BANDUNG, Desapenari.id – Kobaran api yang membara melahap gudang tumpukan barang rongsokan di Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dengan cepat merambat membakar habis hamparan alang-alang di lereng Gunung Batu Paseban pada Senin (27/7/2026) sore. Peristiwa mengerikan ini terjadi begitu cepat dan membuat warga sekitar panik setengah mati!
Bayangkan, hanya dalam waktu sekitar 30 menit sejak percikan pertama muncul, api tiba-tiba membesar dengan dahsyat setelah menyambar tumpukan material super mudah terbakar berupa plastik dan styrofoam yang menumpuk di sekitar gudang. Begitu api menyentuh benda-benda tersebut, kobaran langsung melonjak tinggi bagaikan monster haus api yang tak terkendali.
Dengan cepat, si jago merah menjalar ke area perbukitan di sekitarnya, membuat sebagian besar lereng gunung berubah menjadi hitam pekat bak neraka dunia. Pemandangan mengerikan itu pun menyita perhatian seluruh warga yang menonton dari kejauhan dengan perasaan cemas bercampur takut.
Beruntungnya, sebanyak enam unit mobil pemadam kebakaran langsung dikerahkan ke lokasi untuk mencegah api menjalar semakin jauh dan meluas ke area lainnya. Berkat kerja keras para petugas yang sigap, kebakaran akhirnya berhasil ditangani sepenuhnya sekitar pukul 19.30 WIB tanpa menimbulkan korban jiwa ataupun korban luka sedikit pun. Syukurlah, tidak ada nyawa melayang dalam musibah kali ini.
Namun meski api sudah padam, sehari setelah kejadian, aroma hangus yang menyengat masih tercium jelas di sekitar lokasi. Bahkan, asap tipis masih terlihat mengepul dari beberapa titik lahan bekas terbakar yang menjadi pemandangan suram di kawasan tersebut.
API MEMBESAR DALAM WAKTU 30 MENIT YANG MENCEKAM!
Seorang saksi mata bernama Cepi Ariefin (36), warga setempat, menceritakan bahwa dirinya sedang berada di sekitar lokasi ketika kebakaran pertama kali terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Dengan nada sedikit panik, Cepi mengaku bahwa awalnya ia melihat percikan api muncul dari bagian bawah lereng Gunung Batu Paseban.
“Kalau kejadian pastinya saya kurang tahu persis, tapi api itu memang terlihat jelas dari bawah lereng. Setelah itu, dalam sekejap api membesar dan akhirnya menghanguskan seluruh lereng,” ujar Cepi dengan mimik muka masih terlihat cemas saat ditemui pada Selasa (28/7/2026).
Menurut pengakuan Cepi, peristiwa itu berlangsung sangat singkat. Kobaran api membesar dan menyebar begitu cepat hanya dalam waktu sekitar 30 menit sejak titik awal munculnya percikan. Pemandangan itu sungguh menakutkan bagi warga yang melihatnya.
Api kemudian menjalar dengan kejam dan menjangkau tumpukan barang rongsokan yang bertumpuk di sekitar lokasi. Material-material seperti plastik dan styrofoam yang menjadi “makanan lezat” bagi si jago merah itu justru memperparah keadaan, membuat api semakin besar bak bola api raksasa dan merambat dengan kecepatan luar biasa ke area lain yang tidak terduga.
“Kejadiannya super cepat, Bang! Begitu kena barang rongsokan itu, api langsung menggila dan melebar ke mana-mana. Apalagi di situ banyak plastik sama styrofoam yang bikin api tambah besar,” jelas Cepi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Belum cukup dengan material mudah terbakar, angin kencang yang berembus di sekitar kawasan perbukitan itu ikut menjadi biang keladi yang membuat warga semakin was-was. Mereka takut kobaran api akan bergerak dengan liar menuju gudang penyimpanan lain yang masih berisi banyak barang rongsokan sejenis.
WARGA NEKAT SELAMATKAN BARANG DARI AMUKAN API!
Dalam momen penuh kepanikan itu, Cepi bersama sejumlah warga lainnya berusaha dengan susah payah memindahkan barang-barang rongsokan agar tidak ikut menjadi korban keganasan api. Mereka menarik dengan sekuat tenaga tumpukan barang yang masih bisa dijangkau dari arah rambatan si jago merah.
“Saya coba narik barang-barang bersama warga lain. Soalnya arah angin condong ke sana, ke arah gudang lainnya. Makanya kami tarik dulu supaya barang-barang itu enggak ikut terbakar. Tapi ya itu, cuma sebentar, keburu panas dan takut kami sendiri ikut kebakar,” ucap Cepi dengan napas terengah-engah, seolah merasakan kembali ketegangan saat itu.
Akhirnya, upaya heroik itu terpaksa dihentikan karena suhu di sekitar lokasi semakin terik menyengat dan kobaran api terus membesar mengancam. Dengan berat hati, warga memilih menjauh untuk menghindari risiko terjebak atau terkena sergapan api yang kian ganas. Syukurlah, tidak ada laporan warga yang terluka dalam aksi nekat menyelamatkan barang dari lokasi kebakaran tersebut.
VERSI WARGA DAN KECAMATAN BEDA, MANA YANG BENAR?
Yang menarik dari peristiwa ini adalah adanya perbedaan informasi mengenai titik awal munculnya api. Cepi dengan tegas menyebut bahwa api pertama kali terlihat di bagian bawah lereng gunung, baru kemudian merambat ke tumpukan barang rongsokan. Namun, Camat Kutawaringin, Mamet Slamet, memberikan versi berbeda.
Menurut Mamet, titik api awal justru diketahui berasal dari gudang penyimpanan barang rongsokan. Setelah itu, api menjalar dengan cepat ke alang-alang yang ada di area lembah dan lereng Gunung Batu Paseban.
Dengan nada lega, Mamet menjelaskan bahwa kebakaran sempat meluas, namun berhasil dikendalikan sebelum menjangkau permukiman warga. “Memang di sebelah gudang ada lembah gunung, jadi merembet ke alang-alang. Tapi Alhamdulillah sudah teratasi dan tidak masuk ke permukiman warga. Jaraknya memang jauh banget,” paparnya.
Untungnya, lokasi kebakaran disebut berada cukup jauh dari rumah penduduk sehingga tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap permukiman. Meski demikian, luasnya area yang terbakar membuat petugas harus bekerja ekstra keras mengantisipasi rambatan api di kawasan perbukitan yang terjal.
ENAM MOBIL DAMKAR SIAP-SIAP GEMPUR API!
Kepala Bidang Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung, Asep Bintang, mengungkapkan bahwa pihaknya langsung mengerahkan enam unit pemadam ke lokasi secara serentak. Petugas yang dikirim berasal dari Markas Komando Soreang dan Pos Taman Kopo Indah untuk memastikan penanganan maksimal.
“Kami luncurkan enam unit sekaligus karena dikhawatirkan terjadi perambatan yang sangat cepat. Jadi kami langsung kerahkan semua dari Mako Soreang dan pos TKI,” ucap Asep dengan tegas.
Pengerahan enam unit tersebut dilakukan karena api diketahui membakar material yang sangat mudah menyala dan merambat dengan kecepatan tinggi ke alang-alang di lereng gunung. Dengan sigap, petugas berupaya memutus jalur rambatan agar kebakaran tidak meluas ke gudang lain maupun kawasan sekitarnya.
Proses pemadaman yang melelahkan itu berlangsung hingga sekitar pukul 19.30 WIB atau kurang lebih tiga jam sejak kebakaran pertama kali dilaporkan. Perjuangan panjang ini akhirnya membuahkan hasil ketika api berhasil dipadamkan sepenuhnya.
LERENG GUNUNG HITAM PEKAT, BEKAS AMUKAN API!
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa, sebagian lereng Gunung Batu Paseban tampak menghitam pekat setelah menjadi korban kebakaran. Bekas amukan api membentang luas di area perbukitan, sementara asap tipis masih terlihat mengepul dari beberapa titik yang tersisa. Sungguh pemandangan memilukan yang menyisakan duka.
Aroma hangus yang menusuk hidung masih tercium kuat di sekitar gudang dan lahan alang-alang yang terbakar. Di dekat lokasi, masih terdapat gudang penyimpanan rongsokan lain yang memuat plastik dan styrofoam dalam jumlah besar. Material-material ini menjadi perhatian serius karena sangat mudah terbakar apabila terkena percikan api atau panas tinggi.
Sayangnya, petugas masih belum menyampaikan luas pasti lahan yang terbakar maupun jumlah barang rongsokan yang hangus dilalap api. Nilai kerugian akibat kebakaran pun masih belum diketahui secara pasti oleh pihak berwenang.
TIDAK ADA KORBAN JIWA, SYUKUR MASIH ADA HARAPAN!
Dengan nada lega, Asep memastikan bahwa kebakaran tidak menimbulkan korban meninggal dunia maupun luka-luka. Berkat kesigapan petugas, api berhasil dikendalikan sebelum menjangkau permukiman warga atau menimbulkan dampak yang lebih luas.
Namun hingga kini, penyebab pasti kebakaran gudang rongsokan dan lereng Gunung Batu Paseban tersebut masih menjadi misteri. Keterangan warga dan pemerintah kecamatan yang berbeda mengenai lokasi awal munculnya api menjadi teka-teki yang perlu segera dipecahkan.
Penyelidikan lebih lanjut sangat diperlukan untuk memastikan titik awal kemunculan api serta penyebab sebenarnya dari kebakaran ini. Sementara itu, area bekas kebakaran masih perlu diawasi ketat karena asap masih terlihat muncul dari sejumlah titik sehari setelah kejadian, mengingatkan kita semua akan bahaya yang mengintai kapan saja.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

