Desapenari.id – Bencana kekeringan luar biasa yang melanda area Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, sejak pertengahan Juni 2026 lalu telah merubah seluruh denyut kehidupan masyarakat lokal secara drastis. Akibat fenomena kemarau ekstrem yang membakar tanah garapan warga tanpa ampun tersebut, puluhan hingga ratusan warga akhirnya nekat mengambil keputusan paling memilukan. Mereka terpaksa berbondong-bondong mengemas barang dan meninggalkan kampung halaman tercinta untuk merantau ke wilayah luar daerah, bahkan sampai rela menyeberangi lautan menuju pulau-pulau terpencil demi bisa mengamankan sepeser rupiah.
Namun, fakta mendalam di balik fenomena eksodus massal ini terungkap lewat kesaksian langsung seorang warga lokal bernama Sidik (35). Menurut penuturannya yang sangat terbuka, kecenderungan warga untuk berani melangkah keluar daerah sebenarnya tidak terjadi secara mendadak begitu saja. Fenomena migrasi besar-besaran ini sebenarnya sudah mulai bergerak secara perlahan sejak bencana pergeseran tanah yang dahsyat mengguncang desa mereka pada tahun 2024 silam.
Musibah alam geologi yang terjadi dua tahun lalu itu meluluhlantakkan wilayah tempat tinggal serta merusak puluhan hektar lahan pertanian produktif milik warga setempat. Alhasil, kawasan persawahan yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan utama roda ekonomi keluarga langsung berubah menjadi area tanah rusak yang sangat sulit untuk diolah kembali oleh para petani lokal.
Lebih parahnya lagi, kondisi perekonomian masyarakat yang sudah goyah tersebut justru dihantam kembali oleh bencana kemarau panjang yang sangat membakar. Oleh karena itu, pasokan air bersih yang sangat vital untuk membasahi area persawahan mendadak terhenti total. Kerusakan parah pada seluruh infrastruktur jaringan irigasi akibat guncangan pergerakan tanah masa lalu semakin memperburuk keadaan harian mereka tanpa memberikan celah sedikit pun bagi air untuk mengalir.
“Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat di sini memang menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai petani. Sehingga, bencana ganda yang terus beruntun ini benar-benar memukul hancur kondisi perekonomian seluruh warga desa tanpa sisa,” ungkap Sidik dengan nada prihatin saat kami hubungi secara langsung pada Jumat (30/6/2026) petang.
Sebagai dampaknya dari keadaan yang kian mencekik leher tersebut, banyak warga yang akhirnya tidak punya pilihan lain selain membanting setir secara ekstrem. Banyak dari mereka yang dengan berat hati terpaksa mengadu nasib mencari pekerjaan ke luar daerah hingga merantau ke luar pulau, supaya anak dan istri mereka di rumah tetap bisa memperoleh penghasilan untuk menyambung hidup dan membeli kebutuhan harian.
“Memang benar, sebenarnya sejak insiden pergeseran tanah itu terjadi, beberapa warga sudah mulai melangkah pergi merantau. Namun, begitu gelombang kemarau panjang yang terik menyerang wilayah kami kemarin, jumlah warga yang memilih eksodus justru bertambah semakin banyak dan sulit terbendung,” jelas Sidik secara gamblang.
Ratusan Warga Berjuang Mengadu Nasib di Pulau Kalimantan
Di sisi lain, fakta lapangan yang tidak kalah mencengangkan juga dibeberkan langsung oleh sang Kepala Desa Waringinsari, Nadir Muharam Abdurahman. Beliau mengungkapkan bahwa saat ini tercatat ada ratusan warganya yang sedang berjuang keras memeras keringat di Pulau Kalimantan. Bahkan, beberapa perantau awal ini memang sudah mulai menjejakkan kaki di pulau seberang sejak musibah pergerakan tanah pertama kali menerjang desa mereka pada tahun 2024 lalu.
“Pada masa awal dulu, hanya ada sekitar 15 orang warga berani yang nekat berangkat pergi meninggalkan desa. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan impitan ekonomi yang kian berat, angka tersebut terus bertambah meluas setiap harinya hingga sekarang diperkirakan telah menembus angka ratusan orang,” kata Nadir saat menggambarkan ledakan jumlah perantau dari desanya.
Selanjutnya, Nadir secara terbuka menjelaskan alasan mendasar mengapa warga desanya terpaksa mengambil jalan pintas yang sangat berat ini. Menurut analisis kepemimpinannya, masyarakat nekat pergi merantau memburu pekerjaan baru karena area pertanian yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan utama mereka kini sudah lumpuh total, tidak bisa lagi digarap secara optimal akibat gempuran kekeringan serta kerusakan parah pada saluran irigasi.
“Selain memeras keringat dengan bekerja di lokasi tambang-tambang rakyat yang tersebar di Kalimantan, sebagian warga kami juga ada yang nekat merantau jauh ke wilayah Sumatera hingga kota megapolitan Jakarta hanya untuk bekerja keras menjadi buruh bangunan,” tutur Nadir saat merinci profesi baru yang dilakoni warga desa.
Berjuang Keras Mencari Sumber Penghasilan Lain demi Menyambung Hidup
Oleh sebab itu, Nadir mengaku sangat memahami dan memaklumi keputusan pahit yang terpaksa diambil oleh masyarakatnya demi mencari rezeki. Pasalnya, sektor pertanian desa yang tidak lagi mampu berproduksi membuat warga terdesak harus memutar otak dan mencari sumber penghidupan lain di luar kota demi mencukupi seluruh kebutuhan hidup keluarga yang kian mendesak.
“Bahkan, sudah lebih dari satu tahun belakangan ini area lahan sawah warga sama sekali tidak memungkinkan untuk ditanami benih karena memang tidak ada pasokan air sedikit pun. Jikalau ada petani yang nekat memaksakan diri untuk menanam padi, alhasil mereka biasanya langsung mengalami gagal tanam dan puso yang merugikan modal,” paparnya memperjelas penderitaan para petani.
Kendati demikian, pihak pemerintah desa tempat mereka bernaung tentu tidak tinggal diam melihat warganya terus melangkah pergi meninggalkan kampung. Oleh karena itu, pihak pemerintah desa sampai saat ini terus memperjuangkan dan mengupayakan perbaikan menyeluruh terhadap tiga jaringan irigasi utama di wilayah mereka yang saat ini seluruhnya mengalami kerusakan fatal.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

