Desapenari.id – Menteri Perindustrian Sarmuji mendadak membongkar fakta mengejutkan soal krisis pasokan bahan baku susu cair murni di tanah air yang ternyata lagi gawat-gawatnya banget. Bahkan, beliau melihat ketimpangan besar ini langsung mengancam denyut nadi pabrik pengolahan susu nasional yang kelaparan pasokan segar setiap hari. Apalagi, permintaan konsumsi harian masyarakat terus melonjak tajam tanpa diimbangi oleh ketersediaan bahan baku lokal yang mencukupi. Makanya, Sarmuji langsung menyoroti kelangkaan pasokan ini sebagai masalah darurat yang bikin industri pengolahan susu lokal jalan di tempat dan nggak bisa berkembang maksimal.
Bukan cuma itu, beliau menegaskan kalau persoalan benang ruwet ini nggak bakal selesai kalau cuma ngandelin satu kementerian aja. Malahan, Sarmuji ngedesak seluruh kementerian dan lembaga terkait buat segera bergandengan tangan menyatukan langkah lewat kolaborasi lintas sektor yang benar-benar solid. Lantas, kementerian seperti Pertanian, Perdagangan, hingga Perindustrian harus duduk bareng membongkar ego sektoral demi merancang regulasi hulu ke hilir yang lebih responsif. Soalnya, tanpa sinergi yang matang di tingkat pembuat kebijakan, krisis pasokan bahan baku susu cair ini bakal terus membebani perekonomian nasional tanpa ada solusi konkret.
“Kita sih berharap banget produksi susu bisa kita genjot semaksimal mungkin langsung di dalam negeri, jadi kran impor susu bubuk bisa kita tekan habis-habisan. Tapi, kalau memang harus impor, ya sapinya aja yang kita datangkan dari luar negeri, bukan susunya!” cetus Sarmuji pas lagi ninjau langsung fasilitas pengolahan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (22/10/2026). Selain itu, kunjungan lapangan ini membuka mata semua orang tentang betapa krusialnya kemandirian industri olahan pangan lokal di tengah gejolak pasar global.
Selanjutnya, Sarmuji menyarankan agar sapi perah kualitas unggul yang kita impor dari negara produsen utama itu diserahkan penuh kepada para peternak lokal kita buat dipelihara dan dikembangbiakkan. Bahkan, strategi cerdas ini sengaja dirancang buat memperkuat basis peternakan rakyat sekaligus membangkitkan perekonomian desa yang selama ini agak lesu. Oleh sebab itu, ketimbang cuma membeli barang jadi berupa bubuk susu impor yang tidak memberi nilai tambah jangka panjang, mendatangkan sapi perah hidup bakal membakar semangat para peternak daerah buat memproduksi susu segar bernilai tinggi.
Namun demikian, buat menyulap para peternak lokal agar makin jago merawat sapi perah ras unggulan dari luar negeri, pemerintah wajib mengucurkan program pelatihan dan edukasi yang terstruktur dari awal sampai akhir. Lagipula, sapi perah impor membutuhkan perlakuan khusus, mulai dari manajemen pakan bernutrisi tinggi, sanitasi kandang yang ketat, sampai pemantauan kesehatan rutin biar nggak gampang stres di iklim tropis. Makanya, tanpa adanya pembekalan ilmu peternakan modern yang matang, potensi luar biasa dari sapi-sapi unggul tersebut justru bakal terbuang sia-sia di lapangan.
“Kalau sapinya kita impor, terus dipelihara sama peternak kita sendiri yang udah dapat pelatihan dan edukasi intensif sampai bisa ngeras susu dalam jumlah melimpah plus kualitas jempolan, jelas hasilnya bakal jauh lebih mantap buat bangsa ini,” tambah Sarmuji dengan penuh keyakinan. Boleh dibilang, skema pemberdayaan ini dipandang oleh para pakar industri sebagai formula paling rasional dalam membangun ketahanan pangan jangka panjang. Bahkan, langkah ini dinilai bakal menciptakan multiplier effect yang luar biasa bagi kesejahteraan para peternak kecil di berbagai pelosok daerah.
Meskipun begitu, Sarmuji sangat menyadari kalau upaya menyetop ketergantungan pada impor susu segar serta olahan ini nggak bisa terjadi cuma dalam semalam. Sebaliknya, proses transformasi besar-besaran ini membutuhkan napas panjang, komitmen anggaran yang konsisten, serta peta jalan nasional yang bener-bener terukur secara bertahap. Apalagi, membenahi ekosistem dari taraf bibit, ketersediaan pakan hijau, hingga infrastruktur rantai dingin memang menuntut waktu serta adaptasi teknologi yang tidak sebentar bagi seluruh pelaku usaha.
Oleh karena itu, pemerintah terpaksa masih memberikan ruang bernapas alias kelonggaran izin impor bahan baku susu demi menjaga kelangsungan produksi pabrik-pabrik dalam negeri. Akibatnya, kebijakan relaksasi ini sengaja ditempuh biar pabrik olahan susu nggak sampai gulung tikar atau kekurangan stok di tengah masa transisi penataan industri nasional. Namun, kemudahan impor ini sifatnya cuma sementara waktu saja sambil menunggu kesiapan peternakan lokal menghasilkan pasokan yang benar-benar stabil dan berkesinambungan.
“Selama aktivitas impor itu memang murni buat memenuhi porsi bahan baku industri yang belum tercukupi, kita pasti kasih kelonggaran dan izin yang fleksibel. Tapi ingat ya, begitu bahan bakunya udah melimpah dan sanggup diproduksi sendiri oleh peternak Indonesia, kita wajib hukumnya memprioritaskan hasil keringat bangsa sendiri!” tegas Sarmuji memberi peringatan keras. Lebih lanjut, pernyataan tegas ini membuktikan komitmen total pemerintah dalam melindungi hasil produksi peternak dalam negeri dari gempuran produk luar yang berpotensi merusak harga pasar lokal.
Bahkan hingga detik ini, fakta pahit menunjukkan bahwa sebagian besar pabrik pengolahan susu raksasa di Indonesia masih menggantungkan nasibnya pada pasokan bahan baku impor dari negara tetangga akibat stok lokal yang masih sangat langka. Padahal, ketergantungan yang terlampau tinggi pada pasar internasional membuat industri susu nasional sangat rentan terkena imbas lonjakan harga komoditas global serta fluktuasi nilai tukar mata uang. Oleh sebab itu, pembenahan sektor hulu peternakan sapi perah menjadi agenda paling mendesak yang nggak bisa ditawar-tawar lagi oleh pemerintah saat ini.
Akibat dari krisis pasokan bahan baku segar tersebut, angka tingkat keterpakaian kapasitas alias utilisasi pabrik pengolahan susu di Indonesia baru bisa menyentuh angka sekitar 75 persen aja, angka yang dinilai jauh dari kata ideal oleh para pengamat ekonomi. Selain itu, kondisi kapasitas yang tersisa menganggur sampai 25 persen ini bikin ongkos produksi pabrik jadi membengkak tajam dan kurang efisien secara ekonomi. Maka dari itu, ketidakmampuan peternak lokal dalam menyuplai pasokan susu segar secara kontinyu terus menjadi batu sandungan utama bagi kemajuan industri manufaktur olahan susu nasional.
Makanya ke depannya, Sarmuji bertekad bulat memacu habis-habisan pemenuhan bahan baku lokal buat manufaktur olahan susu biar tingkat utilisasi pabrik sanggup melompat naik ke kisaran 80 sampai 85 persen dalam waktu dekat. Bahkan, lonjakan kapasitas produksi ini diyakini bakal mendongkrak daya saing produk olahan susu buatan Indonesia di kancah persaingan pasar regional. Di samping itu, terpenuhinya pasokan bahan segar secara konsisten bakal menjamin kelangsungan investasi jangka panjang di sektor pengolahan makanan dan minuman nasional.
“Kita bakal menjamin dan memastikan seluruh kebutuhan bahan baku buat pabrik industri dalam negeri terpenuhi dengan sangat baik tanpa ada hambatan,” pungkas Sarmuji mengakhiri pembicaraannya dengan nada optimis. Terlebih lagi, janji manis pemerintah ini menjadi angin segar bagi para pelaku usaha manufaktur sekaligus harapan baru bagi jutaan peternak lokal di seluruh penjuru nusantara biar bisa makin berdaya dan sejahtera di negeri sendiri.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

