Desapenari.id – Kabar mengejutkan mendadak mengguncang warga di kawasan pegunungan Kabupaten Bandung Barat, di mana suasana tenang kini mendadak berubah menjadi kepanikan yang sangat mencekam bagi warga sekitar. Tak tanggung-tanggung, sebanyak sepuluh unit bangunan rumah tempat tinggal yang dihuni oleh setidaknya sebelas kepala keluarga di kawasan Kampung Cisarua Hilir, RT 04 RW 03, Desa Sadangmekar, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, saat ini berada dalam bayang-bayang ancaman maut akibat potensi bencana tanah longsor susulan yang sewaktu-waktu bisa meruntuhkan permukiman mereka.
Sebab, rasa takut yang luar biasa tersebut mulai membayangi benak warga setempat secara mendadak tepat setelah musibah tebing ambrol menghantam kawasan pemukiman mereka pada hari Selasa malam (27/10/2026) yang lalu, persisnya sekitar pukul 19.30 WIB ketika sebagian besar warga tengah bersiap istirahat di dalam rumah.
Selain itu, tim ahli di lokasi kejadian mengonfirmasi bahwasanya kondisi hamparan tanah di sekitar pemukiman warga tersebut masih tergolong sangat rawan dan terus mengalami pergerakan konstan. Terlebih lagi, para petugas kebencanaan mendapati adanya jalur retakan tanah yang menganga sangat panjang hingga membentang sepanjang kurang lebih 50 meter di bagian lereng perbukitan tersebut.
Berdasarkan hasil kalkulasi teknis serta proses asesmen cepat yang dilaksanakan oleh jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, bidang tebing yang runtuh tersebut ternyata memiliki dimensi yang sangat fantastis, yakni berketinggian mencapai 30 meter dengan lebar mahkota longsoran yang membentang hingga 40 meter. Oleh sebab itu, munculnya retakan tanah yang memanjang tersebut menjadi pertanda yang sangat berbahaya karena mengindikasikan bahwasanya potensi pergerakan massa tanah susulan masih sangat tinggi dan siap menggilas kawasan perumahan warga yang berada tepat di bawahnya.
Menanggapi situasi darurat yang kian memprihatinkan ini, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung Barat, Yoga Ali Imbran, menegaskan bahwasanya lokasi bahaya tersebut saat ini secara langsung mengancam keberadaan sepuluh unit rumah warga yang dihuni oleh total sebelas kepala keluarga.
“Musibah pergerakan material longsoran ini memang secara nyata mengancam keselamatan sepuluh rumah warga yang dihuni sebelas KK. Bahkan, untuk menyikapi kondisi kritis saat ini, penghuni dari satu unit rumah yang ditinggali oleh keluarga Pak Eyep bersama Ma Ari sudah kami evakuasi untuk mengungsi ke tempat kediaman kerabat dekat mereka,” kata Yoga saat menyampaikan rincian informasi terbaru mengenai kondisi di lapangan.
Oleh karena itu, bangunan rumah tinggal yang memuat dua kepala keluarga tersebut, yaitu rombongan keluarga Pak Eyep serta Ma Ari, kini terpaksa ditinggalkan kosong oleh pemiliknya demi menghindari risiko fatal dari ancaman tergulung material longsor susulan.
Warga Wajib Segera Kabur dan Mengungsi Apabila Hujan Deras Kembali Mengguyur!
Selanjutnya, jajaran petugas BPBD menduga kuat bahwasanya pemicu utama dari runtuhnya lereng perbukitan ini berasal dari curahan hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Cisarua secara terus-menerus selama beberapa hari terakhir. Di samping itu, karakteristik struktur tanah di sekitar area lokasi yang relatif sangat gembur serta labil secara langsung ikut memperbesar risiko terjadinya pergerakan massa tanah di sekitar lingkungan permukiman warga.
Oleh sebab itu, para petugas gabungan segera meluncurkan langkah asesmen cepat guna memetakan seluruh dampak kerusakan sekaligus mengidentifikasi titik-titik lokasi rawan yang bisa menimbulkan bahaya lanjutan. Tak hanya itu, pihak BPBD juga menginstruksikan pengurus lingkungan setempat agar segera mengaktifkan kembali kegiatan sistem keamanan lingkungan berupa ronda malam guna memantau perkembangan pergerakan tanah secara arif dan cermat setiap saat.
Lebih lanjut, Yoga mewanti-wanti secara tegas kepada seluruh masyarakat yang mendiami kawasan berisiko tinggi tersebut agar tidak nekat memaksakan diri bertahan di dalam rumah manakala hujan deras kembali mengguyur kawasan perbukitan tersebut. Terlebih lagi, apabila para warga mulai mendapati adanya petunjuk fisik pergerakan tanah atau menyaksikan retakan yang ada semakin membentang lebar.
“Kami meminta dengan sangat agar seluruh warga yang bermukim di area rawan segera mengamankan diri serta mengungsi ke kediaman sanak saudara terdekat apabila guyuran hujan kembali melanda kawasan ini, terutama jika masyarakat melihat adanya tanda-tanda pergeseran tanah atau celah retakan yang kian meluas,” tutur Yoga penuh penekanan saat mengimbau warga.
Akses Jalan Utama Menuju Lokasi Bencana Ternyata Alami Kendala Cukup Berat!
Namun demikian, selain ancaman fisik berupa tanah longsor yang terus menghantui perumahan warga, rupanya medan jalan serta akses moda transportasi menuju ke pusat lokasi kejadian juga mengalami kendala yang amat serius sehingga memunculkan tantangan besar dalam seluruh rangkaian proses penanganan bencana di lapangan.
Oleh karena itu, pihak BPBD Kabupaten Bandung Barat langsung merangkum daftar kebutuhan paling mendesak yang sangat dibutuhkan oleh para warga terdampak bencana saat ini, di mana kebutuhan darurat tersebut dicakup oleh penyediaan lembaran terpal plastik berukuran besar untuk menutup retakan, ribuan karung tanah guna membendung erosi, serta pasokan bahan pokok logistik harian bagi para pengungsi.
Meskipun demikian, hingga memasuki waktu Rabu petang (28/10/2026), besaran nilai total kerugian materiil akibat dari musibah pergerakan tanah ini masih terus dihitung secara terperinci oleh tim penilai risiko bencana BPBD.
Akhirnya, jajaran BPBD tidak pernah berhenti menyerukan imbauan kepada seluruh lapisan masyarakat agar selalu mengencangkan tingkat kewaspadaan dan kesiapsiagaan diri, mengingat kondisi kestabilan tanah di sekitar lereng bukit tersebut masih sangat belum stabil serta keberadaan retakan panjang yang mengancam dapat memicu musibah longsor susulan yang jauh lebih besar sewaktu-waktu.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

