Desapenari.id – Warga Banjar Sumbersari, Desa/Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, mendadak gempar dan dilanda kecemasan luar biasa akibat aksi teror mematikan dari seekor anjing liar yang mengamuk. Pasalnya, hewan liar yang belakangan ini resmi terkonfirmasi positif terjangkit virus rabies tersebut nekat menyerang dua warga setempat secara beringas hanya dalam kurun waktu satu hari saja. Akibat insiden horor yang sangat mengejutkan publik ini, suasana permukiman warga langsung berubah menjadi amat mencekam lantaran bayang-bayang bahaya rabies yang sanggup merenggut nyawa manusia kapan saja.
Oleh karena itu, seluruh masyarakat desa merasa sangat terkejut sewaktu rentetan peristiwa mengerikan tersebut terjadi pada Sabtu (24/10/2026) lalu. Bahkan, anjing liar berbahaya itu melancarkan gelombang serangannya dalam dua waktu yang berbeda, yakni pada saat suasana pagi hari yang tenang dan ketika menjelang sore hari. Alhasil, warga sekitar sama sekali tidak sempat mengantisipasi kedatangan hewan agresif yang berkeliaran bebas tanpa pengawasan di area permukiman tersebut.
Pada gelombang serangan pertama, anjing dewasa yang memiliki ciri fisik berbulu warna putih abu-abu tersebut menyasar Ni Ketut Sutari yang tengah beraktivitas di pagi hari. Tanpa menunjukkan gejala peringatan awal, anjing liar yang tampak linglung namun sangat agresif itu langsung menerjang cepat dan menggigit bagian kaki korban hingga luka-luka. Tak heran, insiden mendadak di pagi hari ini langsung membuat korban beserta para tetangganya panik dan ketakutan setengah mati.
Meskipun korban mengalami shock yang berat, penanganan medis darurat segera ditempuh oleh pihak kesehatan demi menyelamatkan jiwa Ni Ketut Sutari dari ancaman infeksi fatal. Selanjutnya, tim medis instansi kesehatan setempat langsung memberikan suntikan berupa Vaksin Anti Rabies (VAR) guna memicu sistem kekebalan tubuh korban agar mampu melawan gempuran virus berbahaya tersebut. Menurut panduan medis dan kesehatan publik, pemberian VAR pada tahap awal ini menjadi langkah proteksi yang sangat krusial untuk menghentikan replikasi virus sebelum sempat merusak jaringan saraf korban.
Namun sayangnya, teror mencekam yang menakutkan tersebut ternyata belum berakhir begitu saja, sebab anjing liar tanpa pemilik itu kembali mengamuk liar pada sore harinya. Kali ini, hewan ganas tersebut mengincar target warga lainnya, yakni Ni Putu Sekarini, yang kebetulan sedang berada di area terbuka dekat lokasi kejadian. Ironisnya, serangan gelombang kedua ini berakibat jauh lebih mengerikan, lantaran sang anjing liar langsung menerkam dan melayangkan gigitan ganasnya tepat di bagian wajah korban.
Oleh sebab itu, para petugas medis langsung mengambil tindakan darurat skala tinggi karena luka gigitan fatal tersebut berada di area tubuh yang berisiko sangat tinggi. Berdasarkan penjelasan pakar epidemiologi dan spesialis kesehatan, luka gigitan rabies pada area wajah atau kepala tergolong sangat berbahaya karena jaraknya sangat dekat dengan otak sebagai pusat sistem saraf utama manusia. Akibat kondisi yang sangat kritis dan berpacu dengan waktu ini, Sekarini wajib menerima penanganan ekstra intensif berupa suntikan Serum Anti Rabies (SAR) guna menyuplai antibodi siap pakai yang mampu menetralkan virus rabies secara instan di area luka.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Pastikan Anjing Positif Rabies
Sementara itu, guna memastikan penyebab utama dari perilaku yang sangat agresif dari anjing liar tersebut, tim terkait segera mengamankan bangkai hewan itu dan mengirimkan spesimen otaknya ke laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar. Langkah pengujian spesimen laboratorium ini merupakan standar baku profesional dan ilmiah yang wajib dijalankan oleh otoritas veteriner guna menegakkan diagnosis pasti mengenai infeksi virus rabies. Dengan demikian, pengujian laboratorium ini memberikan kepastian berbasis bukti ilmiah kepada masyarakat dan jajaran dinas terkait.
Alhasil, hasil pengujian laboratorium spesialis dari lembaga BBVet Denpasar keluar dan secara sah memastikan bahwa Hewan Penular Rabies (HPR) tersebut memang positif terinfeksi rabies. Dari hasil pemeriksaan mikroskopis dan sampel jaringan otak hewan tersebut, para ahli veteriner menemukan konfirmasi keberadaan virus rabies yang terbukti merusak sistem saraf otak anjing sehingga memicu sifat ganas dan hilang kendali.
Di samping itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, turut membenarkan serta mengonfirmasi hasil pemeriksaan laboratorium yang menegangkan tersebut saat dimintai keterangan oleh awak media. Pihaknya menegaskan bahwa instansi terkait telah menerima laporan resmi dari BBVet Denpasar yang membuktikan kekhawatiran warga selama ini pada Jumat (30/10/2026).
“Nggih, positif rabies (anjing yang serang dua warga Melaya),” ujar Sugiarta menegaskan kebenaran kasus tersebut secara terbuka saat memberikan keterangan resmi kepada media pada Jumat (30/10/2026). Melalui pernyataan resminya, pihak dinas mengingatkan seluruh warga agar senantiasa waspada dan tidak pernah meremehkan setiap gigitan hewan penular rabies sekecil apa pun di lingkungan tempat tinggal mereka.
Oleh karena itu, kepastian ilmiah dari hasil pengujian laboratorium ini secara langsung memperkuat dugaan awal para petugas kesehatan hewan dan masyarakat setempat yang sejak awal telah mencurigai anjing liar tersebut terjangkit rabies. Lagipula, pola serangan ganas tanpa provokasi serta perubahan perilaku ekstrem pada anjing itu memang menunjukkan gejala klinis klasik dari rabies stadium lanjut yang sangat berpotensi mematikan.
Pemkab Jembrana Vaksinasi 21 Hewan
Sebagai bentuk respons cepat dan langkah mitigasi darurat pasca-kejadian mencekam tersebut, tim Petugas Kesehatan Hewan (Keswan) Jembrana langsung bergerak menyisir lokasi dengan menerjunkan tim vaksinator ke Banjar Sumbersari. Langkah nyata ini sengaja diambil oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana demi membendung dan memutus rantai penularan virus mematikan agar tidak menyebar lebih luas ke pemukiman warga lainnya.
Maka dari itu, kegiatan vaksinasi rabies darurat (emergency vaccination) secara masif langsung dilaksanakan oleh petugas lapangan dalam kurun waktu dua hari pasca-serangan tragis tersebut terjadi. Tim Keswan bergerak cepat dari rumah ke rumah untuk memberikan perlindungan imunisasi kepada sebanyak 21 hewan penular rabies (HPR) yang dipelihara warga maupun yang berkeliaran di sekitarnya.
Selain itu, dari total 21 ekor hewan yang berhasil divaksinasi oleh tim medis veteriner di lapangan, sebagian besar atau sebanyak 20 ekor di antaranya merupakan populasi anjing milik warga sekitar. Sementara itu, satu ekor hewan penular rabies lainnya yang juga mendapatkan suntikan vaksin pencegahan dalam aksi darurat tersebut adalah seekor kucing.
Selanjutnya, Sugiarta menerangkan bahwa aksi vaksinasi darurat ini merupakan prosedur operasional standar pencegahan epidemi yang wajib dijalankan untuk melokalisasi wilayah temuan kasus positif rabies. Langkah pencegahan masif ini ditempuh guna memastikan proteksi kelompok (herd immunity) bagi hewan-hewan lain di sekitar lokasi kejadian setelah seekor anjing yang menyerang dua warga itu dipastikan positif terinfeksi rabies.
“Dua hari pasca kejadian, kita sudah lakukan vaksinasi rabies emergency di Sumbersari. Semoga kasusnya tidak meluas lagi,” pungkas Sugiarta secara optimistis seraya mengimbau masyarakat untuk terus menjaga hewan peliharaan mereka serta melaporkan setiap ada indikasi hewan bergejala rabies kepada pihak berwenang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

