Desapenari.id – Puluhan Ton Minyak Sawit tumpah Menggenangi Pantai Eksotis Gili Iyang, Ini Kronologi Mengerikannya! Sebuah peristiwa lingkungan yang cukup mencengangkan akhirnya terjadi di Sumenep. Tepatnya, puluhan ton minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang sedang diangkut oleh sebuah kapal tongkang justru tumpah dan mencemari pesisir Desa Banraas, Pulau Gili Iyang. Lebih menarik lagi, insiden ini terjadi pada hari Kamis (22/1/2026) yang lalu dan langsung menjadi perbincangan hangat.
Awalnya, publik mengetahui musibah ini melalui sebuah video yang tiba-tiba viral. Faktanya, video yang menunjukkan tumpahan minyak itu beredar sangat luas di berbagai platform media sosial. Dengan demikian, informasi ini pun menyebar bak kabar yang terbawa angin hingga merambah ke sejumlah grup WhatsApp warga setempat.
Ketika kamu menyaksikan video tersebut, kamu akan langsung melihat pemandangan yang sangat memilukan. Tampak jelas, minyak berwarna kecokelatan yang sangat pekat sudah menggenangi area perairan dangkal. Akibatnya, kondisi air laut pun tampak begitu keruh dan terlihat sangat licin di beberapa titik tertentu, bahkan genangan itu sudah mencapai bibir pantai!
Yang membuat dokumentasi ini terasa lebih nyata, warga yang kebetulan berada di sekitar lokasi langsung mengambil inisiatif. Mereka dengan sigap merekam secara langsung kondisi pantai yang sudah tercemar parah. Oleh karena itu, kita akhirnya bisa menyaksikan dampak sesungguhnya dari insiden ini melalui lensa mereka.
Salah satu saksi mata, Moh Yusuf yang berasal dari Desa Bancamara, pun akhirnya membenarkan kabar tersebut. Dia dengan tegas menyatakan bahwa memang benar terjadi tumpahan minyak yang diduga kuat berasal dari kapal tongkang pengangkut CPO. Menurut pengetahuannya, kejadian mengerikan itu sudah terjadi sejak Kamis pagi. “Benar, saya tahu pagi tadi. Minyaknya tumpah ke laut dan sampai ke pantai,” kata Yusuf di Sumenep dengan nada khawatir.
Namun sayangnya, Yusuf mengaku tidak mengetahui secara pasti apa penyebab awal dari tumpahan minyak besar-besaran itu. Dia hanya bisa berspekulasi berdasarkan informasi yang diterimanya dari lingkungan sekitar.
Lebih lanjut, Yusuf menyebutkan bahwa dia hanya mendengar informasi dari para warga sekitar. Konon, cuaca buruk diduga menjadi salah satu pemicu utama insiden nahas ini. “Cuaca memang sedang buruk, angin kencang dan ombak cukup tinggi. Tongkangnya kandas,” tambahnya dengan rinci.
Tidak berhenti di situ, Yusuf juga berhasil menjelaskan kronologi yang lebih detail. Kapal tongkang itu diduga kuat sudah kandas terlebih dahulu di karang sekitar pukul 21.00 WIB pada Rabu (21/1/2026) malam. Penyebabnya? Tali jangkarnya dikabarkan putus! Setelah kandas, kapal itu terus-menerus dihantam oleh angin kencang dan gelombang tinggi. Alhasil, badan kapal pun mengalami kebocoran yang pada akhirnya menyebabkan muatan minyak CPO tumpah dengan bebas ke laut. “Informasi yang saya terima, kapalnya kandas di karang sekitar jam sembilan malam. Karena cuaca buruk dan ombak besar, kapal bocor dan minyaknya tumpah,” ungkap Yusuf meyakinkan.
Sebagai informasi tambahan, dia menambahkan bahwa para anak buah kapal (ABK) baru bisa dievakuasi atau turun dari kapal pada Kamis pagi. Hal ini terjadi semata-mata karena kondisi laut sebelumnya sama sekali belum memungkinkan untuk melakukan penyelamatan. “ABK baru bisa turun pagi tadi, sebelumnya tidak bisa karena ombak masih tinggi,” kata dia menjelaskan situasi yang pelik kala itu.
Hingga detik ini, masyarakat masih menanti penjelasan resmi. Pasalnya, belum ada sama sekali keterangan resmi dari pihak berwenang terkait penyebab pasti tumpahan minyak. Selain itu, langkah-langkah konkret penanganan di lokasi kejadian juga belum jelas, sehingga kondisi ini tentu menimbulkan tanda tanya besar.
Di sisi lain, warga pun mulai dilanda kecemasan yang mendalam. Mereka sangat khawatir tumpahan CPO tersebut akan memberikan dampak buruk yang berkepanjangan pada lingkungan laut. Secara langsung, aktivitas para nelayan di sekitar Pulau Gili Iyang juga dikhawatirkan akan terusik. “Ya tentu saja warga khawatir,” ucap Yusuf mewakili perasaan warga lainnya. Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan, mengingat mata pencaharian utama mereka bergantung pada laut yang sekarang ternoda oleh tumpahan puluhan ton “emas cair” sawit tersebut.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

