Desapenari.id – Suasana pemukiman warga di Desa Bunten Barat, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, mendadak berubah menjadi kepanikan yang amat mencekam setelah warga setempat beramai-ramai memutuskan untuk memburu seekor monyet liar yang terbukti sangat membahayakan lingkungan pemukiman. Primata yang bertindak amat agresif tersebut memang diduga kuat baru saja melancarkan serangan fisik secara membabi buta terhadap seorang balita tak berdaya di kawasan pemukiman warga. Oleh karena rasa cemas yang makin membumbung tinggi serta kekhawatiran meluas akan timbulnya korban baru, warga lokal akhirnya mengambil langkah nekat dengan mengerahkan senapan angin guna melumpuhkan keberadaan satwa liar yang sangat meresahkan warga tersebut.
Kemudian, dalam sebuah rekaman video berdurasi singkat yang kini sudah menjadi viral dan menyebar luas di berbagai platform media sosial, khalayak ramai dapat menyaksikan secara langsung momen ketika dua orang pria lokal memberanikan diri naik ke atas genteng rumah warga demi melacak keberadaan primata liar itu. Bahkan, suasana dalam rekaman video tersebut terasa kian menegangkan lantaran salah seorang warga tampak memegang erat senapan angin berburu dan terus mengarahkan pandangannya ke setiap sudut atap rumah warga.
Selanjutnya, tidak membutuhkan waktu lama bagi para pemburu lokal tersebut untuk mendeteksi posisi pasti sang primata, sebab monyet itu tiba-tiba menampakkan diri di salah satu bagian atap rumah warga yang cukup tinggi. Tanpa ragu sedikit pun, pria bersenjata itu lantas langsung mengarahkan laras senapan angin tepat ke arah tubuh hewan tersebut hingga tembakan terarah berhasil melumpuhkan sang monyet secara instan sampai tubuhnya terhuyung dan nyaris jatuh terhempas dari atas genteng ke atas tanah.
“Wak roh kettangah! (Itu dia monyetnya!),” teriak salah satu warga yang merekam momen dramatis tersebut dengan nada suara penuh kepanikan, di mana ucapan bahasa lokal tersebut lantas menjadi bukti nyata betapa tegangnya proses perburuan satwa liar yang sempat meneror pemukiman warga.
Menanggapi berita yang makin heboh dan menjadi perbincangan panas di tengah masyarakat umum, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, akhirnya secara resmi mengonfirmasi serta membenarkan adanya aksi perburuan massa terhadap monyet liar yang melibatkan penggunaan senjata angin oleh warga lokal tersebut.
Menurut keterangan resmi dari pihak kepolisian, tindakan tegas yang dilakukan oleh masyarakat desa itu sebetulnya merupakan bentuk respons reaktif yang muncul secara refleks lantaran rasa takut yang amat mendalam dari warga sekitar. Pasalnya, warga sangat khawatir jika primata yang kelaparan itu akan kembali turun ke kawasan permukiman dan melukai anak-anak kecil maupun warga lain yang sedang melintas di area pemukiman tersebut.
“Aksi penembakan serta perburuan itu memang terjadi secara spontan dari dorongan masyarakat yang merasa keselamatan jiwa keluarganya terancam,” ungkap AKP Eko Puji Waluyo saat memberikan penjelasannya secara gamblang kepada awak media guna memberikan kepastian informasi terkait peristiwa darurat yang sempat menghebohkan warga desa tersebut.
Oleh sebab itu, guna menjaga keamanan bersama di lingkungan desa, AKP Eko lantas mengeluarkan imbauan keras kepada seluruh lapisan masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan harian serta senantiasa memastikan anak-anak balita berada dalam pengawasan penuh orang dewasa tatkala sedang beraktivitas atau bermain di pekarangan. Langkah preventif yang bijak ini diharapkan mampu membendung risiko serta mencegah terulangnya insiden serangan satwa liar yang serupa pada masa mendatang.
Sementara itu, di tempat terpisah, Kepala Seksi Operasional Pemadam Kebakaran (Kasi Operasional Damkar) Kabupaten Sampang, M Maftuh Fathurrahman, membeberkan kenyataan pahit bahwa jajaran petugas pemadam dan penyelamat sebenarnya belum bisa menangkap primata buas tersebut secara mandiri dikarenakan keterbatasan fasilitas dan alat evakuasi khusus.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena ketika saya mencoba berkoordinasi langsung dengan rekan-rekan tim dari wilayah Ketapang, ternyata institusi kami memang masih belum memiliki kelengkapan sarana medis maupun alat penangkap hewan yang memadai untuk menundukkan monyet liar itu,” tutur Maftuh secara jujur sembari menjelaskan kendala operasional yang menghambat tindakan cepat jajarannya di lapangan.
Sebelum gelombang perburuan warga itu meletus di permukiman, seorang balita malang berinisial E (3) dilaporkan harus menderita luka-luka serius berupa bekas cakaran mendalam di area wajah, kepala, hingga kedua belah tangannya akibat diterkam secara mendadak oleh monyet liar tersebut. Kejadian tragis tersebut berlangsung tatkala balita E sedang bermain seorang diri tanpa adanya pendampingan atau pengawasan langsung dari orang tuanya di sekitar area rumah.
Monyet liar yang diperkirakan tengah menderita kelaparan hebat itu lantas mendadak menerobos masuk ke area pekarangan rumah dan langsung menyerang tubuh balita E secara ganas tanpa memberi kesempatan untuk melarikan diri. Namun beruntung, warga sekitar yang mendengar suara jeritan histeris langsung datang menolong, sehingga balita malang tersebut dapat segera dilarikan guna memperoleh perawatan medis darurat dari tim medis di puskesmas lokal setempat.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

