SEMARANG, Desapenari.id – Gelombang pasang yang terus menerjang kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah kini bukan sekadar bencana musiman. Di balik genangan air asin yang merendam pemukiman dan ruas jalan, ancaman kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah mengintai perekonomian daerah. Yang lebih memprihatinkan, di tengah gempuran air laut yang kian agresif, masih ada warga yang bersikukuh menolak pindah dari wilayah langganan banjir rob ini.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah, Yusmanto, mengungkapkan fakta mengejutkan. Menurut perhitungan sementara, dampak rob di kawasan Pantura berpotensi menguras kantong negara hingga angka fantastis. Kerugian ini bukan sekadar hitungan kerusakan fisik rumah dan fasilitas umum. Lebih dari itu, hilangnya mata pencaharian warga dan terganggunya denyut nadi ekonomi lokal menjadi pukulan telak yang sulit diukur dengan uang semata.
“Bayangkan saja kemacetan di jalur Pantura Semarang-Sayung yang sering terjadi akibat genangan rob. Setiap jam keterlambatan, berapa liter BBM terbuang percuma? Berapa waktu produktif masyarakat melayang sia-sia? Itu baru satu contoh kecil,” tegas Yusmanto saat berbincang dengan tim redaksi, Senin (20/7/2026).
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Yus ini memaparkan bahwa kerugian ekonomi merambat ke berbagai sektor. Kendaraan roda empat hingga roda dua yang nekat menerjang banjir rob seringkali mengalami kerusakan mesin parah. Biaya perbaikan yang menggunung jelas membebani pemilik kendaraan. Tak berhenti di situ, ekosistem pesisir yang menjadi sumber kehidupan nelayan dan petambak pun perlahan-lahan mati suri akibat tingginya kadar garam yang meracuni lahan.
“Rumah-rumah warga juga semakin hari semakin turun dan tenggelam. Setiap beberapa tahun sekali, mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk menaikkan lantai rumah. Ini beban ekonomi yang sangat berat bagi masyarakat kelas bawah,” tambah Yusmanto dengan nada prihatin.
Bappeda Jateng sendiri sebenarnya telah melakukan berbagai kajian mendalam untuk memetakan nilai kerugian akibat rob. Namun, Yusmanto mengaku belum bisa membeberkan angka pasti dari hasil kajian tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa nilai kerugian sudah dipastikan menyentuh angka triliunan rupiah. Angka ini mencakup berbagai aspek seperti kerusakan infrastruktur, penurunan produktivitas lahan pertanian, hingga biaya pemulihan lingkungan yang memakan waktu puluhan tahun.
“Kami punya data valuasi kerugian dari kerusakan ekosistem, kehilangan mata pencaharian, dan berbagai dampak lainnya. Nilainya besar, sangat besar. Tapi kami tidak ingin terburu-buru mengklaim angka pasti karena perlu kajian komprehensif. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kami merumuskan solusi jitu untuk mengatasi persoalan ini,” papar Yusmanto.
Alih-alih sibuk menghitung kerugian secara detail, pemerintah pusat dan daerah kini lebih fokus pada langkah-langkah konkret penanganan rob. Yusmanto menekankan bahwa prioritas utama adalah menyelamatkan masyarakat dari ancaman banjir rob yang kian mengkhawatirkan. Berbagai opsi solusi pun terus digodok, mulai dari pembangunan tanggul laut raksasa hingga program normalisasi sungai.
Namun, di balik upaya pemerintah yang masif, muncul tantangan pelik yang tak kalah rumit. Sebagian warga yang terdampak rob justru memilih bertahan di wilayah mereka meski air laut setiap tahun semakin merangsek masuk ke pemukiman. Fenomena ini menjadi pemandangan umum di kawasan Timbulsloko, Demak, dan beberapa titik di pesisir Pantura lainnya.
Yusmanto mengakui bahwa pemerintah telah menawarkan program relokasi kepada warga. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang menolak dengan tegas tawaran tersebut. Bagi warga, tanah kelahiran mereka bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah mereka menghabiskan seluruh hidup, membesarkan anak-cucu, dan membangun kenangan yang tak ternilai harganya.
“Mereka memiliki ikatan sosial yang sangat kuat dengan lingkungan sekitar. Rasa kebersamaan antarwarga yang sudah terjalin puluhan tahun sulit untuk diputus begitu saja. Belum lagi faktor ekonomi, di mana mayoritas warga menggantungkan hidup dari hasil tambak, pertanian, dan perikanan di wilayah tersebut,” jelas Yusmanto.
Pernyataan ini diperkuat dengan fakta di lapangan bahwa masyarakat pesisir Pantura memiliki ketergantungan ekonomi yang sangat tinggi terhadap sumber daya alam di sekitar mereka. Tambak udang dan bandeng yang menjadi andalan warga Timbulsloko, misalnya, tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Begitu pula dengan lahan pertanian yang sudah diolah secara turun-temurun.
Dari sisi budaya, warga Pantura juga memiliki kearifan lokal dalam menghadapi banjir rob. Mereka telah beradaptasi dengan siklus pasang surut air laut selama bertahun-tahun. Rumah panggung yang menjulang tinggi menjadi ciri khas arsitektur lokal yang mencerminkan kearifan nenek moyang dalam menghadapi ancaman air laut.
Yusmanto menambahkan bahwa persoalan rob tidak cukup diatasi dengan pembangunan infrastruktur fisik semata. Pemerintah harus menyentuh aspek sosial-psikologis warga yang terdampak. Program pendampingan dan pemberdayaan ekonomi menjadi kunci agar warga tidak merasa terpaksa saat ditawari relokasi.
“Kami sadar betul, membangun tanggul dan pompa air saja tidak akan menyelesaikan masalah secara tuntas. Kami harus memastikan bahwa ketika warga direlokasi, mereka tetap bisa melanjutkan kehidupan dan mata pencahariannya dengan layak. Inilah tantangan besar yang harus kami pecahkan bersama,” pungkas Yusmanto.
Banjir rob di Pantura bukanlah isu baru. Namun, intensitas dan dampaknya yang semakin parah dari tahun ke tahun menjadi alarm bahaya yang tak bisa diabaikan. Perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut global menjadi faktor eksternal yang memperparah kondisi. Di sisi lain, amblesan tanah di kawasan pesisir akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan juga menjadi pemicu utama.
Pemerintah pun terus berupaya memadukan berbagai pendekatan, baik struktural melalui pembangunan infrastruktur, maupun non-struktural melalui edukasi dan pendampingan masyarakat. Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk akademisi dan lembaga swadaya masyarakat, juga terus dijalin untuk mencari solusi terbaik.
Masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa keputusan untuk bertahan atau pindah bukanlah pilihan mudah. Namun, keselamatan jiwa dan masa depan generasi mendatang harus menjadi pertimbangan utama. Pemerintah pun berjanji akan terus hadir memberikan pendampingan dan solusi terbaik bagi warga yang terdampak rob, baik yang memilih bertahan maupun yang bersedia direlokasi.
Satu hal yang pasti, bencana rob di Pantura adalah ujian besar bagi seluruh elemen bangsa. Dibutuhkan sinergi dan komitmen kuat dari semua pihak untuk menyelesaikan persoalan ini. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton ketika saudara-saudara kita di pesisir terus berjuang melawan gempuran air laut yang tak kenal ampun.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

