Desapenari.id – Dua bus Transjakarta bertabrakan di jalur langit Cipilur, Senin (23/2/2026) pagi, dan setelah diselidiki, penyebabnya begitu mengejutkan: sopir kelelahan. Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta langsung angkat bicara dan mendesak manajemen untuk segera membenahi sistem penugasan yang selama ini semrawut!
Francine Widjojo, anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), membongkar akar permasalahan yang selama ini tersembunyi. Ia dengan tegas meminta PT Transjakarta berbenah, terutama dalam hal penugasan sopir. Pasalnya, insiden mengerikan di jalur langit Cipulir itu bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan buah dari sistem yang membuat para pengemudi berangkat kerja dalam kondisi sudah setengah mati.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Francine mengungkapkan fakta mencengangkan. Banyak sopir Transjakarta ternyata tinggal berjauhan dari depo tempat mereka harus mengambil armada. “Bayangkan,” ujar Francine saat dikonfirmasi, Rabu (25/2/2026), “mereka sudah menghabiskan energi di jalan sebelum benar-benar memulai tugas mengemudikan bus. Perjalanan jauh menuju depo menguras tenaga dan fokus, sehingga ketika akhirnya memegang kemudi, kondisi fisik dan mental sudah berada di ambang batas.” Ia menyoroti ironi di mana petugas transportasi umum justru kelelahan sebelum mengangkut penumpang.
Karenanya, Francine menekankan pentingnya evaluasi total terhadap manajemen sumber daya manusia di perusahaan pelat merah itu. Ia mendesak agar pengaturan waktu kerja, durasi istirahat, jarak tempuh sopir dari rumah ke depo, hingga pola pergantian shift menjadi prioritas utama. “Semua elemen ini harus diperhitungkan dengan matang,” tegasnya. “Jangan sampai petugas yang bertugas justru dalam kondisi rentan secara fisik maupun mental karena sistem yang tidak berpihak pada keselamatan.”
Salah satu solusi cemerlang yang ia lemparkan adalah kebijakan penugasan berbasis domisili. Ia meminta agar pihak manajemen mengatur penugasan sedekat mungkin dengan tempat tinggal para sopir. Dengan begitu, mereka tidak perlu menempuh perjalanan panjang yang melelahkan hanya untuk mengambil bus. Langkah sederhana ini, menurutnya, bisa menjadi game changer dalam menjaga kondisi prima pengemudi sejak awal shift.
Namun, Francine tidak berhenti di situ. Ia juga melontarkan pertanyaan kritis: di mana peran command center canggih milik Transjakarta? Ia menyoroti bahwa banyak armada sebenarnya telah dipasangi perangkat canggih bernama Advanced Driver Assistance System (ADAS) dan Driver Monitoring System (DMS). Teknologi mutakhir ini dirancang khusus untuk mendeteksi tanda-tanda kelelahan atau kantuk pada pengemudi secara real-time.
“Peralatan mahal ini dibeli dengan uang pajak rakyat dan pendapatan tarif dari masyarakat,” sindirnya dengan nada geram. “Sudah seharusnya teknologi ini mampu menjamin keselamatan penumpang di jalanan, bukan malah menjadi pajangan mahal yang tidak optimal.” Ia mempertanyakan secara terbuka efektivitas pusat kendali dalam memantau kondisi para pengemudi. Apakah sistem peringatan dini itu benar-benar difungsikan? Atau justru diabaikan hingga terjadilah tabrakan yang sebenarnya bisa dicegah?
Oleh karena itu, ia mendesak manajemen untuk segera melakukan audit menyeluruh. “Perlu dicek satu per satu,” tegas Francine, “apakah semua bus Transjakarta, termasuk armada mikrotrans (angkot yang diintegrasikan), sudah dilengkapi dengan alat ADAS/DMS dan benar-benar terhubung secara aktif ke command center?” Jika ada armada yang belum, ia meminta pemasangan dilakukan secepat kilat. Jika sudah terpasang tetapi tidak terpantau, maka ia mendesak evaluasi besar-besaran terhadap prosedur operasional command center.
Insiden mengerikan di Koridor 13 ini, menurut Francine, adalah alarm keras bagi tata kelola armada transportasi publik di Ibu Kota. Ia mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk turun tangan, tidak hanya memastikan seluruh korban kecelakaan mendapatkan perawatan terbaik, tetapi juga menjamin perbaikan sistem secara fundamental.
“Saya minta Pemprov DKI Jakarta memastikan kecelakaan ini tidak terulang lagi di kemudian hari,” tuturnya dengan nada memperingatkan. Keselamatan penumpang, menurutnya, adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan pembiaran sistem yang berantakan.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Senin pagi yang sibuk itu berubah mencekam ketika dua bus Transjakarta terlibat tabrakan di koridor 13, tepatnya di jalur langit Cipulir, Jakarta Selatan. Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta, Ayu Wardhani, dalam keterangan resminya, membenarkan kejadian nahas tersebut. “Transjakarta memohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden kecelakaan yang melibatkan armada bus operator BMP 263 dan MYS 17100 di Koridor 13 ruas Swadarma arah Cipulir pagi ini,” ucap Ayu. Permintaan maaf ini pun kini menjadi sorotan, karena publik menanti aksi nyata, bukan sekadar kata-kata manis di atas kertas.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com


The writing is neat and informative, wishing your website continued success.