BEIRUT, Desapenari.id – Pernahkah Anda membayangkan duduk santai di rumah, lalu tiba-tiba seluruh bangunan bergetar hebat seperti diterjang gempa bumi? Itulah yang dialami warga Lebanon selatan pada Kamis (10/9/2026), ketika militer Israel melancarkan operasi besar-besaran untuk menghancurkan jaringan terowongan rahasia milik Hizbullah. Ledakan dahsyat itu tidak hanya menghancurkan fasilitas bawah tanah, tetapi juga memicu guncangan yang setara dengan gempa berkekuatan magnitudo 4,1!
Guncangan Hebat Guncang Lebanon Selatan
Guncangan hebat tersebut langsung dirasakan oleh warga lokal setelah militer Israel merobohkan fasilitas bawah tanah di kawasan strategis Punggung Bukit Ali al-Taher, wilayah Nabatieh. “Kami sedang duduk di sana dan semuanya bergetar,” kata Joelle Fares, seorang warga yang baru saja pindah ke Majayoun, kepada AFP. Bayangkan saja, bagaimana rasanya berada di tengah-tengah operasi militer besar yang mengguncang tanah di bawah kaki Anda?
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan getaran bermagnitudo 4,1 terjadi di area tersebut, sebagaimana dilansir France24. Sementara itu, kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), mengabarkan bahwa Israel melakukan ledakan masif di Punggung Bukit Ali al-Taher yang menyebabkan getaran dan suara gemuruh yang kuat. Jurnalis AFP di Lebanon selatan juga mengonfirmasi mendengar ledakan-ledakan besar pada Kamis malam. Sungguh malam yang menegangkan bagi warga di sana!
Israel Klaim Hancurkan Infrastruktur Strategis Hizbullah
Penghancuran fasilitas bawah tanah ini dikonfirmasi langsung oleh pimpinan tertinggi Israel melalui pernyataan bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz. “Ini adalah infrastruktur teroris strategis yang dibangun selama dua dekade, dengan pendanaan dan perencanaan Iran,” kata Netanyahu dan Katz dalam pernyataan bersama mereka. Pernyataan ini menegaskan bahwa operasi tersebut bukan sekadar serangan biasa, melainkan bagian dari strategi besar untuk melumpuhkan kekuatan Hizbullah.
Menurut keterangan tentara Israel, infrastruktur bawah tanah Hizbullah ini membentang lebih dari 2 kilometer. Kompleks tersebut juga mencakup pusat komando unit “Badr” milik Hizbullah. Di dalam jaringan terowongan itu, ditemukan puluhan roket, rudal, dan drone buatan Iran, serta senapan mesin, puluhan rudal anti-tank, dan ratusan ranjau serta bahan peledak. Sungguh persenjataan yang luar biasa banyaknya! Seorang pejabat militer menceritakan kepada AFP mengenai nasib para anggota kelompok tersebut di lokasi kejadian. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban dari pihak Hizbullah.
Mengapa Operasi Ini Begitu Penting?
Operasi penghancuran terowongan ini menjadi bukti nyata bahwa konflik di Timur Tengah masih sangat panas. Israel mengklaim bahwa terowongan tersebut merupakan infrastruktur strategis yang dibangun selama dua dekade dengan dukungan Iran. Jika benar, maka ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi Israel dari Hizbullah. Namun, di sisi lain, warga sipil di Lebanon selatan harus menanggung dampak langsung dari operasi militer ini. Mereka merasakan getaran yang luar biasa, mendengar suara gemuruh yang mengerikan, dan tentu saja diliputi rasa takut akan eskalasi konflik yang lebih besar.
Dampak bagi Warga Sipil dan Reaksi Internasional
Joelle Fares, warga yang baru pindah ke Majayoun, menggambarkan pengalamannya dengan jelas: “Kami sedang duduk di sana dan semuanya bergetar.” Kalimat sederhana ini menggambarkan betapa mencekam situasi saat itu. Bayangkan jika Anda berada di posisi mereka—duduk di rumah, tiba-tiba tanah bergetar, jendela bergetar, dan Anda tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah itu gempa bumi? Atau serangan militer? Ketidakpastian seperti ini tentu sangat menakutkan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Lebanon mengenai operasi ini. Namun, kantor berita resmi Lebanon, NNA, telah mengabarkan bahwa Israel melakukan ledakan masif di Punggung Bukit Ali al-Taher. Sementara itu, USGS melaporkan getaran bermagnitudo 4,1 di area tersebut. Ini menunjukkan bahwa dampak dari operasi militer ini terdeteksi hingga ke tingkat internasional, bahkan oleh badan geologi Amerika Serikat.
Menurut tentara Israel, di dalam jaringan terowongan itu ditemukan puluhan roket, rudal, dan drone buatan Iran, serta senapan mesin, puluhan rudal anti-tank, dan ratusan ranjau serta bahan peledak. Ini bukanlah jumlah yang sedikit! Bayangkan betapa besarnya kekuatan militer yang tersimpan di bawah tanah. Jika semua persenjataan itu digunakan, bisa jadi ancaman yang sangat serius bagi Israel. Namun, apakah benar semua itu ada di sana? Atau ini hanya klaim sepihak dari Israel? Hingga saat ini, belum ada bukti independen yang memverifikasi klaim tersebut.
Seorang pejabat militer menceritakan kepada AFP mengenai nasib para anggota kelompok tersebut di lokasi kejadian. Namun, detailnya masih belum jelas. Apakah mereka berhasil melarikan diri? Atau mereka terjebak di dalam terowongan saat ledakan terjadi? Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban dari pihak Hizbullah. Yang jelas, operasi ini merupakan pukulan besar bagi Hizbullah, karena mereka kehilangan infrastruktur strategis yang dibangun selama dua dekade.
Operasi penghancuran terowongan Hizbullah oleh Israel pada Kamis (10/9/2026) menjadi salah satu peristiwa paling dramatis dalam konflik Timur Tengah belakangan ini. Ledakan dahsyat yang memicu guncangan setara gempa magnitudo 4,1 mengguncang Lebanon selatan dan membuat warga sipil ketakutan. Israel mengklaim bahwa terowongan tersebut merupakan infrastruktur strategis yang dibangun dengan dukungan Iran, sementara warga sipil merasakan dampak langsungnya. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai korban dari pihak Hizbullah. Yang jelas, operasi ini menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah masih sangat dinamis dan penuh ketegangan. Kita hanya bisa berharap agar situasi tidak semakin memburuk dan warga sipil tidak menjadi korban lebih lanjut.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

