Desapenari.id – Gunung Karangetang yang berada di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara, mendadak mengamuk dan kembali mengalami letusan erupsi yang amat dahsyat pada Senin dini hari (26/10/2026). Peristiwa vulkanik yang mengejutkan warga ini terjadi di saat sebagian besar masyarakat setempat sedang tertidur lelap, sehingga memicu kepanikan dan kekhawatiran yang luar biasa di seluruh penjuru pulau.
Selanjutnya, letusan hebat yang mengejutkan tersebut tercatat mulai memuncak tepat pada pukul 03.20 WITA, di mana perut bumi Karangetang menyemburkan lontaran material pijar panas yang sangat membara hingga membumbung tinggi antara 200 sampai 300 meter langsung dari area puncak kawah utara.
Menanggapi gejolak alam yang sangat menegangkan ini, Petugas Pengamat Gunung Api Karangetang yang berpengalaman, Muhamad Fadlan Rasyidin Bina, menyampaikan laporan analisis resminya dan menjelaskan bahwa tim pengamat di lapangan tidak bisa mengamati kepulan tinggi kolom abu secara kasat mata karena keterbatasan pandangan di tengah kegelapan malam.
Namun demikian, meskipun pandangan mata secara visual tertutup kegelapan malam, getaran erupsinya ternyata terekam sangat jelas dan akurat pada instrumen seismogram di pos pemantauan dengan amplitudo maksimum mencapai angka 50 milimeter serta durasi gempa erupsi yang berlangsung sekitar tiga menit 30 detik.
“Kemudian, fenomena erupsi ini sebenarnya diawali oleh letusan eksplosif berukuran kecil yang langsung melempar material pijar panas ke berbagai penjuru mata angin, yakni sektor selatan, barat daya, barat, hingga barat laut,” ujar Muhamad Fadlan dalam wawancara resminya pada hari Senin, seraya menambahkan bahwa lontaran batu membara tersebut meluncur tajam hingga mencapai radius 200 meter dari pusat Kawah Utara.
Geger! Kolom Asap Membumbung 800 Meter Mengancam Langit Siau!
Selain lontaran material membara yang mengerikan tersebut, tim pengamat vulkanologi di lokasi juga merekam pergerakan kolom asap kawah yang membumbung sangat tinggi mencapai ketinggian 800 meter di atas kawah dengan arah tiupan angin yang condong mengarah kuat ke sektor barat daya.
Setelah letusan awal yang menghentakkan malam itu terjadi, gejolak aktivitas vulkanik ini ternyata berlanjut ke tahap efusif yang memicu lelehan lava pijar membara mengalir deras dan runtuh menyusuri tebing-tebing lereng gunung.
Kemudian, jika kita mencermati alirannya ke arah sektor selatan, laju luncuran batu cair yang sangat panas tersebut tercatat bergerak cepat merayap turun menyusuri lereng dengan jarak jangkauan antara 200 hingga 700 meter.
Sementara itu, di sektor barat dan barat daya, pergerakan lelehan lava membara yang membelah lereng dan melintasi sungai-sungai utama—seperti Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, serta Kali Kiawang—diperkirakan menembus jarak yang sangat jauh, yakni mulai dari 700 meter hingga mencapai 1.000 meter.
Tak kalah mengkhawatirkan, di kawasan sektor barat laut, aliran lava pijar membara juga terpantau meluncur deras menyusuri lintasan Kali Batuare, Kali Batukole, hingga Kali Malrbuhe dengan jarak tempuh mencapai 500 hingga 700 meter dari bibir kawah.
“Bahkan, suara gemuruh hebat dan dentuman keras yang dipicu oleh aktivitas vulkanik ekstrem tersebut terdengar sangat membahana hingga mencapai Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang,” kata Fadlan mempertegas betapa mencekamnya kondisi alam saat itu.
Waspada Bahaya Mengintai! Zona Merah Diperketat, Warga Dilarang Mendekat!
Hingga saat artikel ini dipublikasikan, gejolak aktivitas erupsi Gunung Karangetang masih terus membara dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sehingga otoritas vulkanologi tetap menetapkan gunung berapi megah setinggi 1.784 meter di atas permukaan laut ini berada pada status Level II atau Waspada.
Oleh karena itu, pihak pos pengamatan langsung mengeluarkan peringatan tegas dan mengimbau seluruh masyarakat lokal, para pendaki yang gemar bertualang, maupun para wisatawan asing agar tidak sekali-kali mendekat, mendaki, ataupun melakukan aktivitas apa pun di dalam zona bahaya yang sudah ditentukan.
Selanjutnya, kawasan berbahaya yang wajib steril dari keberadaan manusia ini mencakup radius 1,5 kilometer dari pusat Kawah Dua atau Kawah Utara serta Kawah Utama di sektor selatan, ditambah lagi dengan perluasan zona bahaya sektoral yang diperlebar ke arah selatan dan barat daya sejauh 2,5 kilometer.
Di samping itu, para warga yang bertempat tinggal di sekitar kaki gunung juga diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi ancaman susulan berupa guguran lava pijar dan bahaya sengatan awan panas guguran, mengingat tumpukan material sisa erupsi di atas lereng masih terpantau sangat labil dan rawan runtuh sewaktu-waktu, terutama di wilayah sektor selatan, tenggara, barat, serta barat daya.
Tidak hanya itu saja, warga masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu langsung dari puncak Gunung Karangetang turut diingatkan agar selalu siaga penuh mengantisipasi bahaya banjir lahar hujan maupun banjir bandang yang bisa menerjang tiba-tiba saat hujan turun deras di bagian puncak.
“Pasalnya, aliran material vulkanik tersebut memiliki daya hancur tinggi dan berpotensi besar meluncur deras hingga mencapai kawasan pemukiman di pantai melalui celah-celah aliran sungai,” pungkasnya memperingatkan masyarakat agar tetap waspada.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

