TAPANULI TENGAH, Desapenari.id – Sabtu (18/7/2026) sore menjadi hari yang mencekam bagi warga Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Pasalnya, banjir bandang yang datang tiba-tiba langsung melanda permukiman mereka tanpa memberikan kesempatan bagi warga untuk menyelamatkan diri.
Arus banjir yang begitu deras pun memaksa sejumlah warga terjebak di dalam rumah masing-masing. Mereka tidak bisa keluar rumah karena air yang mengalir sangat kencang dan membahayakan jiwa.
Seorang warga bernama Eka Suryani Pasaribu dengan berani melakukan siaran langsung melalui akun Facebook miliknya untuk memperlihatkan kondisi mengerikan yang sedang dialami keluarganya. Dalam tayangan video yang berdurasi sekitar 30 menit itu, aliran air tampak sangat deras dan bahkan membawa potongan-potongan kayu berukuran besar yang menghanyutkan segala sesuatu di jalurnya.
Eka bersama suami dan anak-anaknya hanya bisa pasrah bertahan di dalam rumah sambil menunggu air surut. Mereka tidak berani melangkahkan kaki ke luar karena akses keluar rumah telah sepenuhnya tertutup oleh banjir. Suara tangisan dan jeritan meminta pertolongan pun terdengar jelas dari dalam rumah.
Hujan deras dua hari, tanggul kembali ambruk
Sebelum banjir bandang ini terjadi, wilayah Tapanuli memang telah diguyur hujan deras selama dua hari berturut-turut. Akibatnya, dua kelurahan di Kecamatan Tukka, yakni Hutanabolon dan Sipange, harus merasakan dampak buruk dari luapan air yang tak terkendali.
Saat air mulai merembes masuk ke dalam rumah, Eka dan anggota keluarganya langsung panik dan berteriak histeris. “Ya Allah, air sudah masuk ke rumah! Selamatkan nyawa kami!” teriak Eka Suryani sambil terus menangis histeris.
Keluarga itu memilih bertahan di dalam rumah sambil terus memantau ketinggian air yang semakin bertambah. Mereka tidak bisa keluar rumah karena arus di luar sana sangat deras dan berbahaya. Setiap detik terasa seperti jam bagi mereka yang terus diliputi ketakutan.
Di tengah kepanikan yang melanda, Eka terus memperingatkan anggota keluarganya ketika melihat kayu-kayu besar terbawa arus mendekati rumah mereka. “Awas! Ada kayu besar! Redalah hujan ini ya Allah. Tolong kami sudah terjebak. Mau keluar juga tidak bisa. Airnya sudah sangat besar,” ucap Eka dengan suara bergetar.
Warga menduga tanggul kembali jebol
Menurut pengakuan Eka, banjir yang melanda Hutanabolon kali ini diduga kuat terjadi karena tanggul di sekitar permukiman kembali jebol. Ia pun meminta pemerintah agar segera memberikan perhatian serius dan melakukan penanganan terhadap kondisi yang semakin memprihatinkan ini.
Warga sudah sangat lelah karena banjir selalu datang setiap kali hujan deras mengguyur wilayah mereka. “Buat pemerintah, tolong kami! Bagaimana kalian bisa melihat kami begini? Setiap hujan, tanggul pasti jebol!” keluh Eka dengan nada putus asa.
Eka juga mempertanyakan kualitas tanggul yang sebelumnya telah dibangun sebagai upaya pencegahan banjir. Menurutnya, tanggul tersebut sama sekali tidak mampu melindungi permukiman warga ketika intensitas hujan meningkat drastis.
“Tanggulnya jebol, padahal sudah dibuat. Berarti pembangunan tanggulnya kurang bagus,” tegas Eka sambil menahan tangis.
Keluhan serupa tentang tanggul yang rapuh ini ternyata sudah berulang kali disampaikan oleh warga kepada pihak berwenang. Namun, penanganan yang dilakukan sejauh ini dinilai belum mampu mengatasi akar masalah banjir di Kelurahan Hutanabolon.
Kayu-kayu besar terbawa arus, warga kian khawatir
Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, arus banjir terlihat berwarna kecokelatan dan bergerak sangat cepat di sekitar pemukiman warga. Kondisi ini tentu saja membuat warga semakin was-was karena material-material berbahaya seperti kayu-kayu besar ikut terbawa arus dan berpotensi menghantam rumah-rumah mereka.
Keluarga Eka dan warga lainnya pun tidak bisa berbuat banyak selain terus bertahan di dalam rumah dan berdoa agar hujan segera reda. Mereka berharap permukaan air tidak terus bertambah tinggi karena jika semakin naik, maka seluruh rumah mereka bisa tenggelam.
Hingga berita ini diturunkan, belum dapat dipastikan berapa jumlah rumah yang terdampak banjir di Hutanabolon dan Sipange. Informasi mengenai korban jiwa, warga yang mengungsi, maupun kerusakan bangunan juga masih belum dapat dikonfirmasi dari pihak berwenang.
Banjir kembali landa, warga kian trauma
Banjir kali ini disebut memiliki arus yang hampir sama kuatnya dengan bencana sebelumnya yang pernah melanda Hutanabolon. Hal ini tentu saja membuat warga semakin trauma dan khawatir terhadap keselamatan keluarga mereka.
Warga Hutanabolon pun berharap pemerintah segera memeriksa kondisi tanggul dan melakukan perbaikan yang dapat mencegah banjir berulang. Mereka tidak ingin terus menerus hidup dalam ketakutan setiap kali musim hujan tiba.
Selain penanganan darurat, warga juga meminta pemerintah menyediakan solusi jangka panjang agar air tidak terus menerus masuk ke permukiman setiap kali hujan deras mengguyur. Mereka ingin menikmati ketenangan dan keamanan di rumah masing-masing tanpa harus khawatir banjir datang sewaktu-waktu.
Sampai artikel ini dipublikasikan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah maupun instansi penanggulangan bencana mengenai penyebab pasti banjir, jumlah warga terdampak, serta upaya evakuasi yang sedang dilakukan di lokasi kejadian. Warga pun masih terus menanti kepastian dan bantuan dari pihak berwenang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

