Jakarta, Desapenari.id – Begitu roda pesawat kepresidenan menyentuh landasan Pangkalan TNI AU Supadio di Kabupaten Kubu Raya, Presiden Prabowo Subianto langsung bergerak cepat tanpa membuang waktu. Sabtu pagi (22/8/2026), ia belum sempat beristirahat dari penerbangan, namun pilihannya bulat: memimpin langsung rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang melanda Kalimantan Barat. Langkah ini sontak menarik perhatian publik karena menunjukkan betapa seriusnya situasi darurat asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah.
Sekadar mengingatkan, kebakaran lahan di Kalbar bukan isu baru. Namun, tahun ini laporan titik panas membuat alis para petinggi negara berkerut. Begitu duduk di ruang rapat darurat, Presiden menyimak dengan seksama laporan demi laporan yang disampaikan oleh tim ahli. Yang paling mencengangkan, dalam rapat itu, Tenaga Ahli Kepala BNPB, Brigjen TNI (Purn) Asrianus Bulo, secara blak-blakan melaporkan temuan ribuan titik panas hasil pantauan satelit selama 24 jam terakhir.
Laporan pertama yang meluncur deras dari mulut Bulo sontak membuat suasana ruang rapat menjadi hening. “Kami laporkan bahwa titik hotspot ini didominasi di wilayah Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Kayong Utara di sektor Selatan. Kemudian, jangan lupakan wilayah timur seperti Kabupaten Sanggau, Sintang, dan Sambas yang juga tak kalah panas,” tegas Bulo dalam keterangan resmi yang kemudian dirilis oleh Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden pada Sabtu itu juga. Semua mata pun tertuju pada peta sebaran api yang ia tunjukkan.
Bukan main angkanya! Berdasarkan hasil pemantauan satelit canggih, tim BNPB mendeteksi adanya 198 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi yang tersebar di berbagai penjuru Kalbar. Jumlah itu belum seberapa jika dibandingkan dengan temuan lain yang membuat dagu Presiden sedikit terangkat. Ternyata, masih ada 3.100 hotspot lain dengan tingkat kepercayaan menengah yang mengintai, serta 406 titik panas berkategori rendah. Bayangkan, jika semua titik ini tidak segera ditangani, kabut asap tebal bisa mengganggu aktivitas warga dan bahkan penerbangan.
Untungnya, pemerintah tak tinggal diam. Di tengah rapat yang berlangsung sengit, para menteri dan kepala lembaga juga mendapat penyegaran mengenai prakiraan cuaca terkini. Dari hasil pemantauan BMKG, ada secercah harapan di langit Kalbar. Diprediksi, hujan dengan intensitas ringan berpotensi turun terutama di wilayah timur Kalimantan Barat pada rentang 21 hingga 27 Agustus 2026. Kabar ini pun disambut lega, meski semua paham bahwa hujan ringan saja belum cukup memadamkan api di lahan gambut yang membara.
Namun, pemerintah tidak hanya berpasrah pada hujan. Sebelumnya, sejak 11 hingga 18 Agustus 2026, tim gabungan telah menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan buatan. Sayangnya, operasi ini sempat terpaksa dihentikan sementara. Mengapa? Karena berdasarkan pantauan, tidak terdapat potensi awan yang memadai untuk dimodifikasi. Kondisi ini tentu menjadi kendala klasik di musim kemarau, di mana langit kerap cerah tanpa gumpalan awan tebal yang bisa ditaburi garam.
Tapi jangan khawatir! Semangat tim di lapangan tak pernah padam. Bulo kembali meyakinkan Presiden bahwa operasi modifikasi cuaca akan segera digulirkan lagi. Setelah berkoordinasi intensif dengan BMKG, mereka mendapati kabar gembira: potensi awan diprediksi akan muncul kembali antara 23 hingga 27 Agustus 2026. “Kami sudah rapat dengan BMKG dan menyimpulkan bahwa potensi awan akan terjadi pada tanggal 23-27. Karena itu, kami akan segera melancarkan operasi modifikasi cuaca,” ujar Bulo dengan nada penuh keyakinan. Artinya, dalam hitungan hari, pesawat-pesawat OMC akan kembali bersiap menyemai garam di langit Kalbar.
Rapat darurat ini sendiri tidak berlangsung setengah hati. Presiden sengaja mengumpulkan semua elemen penting agar penanganan karhutla bisa terintegrasi dan cepat. Di meja bundar, duduk delapan pimpinan kementerian dan lembaga dari pemerintah pusat. Mereka berbaur dengan 10 pimpinan pemerintah daerah yang datang membawa data lapangan masing-masing. Suasana komunikasi pun terlihat cair, mengingat karhutla adalah momok yang membutuhkan kerja sama lintas sektor.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, yang turut mendampingi, merinci kehadiran para pejabat tinggi tersebut. “Pada hari ini, Sabtu 22 Agustus 2026, telah hadir 8 pimpinan kementerian/lembaga dari pusat, kemudian 10 pimpinan pemerintah daerah, gubernur, kapolda, pangdam, Basarnas, BMKG, dan juga unsur BNPB dari daerah, semua berkumpul di Posko Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan,” ungkap Teddy di sela-sela kesibukan rapat. Kehadiran pangdam dan kapolda secara fisik menunjukkan bahwa penanganan karhutla kali ini juga menyangkut aspek keamanan dan kesiapsiagaan personel.
Yang menarik perhatian adalah cepatnya respons Presiden Prabowo. Tak sekadar mendengar laporan, ia bahkan aktif bertanya mengenai kesiapan helikopter water bombing dan kendala di lapangan. Ia menekankan bahwa pemadaman harus dilakukan sejak dini agar titik api kecil tidak membesar. Di sisi lain, gubernur dan bupati yang hadir mendapat jatah waktu untuk menyampaikan keluhan, terutama soal akses jalan menuju lokasi kebakaran yang terhambat kabut asap.
Selain itu, dalam rapat itu juga ditegaskan bahwa sinergi antara TNI, Polri, dan BNPB di daerah akan diperkuat. Para kapolda dan pangdam langsung mendapat instruksi untuk menurunkan personel gabungan ke titik-titik rawan. Mereka diminta untuk melakukan pembasahan lahan secara masif, terutama di area gambut yang sulit dipadamkan jika sudah terbakar. Langkah ini diambil sebagai antisipasi karena titik api bisa muncul kembali meski sudah dipadamkan permukaannya.
Di sisi lain, pemerintah daerah diminta untuk lebih gencar memberikan edukasi kepada petani dan masyarakat sekitar agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Upaya persuasif ini dilakukan bersamaan dengan penegakan hukum tegas bagi pelaku pembakaran. Semua ini didiskusikan dengan hangat, bahkan beberapa menteri saling bertukar data dan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan.
Dengan segala dinamika di ruang rapat, satu hal yang menjadi benang merah: penanganan karhutla tahun ini harus lebih baik dari sebelumnya. Kehadiran Presiden di Posko bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk komitmen nyata bahwa negara hadir di tengah kepulan asap. Rencana operasi modifikasi cuaca yang akan dimulai 23 Agustus mendatang diharapkan mampu menjadi game changer, membasahi bumi Kalbar yang kering dan meredam amukan si jago merah.
Sementara itu, Tim BNPB terus memantau pergerakan angin dan kelembaban udara. Mereka bekerja 24 jam penuh, mengejar setiap celah awan yang bisa diguyur. Koordinasi dengan BMKG pun berjalan intens, bahkan hampir setiap jam mereka saling mengabarkan pembaruan data. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi keterlambatan saat potensi awan benar-benar terlihat.
Tidak lupa, masyarakat pun diajak untuk berperan serta. Jika melihat titik api, mereka segera melapor ke aparat terdekat. Inilah yang disebut sebagai kewaspadaan kolektif, di mana pemerintah dan rakyat bergandengan tangan melawan musuh bernama karhutla. Laporan cepat dari warga seringkali menjadi penentu keberhasilan pemadaman dini.
Pada akhir rapat, Presiden menyampaikan kesimpulan singkat namun tegas. Ia meminta agar posko komando tetap aktif, tidak hanya saat ada rapat, tapi setiap hari. Ia juga memerintahkan jajaran untuk menyiapkan logistik dan alat pemadam yang cukup di setiap kabupaten terdampak. Semua perintah ini disambut dengan anggukan dari para peserta yang siap bergerak.
Menyusul arahan tersebut, gubernur Kalbar langsung menyusun jadwal patroli darat dan udara. Mereka akan memetakan kembali area-area yang berpotensi memunculkan titik api baru. Hasil patroli ini akan dilaporkan setiap pagi dan sore ke pusat, sehingga jika ada lonjakan titik panas, bantuan bisa segera dikirim.
Dengan semua langkah strategis ini, harapan mulai merekah. Meskipun tantangan besar masih menghadang, khususnya cuaca ekstrem dan lahan gambut yang mudah terbakar, optimisme tetap terjaga. Operasi modifikasi cuaca yang direncanakan ulang, ditambah dukungan penuh aparat gabungan, diyakini mampu menekan jumlah hotspot secara signifikan. Semua mata kini tertuju pada langit Kalbar, menanti awan-awan itu datang dan membawa kesegaran. Saat itulah, rakyat bisa sedikit bernapas lega tanpa serbuan asap yang mengganggu.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

