JAKARTA, Desapenari.id – Heboh! Sebuah skandal penipuan konser K-Pop baru saja terkuak! Seorang promotor konser yang hanya diketahui berinisial AA, akhirnya dilaporkan ke pihak berwajib dengan tuduhan serius, yaitu penggelapan dana miliaran rupiah. Alhasil, polisi pun kini turun tangan menyelidiki kasus yang diduga merugikan banyak pihak ini.
Lebih detailnya, laporan pidana tersebut secara resmi dibuat oleh MDP, selaku direktur PT Mata Cakrawala Asia atau Mataloka. Kemudian, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, secara tegas mengonfirmasi perkembangan kasus ini pada Sabtu (7/2/2026). “Untuk menangani dugaan penipuan oleh promotor itu, kami telah menerima laporannya sejak Selasa, 11 November 2025,” papar Budi dengan jelas. Selanjutnya, ia menambahkan bahwa Subdit Jatanras, Ditreskrimum Polda Metro Jaya kini sedang menangani penyelidikan untuk mengungkap kebenaran di balik laporan tersebut.
Lantas, bagaimana modus operandusnya? Ternyata, AA menawarkan janji manis kepada PT Mataloka. Secara spesifik, sang promotor berjanji akan menghadirkan deretan artis Korea ternama dalam sebuah hajatan besar bertajuk ‘K-Pop Festival Dream Concert’. Tak berhenti di situ, untuk mewujudkan janji itu, AA pun meminta pembayaran uang muka yang jumlahnya sangat fantastis. “Sang terlapor dengan yakinnya menjanjikan ketersediaan artis Korea dan secara bersamaan meminta pembayaran down payment untuk kebutuhan agensi,” jelas Budi Hermanto, menguraikan kronologi permintaan dana.
Namun, sayangnya, situasi berbalik 180 derajat setelah transaksi tersebut terjadi. Bukannya memenuhi kewajiban, AA justru memilih untuk kabur dan lari dari tanggung jawabnya menyelenggarakan konser yang telah dijanjikan. “Yang terjadi justru sebaliknya, setelah dana sebesar Rp 9,7 miliar itu diserahkan, semua kewajiban dari pihak terlapor sama sekali tidak terpenuhi,” ujar Budi dengan nada serius, menegaskan bahwa dana yang disetor tidak pernah memberikan hasil sesuai perjanjian.
Akibatnya, PT Mataloka pun merasa sangat dirugikan dan terpaksa mengambil langkah hukum. Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, proses penyelidikan masih terus berlangsung secara intensif oleh pihak kepolisian. Meski begitu, Budi Hermanto memilih untuk belum mengungkap apakah pihaknya telah memanggil tersangka AA untuk dimintai keterangan atau belum. Di sisi lain, publik tentu menunggu-nunggu kejelasan atas kasus yang diduga kuat sebagai penipuan terstruktur ini. Oleh karena itu, diharapkan polisi dapat segera mengusut tuntas dan menemukan titik terang, sehingga keadilan dapat ditegakkan untuk korban.
Sebagai informasi, prinsip kehati-hatian dalam bermitra bisnis harus selalu diutamakan, terutama untuk proyek sebesar konser internasional. Selain itu, verifikasi mendalam terhadap track record dan legalitas promotor wajib dilakukan untuk menghindari kerugian serupa. Pada akhirnya, kasus ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pelaku industri hiburan di Indonesia agar lebih waspada dan transparan dalam setiap transaksi.
Jadi, bagaimana kelanjutan kasus ini? Tentu saja, kita semua harus menunggu perkembangan resmi dari penyelidikan polisi. Bagaimanapun juga, kasus ini membuktikan bahwa industri hiburan tanah air masih rentan terhadap praktik-praktik tidak bertanggung jawab yang merugikan banyak pihak. Dengan demikian, sinergi antara penyelenggara, pihak berwajib, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem hiburan yang lebih sehat dan aman dari penipuan. Mari kita bersama-sama mengawal proses hukum ini hingga tuntas dan memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan sejenis di masa depan. Sebab, tidak ada ruang bagi oknum-oknum yang ingin mencari keuntungan dengan cara-cara kotor di industri yang seharusnya menyebarkan kebahagiaan ini.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

