TANGERANG, Desapenari.id – Suasana malam di kawasan industri Bunder, Cikupa, tiba-tiba berubah mencekam. Api raksasa melahap habis pabrik cat PT Futanlux Chemitraco tanpa ampun, Rabu (11/2/2026) malam. Warga berhamburan keluar, suara sirine meraung-raung, dan langit jingga menyala bak gunung berapi kecil. Bukan main, butuh waktu sembilan jam lamanya bagi para petugas untuk menaklukkan si jago merah yang begitu brutal.
Kepala BPBD dan Damkar Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, langsung mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima sinyal bahaya pertama dari masyarakat pada pukul 22.09 WIB. Tanpa menunggu perintah, tim segera bereaksi cepat. Tak ingin kecolongan, mereka langsung mengaktifkan Pusdalops dan mengerahkan kekuatan penuh. Dengan sirene meraung, kendaraan pemadam melesat menerobos malam. Dalam hitungan sepuluh menit saja, mereka sudah tiba di lokasi kejadian. Taufik pun menambahkan, proses pemadaman berlangsung dramatis dan baru berakhir saat fajar menyingsing, tepat pukul 07.15 WIB keesokan harinya.
Operasi pemadaman ini tidak main-main. Sebanyak sepuluh unit mobil pemadam bahu-membahu bekerja tanpa henti. Mereka datang dari berbagai penjuru: Mako Curug mengirim dua unit, Pos Pasar Kemis satu unit, Pos Rajeg satu unit, Pos Tigaraksa satu unit, Pos BSD dua unit, Pos Kelapa Dua satu unit, Pos Balaraja satu unit, dan Pos Sepatan satu unit. Seluruh armada ini berjibaku melawan bara yang terus menganga. Situasi di lapangan sempat menegangkan karena material cat merupakan benda mudah terbakar, membuat api cepat menjalar ke seluruh sudut bangunan. Meski demikian, koordinasi antarpos berjalan mulus.
Apa yang terbakar? Bangunan pabrik cat yang menjulang di Jalan Industri Raya III 8-6, Kawasan Industri Bunder, menjadi santapan empuk api. Pabrik itu seolah tak berdaya saat lidah api mulai menjilat dinding dan atap. Para petugas menyemprotkan air dari berbagai sudut, sementara warga hanya bisa menonton dari kejauhan dengan perasaan cemas. Setiap kali api mulai mereda di satu sisi, tiba-tiba ia menyala lagi di sisi lain. Namun, berkat kegigihan tim, akhirnya seluruh titik api dapat dilumpuhkan.
Lalu, apa penyebab kebakaran ini? Sampai berita ini diturunkan, penyebab pastinya masih menjadi misteri. Tim investigasi kini tengah bekerja keras mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi. Taufik menegaskan bahwa proses pendataan dan penyelidikan masih berlangsung intensif. Mereka tidak ingin gegabah mengambil kesimpulan sebelum semuanya jelas. Spekulasi liar mulai bermunculan di kalangan pekerja, mulai dari korsleting listrik hingga kelalaian teknis, namun semua itu masih sebatas dugaan. Kepastian hanya akan datang setelah laboratorium forensik kebakaran merampungkan tugasnya.
Syukurlah, di tengah dahsyatnya amukan api, tidak ada satu pun korban jiwa maupun korban luka. Semua pekerja berhasil menyelamatkan diri. Manajemen pabrik rupanya sigap mengevakuasi karyawan begitu tanda bahaya muncul. Nyawa memang menjadi prioritas utama. Namun, meski selamat dari maut, pabrik ini tidak selamat dari kerugian materiil yang sangat besar. Kerusakan total menimpa mesin produksi, bahan baku, dan stok cat jadi. Berdasarkan hitungan cepat tim asuransi dan manajemen, angka kerugian sementara ditaksir mencapai Rp 6 miliar. Uang sebanyak itu melayang sia-sia dalam waktu kurang dari setengah hari.
Kini, situasi di lokasi kebakaran telah berhasil dikendalikan sepenuhnya. Taufik memastikan api sudah padam total dan kondisi lingkungan sekitar aman. Namun, bau hangus masih menyengat dan puing-puing berserakan di mana-mana. Para pekerja mulai berani mendekat, namun hanya untuk melihat sisa-sisa bangunan yang dulu menjadi tempat mereka mencari nafkah. Beberapa dari mereka terlihat termenung, mungkin membayangkan berapa lama lagi pabrik akan beroperasi normal kembali. Manajemen perusahaan sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait nasib produksi ke depan.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pahit bagi kawasan industri lainnya. Api memang butuh waktu sembilan jam untuk padam, tapi dampaknya akan terasa jauh lebih lama. Potensi pemutusan hubungan kerja, terhentinya rantai pasok, hingga hilangnya kepercayaan konsumen kini membayangi PT Futanlux Chemitraco. Akankah pabrik ini bangkit kembali, atau justru meredup selamanya? Semua masih tergantung pada hasil investigasi dan seberapa cepat proses revitalisasi dilakukan. Satu hal yang pasti, malam itu Cikupa tidak akan pernah melupakan kobaran api yang melalap mimpi sebesar Rp 6 miliar.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

