidak bisa dipadamkan hanya dengan siraman air biasa. “Gambut dalam dan bahan bakaran melimpah. Butuh waktu untuk pemadaman karena gambut. Harus benar-benar memastikan pemadaman tuntas,” tegasnya. Tim pemadam pun menggunakan teknik pembasahan mendalam dan pembuatan sekat kanal agar air bisa meresap hingga ke lapisan paling bawah. Setiap titik api diperiksa berulang kali untuk memastikan tidak ada sisa bara yang tertinggal.
Asap Tebal Menyebar 10 Kilometer, Warga Mulai Resah!
Tak hanya api, asap tebal yang dihasilkan juga menjadi momok tersendiri. Dari hasil pantauan udara tim Manggala Agni, asap terlihat membumbung tinggi dan menyebar hingga radius 10 kilometer dari lokasi kebakaran. Artinya, warga di beberapa kecamatan sekitar Ogan Ilir mulai merasakan bau hangus dan gangguan pernapasan. Kondisi ini tentu sangat meresahkan, apalagi jika angin bertiup kencang membawa asap ke pemukiman padat penduduk. Kualitas udara pun menjadi perhatian serius, karena dampak jangka panjang dari kabut asap bisa mengancam kesehatan masyarakat.
Namun, jangan khawatir! Tim Satgas Karhutla yang terdiri dari unsur gabungan bergerak cepat dan maksimal mengendalikan api di lokasi kejadian. Mereka tidak hanya menyiramkan air langsung ke titik api, tetapi juga melakukan pendinginan lahan dengan cara menyemprotkan air dalam volume besar ke area gambut yang terbakar. Selain itu, petugas juga membuat parit-parit kecil untuk mencegah api merambat ke area yang masih hijau. Semua upaya ini dilakukan dengan penuh koordinasi agar pemadaman berjalan efektif dan efisien.
Tim Tetap Siaga 24 Jam, Waspadai Kebakaran Susulan!
Ferdian kembali menegaskan bahwa meskipun api sudah berhasil dikendalikan, timnya tidak akan langsung pulang begitu saja. “Tim tetap berada di lokasi untuk mencegah terjadinya kebakaran susulan,” ucapnya dengan tegas. Para petugas pun terus memantau kondisi lahan, terutama saat malam hari ketika angin bertiup lebih kencang. Mereka juga bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk melaporkan jika ada tanda-tanda munculnya asap atau bara di titik-titik rawan.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi kita semua betapa rawan lahan gambut di musim kemarau. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak membakar lahan secara sembarangan. Pemerintah daerah pun diharapkan terus mengedukasi masyarakat tentang bahaya karhutla dan pentingnya pencegahan dini. Semoga kejadian serupa tidak terulang lagi, dan Kebun Raya Sriwijaya bisa segera pulih seperti sedia kala. Tetap waspada, karena keselamatan kita semua ada di tangan kita sendiri!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

