Desapenari.id – Meskipun gelombang laut Pesisir Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menyajikan limpahan hasil laut luar biasa, fakta mengejutkan justru menghantam para nelayan lokal. Pada umumnya, fenomena panen raya selalu membawa keberkahan bagi keluarga nelayan di sepanjang pantai. Namun demikian, realita pahit saat ini malah memutarbalikkan ekspektasi manis tersebut menjadi kabar menyedihkan. Ketika jaring kapal kembali ke daratan dengan muatan penuh, keceriaan itu mendadak sirna akibat ancaman krisis ekonomi pesisir.
Akibat fenomena pasokan meluap ini, para nelayan Pangandaran justru harus menelan pil pahit lantaran harga jual berbagai komoditas laut anjlok drastis. Di samping harus menghadapi kenyataan bahwa harga komoditas terjun bebas, para pencari nafkah laut ini mengeluhkan betapa sulitnya menemukan pembeli hasil kerja keras mereka. Padahal, para nelayan sudah mempertaruhkan nyawa dan menghabiskan modal solar tidak sedikit demi membawa pulang hasil laut segar tersebut.
Salah satu nasib paling tragis dialami langsung para pencari udang krosok yang mendapati harga jual tangkapan mereka hancur di pasaran. Saat ini, para pengepul hanya berani menghargai udang krosok di kisaran angka Rp 20.000 per kilogram. Padahal, pada periode sebelumnya, udang krosok segar masih mampu menembus harga sekitar Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per kilogram. Penurunan drastis ini tentu langsung memotong habis keuntungan bersih nelayan.
Oleh sebab itu, situasi pelik ini memaksa nelayan Pangandaran menghadapi gempuran persoalan ganda yang sangat memberatkan langkah mereka. Di satu sisi harga komoditas merosot tajam menggerus modal operasional, sementara di sisi lain hasil tangkapan melimpah tersebut tidak terserap pasar lokal. Keadaan ini jelas memperburuk kondisi udang krosok yang tergolong sebagai komoditas mudah membusuk jika tidak segera terjual.
Seorang nelayan veteran Pangandaran, Edi Siswadi (47), membeberkan bahwa volume tangkapan udang krosok di laut sebenarnya sedang memasuki masa keemasan melimpah. Namun demikian, keberuntungan alam tersebut sama sekali tidak berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan ekonomi keluarga. Sebaliknya, para nelayan justru berada dalam posisi serba salah karena pembeli bahan pangan laut mendadak hilang dari areal pelelangan.
Menurut penuturan Edi secara mendalam, keberadaan para bakul atau tengkulak yang biasanya sigap menampung hasil tangkapan laut kini berkurang drastis dari area dermaga. Selain jumlah bakul menyusut tajam, kapasitas daya beli dari bakul tersisa pun terpangkas sangat signifikan. Kondisi rantai pasok terputus ini akhirnya membuat pasokan udang krosok menumpuk tanpa kepastian penyaluran ke pasar konsumen.
“Sudah susah jual, bakul juga jarang yang beli. Mungkin mereka bingung untuk menjualnya,” ungkap Edi dengan nada prihatin saat menggambarkan kebuntuan pasar pada Senin (21/9/2026). Pernyataan jujur dari Edi ini menegaskan betapa rantai perdagangan dari tingkat tengkulak hingga pasar konsumen sedang mengalami kemacetan total, sehingga pedagang perantara ikut menghentikan transaksi pembelian.
Hasil Tangkapan Banyak, Pasar Justru Sulit
Secara bersamaan, krisis penyerapan pasar yang memprihatinkan ini langsung memancing perhatian serius dari pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran. Organisasi nelayan tersebut langsung menerjunkan tim untuk memantau secara intensif seluruh aktivitas transaksi pelelangan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang beroperasi di bawah naungan KUD Minasari. Pemantauan ini bertujuan mencari jalan keluar darurat.
Lantas, Ketua HNSI Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, menyaksikan secara langsung pemandangan memilukan berupa gunungan tumpukan udang krosok segar di areal pelelangan. Berkarung-karung udang hasil keringat nelayan tersebut hanya teronggok di sudut TPI tanpa tersentuh satu pun pembeli potensial. Pemandangan kontras antara melimpahnya rezeki laut dan ketiadaan pembeli ini menciptakan suasana haru kawasan pesisir.
“Coba bayangkan, ini enggak ada yang beli, enggak laku. Sedih saya,” pukas Jeje dengan nada penuh keprihatinan saat melihat perjuangan nelayan. Wajah lesu para nelayan yang berdiri mengelilingi tangkapan makin menambah keprihatinan Jeje terhadap rapuhnya sistem tata niaga hasil laut lokal saat menghadapi lonjakan pasokan yang mendadak.
Selanjutnya, Jeje menegaskan bahwa musibah kemacetan pasar ini ternyata tidak hanya melanda komoditas udang krosok semata di kawasan pelelangan Pangandaran. Beberapa jenis komoditas tangkapan laut lainnya, termasuk ikan pukudian, turut menelan nasib serupa karena sepi peminat. Meskipun begitu, komoditas ikan layur dilaporkan tetap memiliki daya serap pasar yang cukup kuat dengan harga relatif stabil.
“Kalau layur harganya stabil, nelayan tersenyum. Tapi udang krosok sekarang tidak dilirik pembeli,” tambah Jeje sembari membandingkan nasib nelayan spesialis ikan ekspor dengan pencari udang krosok lokal. Perbandingan ini menunjukkan betapa komoditas laut pasokan domestik sangat rentan terhadap goncangan harga, sedangkan komoditas ekspor seperti ikan layur masih sanggup memberikan angin segar.
Di tengah situasi darurat yang membayangi nelayan tersebut, pengurus KUD Minasari akhirnya mengambil langkah ksatria dengan membeli seluruh sisa tangkapan udang krosok yang menumpuk. Langkah cepat ini diambil demi mencegah kerugian total bagi para nelayan. Menariknya, seluruh udang krosok yang telah dibeli oleh pihak koperasi tersebut tidak dijual kembali, melainkan langsung dibagikan secara gratis kepada warga sekitar.
“Sebagai bentuk tanggung jawab, maka dibeli oleh KUD Minasari. Barang ini dibawa untuk dibagikan,” tegas Jeje saat mengakhiri penjelasannya mengenai aksi kemanusiaan tersebut. Keputusan taktis ini tidak hanya berhasil meringankan beban finansial para nelayan Pangandaran yang terpukul, tetapi juga membuktikan betapa solidaritas antarelemen pesisir mampu menjadi benteng pertahanan terakhir di saat krisis.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

