MAUMERE, Desapenari.id – Duka mendalam menyelimuti dunia pendidikan di Kabupaten Sikka. Seorang siswa kelas 8 SMP berinisial STN (14) harus kehilangan nyawa dengan cara yang sangat tragis. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, tak bisa menyembunyikan rasa prihatinnya atas kepergian sang siswa yang masih belia tersebut.
Dengan nada sedih, Patrisius menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga korban. Ia mengaku merasa kehilangan yang begitu dalam, terlebih setelah pihak sekolah mengabarkan bahwa STN ternyata memiliki bakat menyanyi yang luar biasa. “Kami sangat prihatin sekali. Akibatnya, kami memang dari dinas, dari sisi pendidikan kami merasa kehilangan,” ujar Patrisius di Maumere, Sabtu (28/2/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa insiden ini langsung menjadi perhatian serius bagi Dinas Pendidikan. Ia sangat berharap aparat penegak hukum segera turun tangan dan menangani kasus ini secara profesional. Proses hukum yang cepat dan transparan sangat dinantikan, agar pelaku bisa mendapatkan hukuman seadil-adilnya jika terbukti bersalah melakukan pembunuhan.
Meskipun pihak dinas belum bisa memastikan secara medis penyebab kematian siswi di Sikka tersebut, namun Patrisius menyebut kronologi kejadian yang beredar kuat mengarah pada dugaan pembunuhan. Ia menegaskan, jika memang terbukti ada unsur pembunuhan, maka tindakan tersebut sangat keji dan tidak manusiawi. “Kalau memang dibunuh, maka tindakan yang dilakukan kepada korban sangat tragis,” tandasnya penuh emosi.
Oleh karena itu, ia mendesak agar pelaku secepatnya ditangkap dan diadili. Menurutnya, penegakan hukum yang adil tidak hanya memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban yang berduka, tetapi juga menjadi edukasi berharga dan pembelajaran bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kronologi Mencekam: Pergi Ambil Gitar, Berakhir Penemuan Jasad di Sungai
Peristiwa nahas ini berawal dari rencana sederhana. Pada Jumat, 20 Februari 2026, STN pamit pergi ke rumah kerabatnya yang bernama FGR. Tujuannya hanya satu: mengambil gitar miliknya. Namun, siapa sangka, kepergian itu menjadi pamungkas.
Hingga sore hari, STN tak kunjung pulang. Cemas melanda keluarga. Sekitar pukul 20.00 Wita, mereka mulai mencari STN ke rumah FGR. Namun, rumah itu kosong dan tidak membuahkan hasil. Hati keluarga semakin galau.
Tak putus asa, keluarga kemudian melaporkan hilangnya STN ke Polsek Kewapante pada Minggu (22/2/2026). Bersama warga, mereka melakukan pencarian besar-besaran, salah satunya di sekitar Sungai Watuwogat.
Saat pencarian itulah, suasana berubah mencekam. Keluarga mencium bau busuk yang sangat menyengat dari arah sungai. Seorang saksi mata, EM (46), akhirnya menemukan jasad STN dalam kondisi mengenaskan, tergeletak di atas tumpukan rerumputan kering dan kayu bambu. Ia segera berteriak menginformasikan temuannya kepada warga lain yang masih mencari.
Pelaku Ternyata Kakak Kelas! Motif Tersinggung dan Cekcok Soal HP
Kasat Reskrim Polres Sikka Iptu Reinhard Dionisius Siga membeberkan fakta yang lebih mengejutkan. Korban STN ternyata dibunuh oleh kakak kelasnya sendiri di sekolah, yakni FRG. Ya, pembunuh sadis itu adalah orang yang dikenal korban.
Peristiwa bermula ketika terjadi perselisihan sengit di antara keduanya. Reinhard menjelaskan, situasi langsung memanas setelah korban menolak tindakan tidak pantas yang diduga dilakukan oleh FRG. Korban bahkan mengancam akan melaporkan perbuatan kakak kelasnya tersebut.
Ketegangan pun semakin tak terbendung. Dalam situasi emosi yang memuncak, tersangka FRG dengan paksa merampas telepon genggam milik korban. Aksi ini langsung memicu kontak fisik di antara mereka.
Dalam kondisi kalap dan dikuasai amarah, FRG kemudian mengambil sebilah parang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyerang korban dengan sadis. “FRG melukai leher dan kepala korban berulang kali hingga mengakibatkan korban meninggal dunia,” ujar Reinhard dalam keterangan resminya, Sabtu (28/2/2026).
Usai memastikan korbannya tak bernyawa, FRG tak langsung panik. Dengan tenang, ia menyembunyikan jasad STN di belakang rumahnya. Ia menutupi tubuh korban dengan daun talas dan bambu untuk mengelabui warga. Setelah itu, FRG melarikan diri ke wilayah Kabupaten Ende untuk menghindari kejaran polisi. Namun, berkat kerja cepat aparat, pelaku akhirnya berhasil dibekuk beberapa hari kemudian.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar tentang pergaulan dan kekerasan di lingkungan pelajar. Semoga keluarga korban diberikan ketabahan dan pelaku menerima hukuman setimpal.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

