Desapenari.id – Ruas vital Jalan Nasional Kiara Dua–Bagbagan di Kampung Cimapag, Desa Loji, Simpenan, Sukabumi, harus kita tutup total! Kenapa? Ternyata, material longsoran berupa tanah dan batu telah menimbun dan menutupi seluruh badan jalan secara sempurna. Akibatnya, kendaraan dari kedua arah sama sekali tidak bisa kita lewati. Kemudian, penutupan ini langsung memicu gangguan besar pada arus lalu lintas dari dan menuju wilayah selatan Sukabumi, terutama jalur utama Palabuhanratu–Sukabumi. Perlu kita garisbawahi, jalan nasional ini merupakan akses penting yang selama ini mendukung mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi di kawasan Sukabumi Selatan.
Lantas, apa alasan pasti pihak berwajib menutup total jalan di Simpenan ini? Kepala Satlantas Polres Sukabumi, AKP Arif Saepul Haris, dengan tegas menyatakan bahwa keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas utama mereka. Menurutnya, material longsor yang masih menumpuk di badan jalan tersebut membawa risiko sangat tinggi jika pengendara memaksakan diri untuk melintas. “Saat ini jalan nasional di Simpenan kami tutup sementara karena material longsor masih menutupi badan jalan,” jelas Arif pada Selasa (13/1/2025). Selanjutnya, ia menegaskan kembali imbauan pihak kepolisian agar masyarakat tidak nekat melintas di lokasi bencana. Selain itu, pengendara harus mematuhi arahan petugas dan segera beralih ke jalur alternatif yang sudah disiapkan. “Kami imbau kepada masyarakat agar tidak memaksakan melintas dan segera mengikuti jalur alternatif yang telah kami siapkan,” pintanya.
Sementara itu, tim terkait masih menunda proses pembersihan material longsor. Mereka dengan hati-hati menunggu kondisi yang benar-benar memungkinkan dan aman. Faktor cuaca buruk serta potensi longsor susulan menjadi pertimbangan utama sebelum alat berat akhirnya bisa mereka turunkan ke lokasi. “Pembersihan material longsor masih menunggu kondisi yang memungkinkan,” tambah Arif memperjelas situasi.
Lalu, jalur alternatif mana saja yang bisa pengendara gunakan? Sebagai langkah antisipasi, kepolisian bersama instansi terkait telah menyusun sejumlah opsi rute pengganti. Oleh karena itu, pengendara dari dan menuju Sukabumi Selatan kini dapat memilih dua rute berikut:
• Cikembar – Jampang Tengah – Lengkong – Kiara Dua – Simpenan – Surade
• Baros – Nyalindung – Sagaranten – Jampang Tengah – Surade
Namun begitu, pengguna jalan harus merencanakan perjalanan dengan lebih matang. Mereka perlu memperhitungkan waktu tempuh yang pasti akan lebih panjang, dan yang terpenting, selalu mengikuti arahan petugas di lapangan.
Sebenarnya, apa yang memicu bencana hingga jalan nasional ini harus ditutup? Ternyata, kondisi cuaca ekstremlah biang keroknya! Hujan dengan intensitas tinggi telah mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi hampir empat hari berturut-turut sejak Kamis (8/1/2026) dan akhirnya memicu rentetan bencana hidrometeorologi yang masif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat, puncak kejadian bencana justru terjadi pada Minggu (11/1/2026). Pada hari itu saja, tercatat 15 kejadian bencana yang beruntun! “Berdasarkan rekapitulasi laporan harian petugas di lapangan, total ada 15 kejadian bencana hari ini. Semuanya tersebar di beberapa kecamatan,” papar Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengonfirmasi skala bencana.
Dampak paling signifikan bahkan tercatat di Kecamatan Cidolog. Di sana, tanah longsor di Kampung Cikarae, Desa Cipamingkis, tidak hanya menutup jalan provinsi, tetapi juga membuat kendaraan roda empat sama sekali tidak dapat melintas. Selanjutnya, BPBD Kabupaten Sukabumi memetakan titik-titik bencana yang terjadi pada Minggu (11/1/2026) dengan rincian mengerikan berikut:
• Tanah longsor menerjang Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan.
• Banjir menggenangi Desa Mekarsakti dan Desa Mandrajaya di Kecamatan Ciemas.
• Cuaca ekstrem menghantam Desa Jagamukti, Kecamatan Surade.
• Tanah longsor kembali terjadi di Desa Cipamingkis, Kecamatan Cidolog.
• Banjir juga melanda Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidolog.
• Tanah longsor terjadi di Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung.
• Desa Loji dan Desa Mekarasih di Kecamatan Simpenan juga terkena tanah longsor.
• Desa Parakansalak, Kecamatan Parakansalak, tidak luput dari gerakan tanah.
• Bojonggenteng, Kecamatan Bojonggenteng, mengalami insiden serupa.
• Desa Cibadak, Kecamatan Cibadak, juga dilaporkan terdampak longsor.
• Desa Gunungguruh, Kecamatan Gunungguruh, ikut menjadi korban.
• Cuaca ekstrem melanda Desa Kutasirna, Kecamatan Cisaat.
• Terakhir, tanah longsor dan banjir secara bersamaan terjadi di Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

