SUMENEP, Desapenari.id – Coba bayangkan, Mau masak buat anak-anak, tapi kompor tidak mau menyala karena gas habis. Padahal, sudah berkeliling cari elpiji 3 kg ke mana-mana, tapi hasilnya nihil! Nah, inilah yang saat ini dialami oleh warga kepulauan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Selama beberapa hari terakhir, mereka benar-benar kesulitan mendapatkan gas melon tersebut. Sungguh situasi yang meresahkan, bukan?
Kesulitan ini paling parah dirasakan oleh warga yang tinggal di Pulau Kangean, tepatnya di Desa Kalisangka, Kecamatan Arjasa. Di sana, masyarakat mengeluh karena hampir semua pangkalan dan pengecer kehabisan stok. Akibatnya, aktivitas memasak sehari-hari pun terganggu total.
Salah seorang warga bernama Mu’awiyah dengan nada kesal menceritakan bahwa stok elpiji 3 kg di wilayah mereka sudah kosong selama berhari-hari. “Berhari-hari kosong, Mas,” ujarnya dengan wajah cemas. Kondisi ini memaksa banyak ibu rumah tangga harus berpikir keras untuk menyiapkan makanan bagi keluarga mereka. Ada yang terpaksa beralih ke kayu bakar, ada juga yang harus merogoh kocek lebih dalam jika masih menemukan tabung gas di pengecer.
Namun, masalah tidak berhenti di situ. Bagi warga yang benar-benar membutuhkan dan kebetulan masih menemukan stok di tingkat pengecer, mereka harus merelakan dompetnya terkuras lebih banyak. Pasalnya, harga elpiji 3 kg melonjak drastis hingga mencapai Rp27.000 hingga Rp28.000 per tabung. Wah, jauh di atas harga eceran tertinggi atau HET yang sudah ditetapkan! Ini jelas sangat memberatkan masyarakat kecil yang sehari-hari menggantungkan hidup pada elpiji murah tersebut.
Keluhan serupa juga datang dari Nami, warga Desa Angkatan. Dengan nada frustrasi, ia mengatakan bahwa elpiji 3 kg sulit didapat karena pangkalan dan pengecer di sekitarnya sama-sama tidak memiliki stok. “Kemana-mana bilangnya kosong, abis,” ujarnya. Para pedagang pun hanya bisa mengangkat bahu karena pasokan dari agen juga tidak kunjung tiba.
Distribusi Tersendat, Antrean Panjang di Perak Jadi Biang Kerok
Lantas, apa sebenarnya penyebab kelangkaan ini? Kabag Perekonomian Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, akhirnya buka suara. Menurut penjelasannya, sulitnya mendapatkan elpiji 3 kg di wilayah kepulauan ini murni disebabkan oleh keterlambatan distribusi. Jadi, bukan karena kuota yang dipotong atau hal-hal lain yang menakutkan.
Mari kita telusuri lebih dalam! Dadang menjelaskan bahwa pengiriman elpiji dari Surabaya ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji atau SPBE di Sumenep mengalami hambatan yang cukup serius. Hambatan utamanya adalah antrean panjang pengisian di wilayah Perak, Surabaya. “Setelah kita lakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan pihak Pertamina, ternyata memang di Perak terjadi antrean panjang pada waktu pengisian. Mobil-mobil tangki elpiji itu mengantre berjam-jam,” ujar Dadang dengan nada menjelaskan.
Akibat dari kemacetan di hulu ini, distribusi ke daerah-daerah, termasuk kepulauan Sumenep, ikut terganggu secara signifikan. “Karena antrean di pengisian SPBE Perak itu, otomatis berimbas pada seluruh jadwal pengiriman ke daerah,” tambahnya. Biasanya, setiap SPBE di Sumenep bisa mendapatkan jatah empat tangki elpiji setiap harinya. Namun, karena masalah antrean tersebut, jumlah yang bisa terisi hanya tiga tangki. Tentu ini mengurangi volume pasokan yang seharusnya tiba tepat waktu.
Namun, ada kabar baik! Dadang dengan tegas menegaskan bahwa kuota elpiji 3 kg untuk wilayah Sumenep tetap aman sesuai alokasi. Tidak ada pemotongan kuota atau pengurangan jatah dari pemerintah pusat. “Saya tegaskan, tidak ada pengurangan sedikit pun dari sisi kuota. Semuanya tetap sesuai dengan alokasi masing-masing SPBE yang ada di Kabupaten Sumenep,” tegasnya. Pernyataan ini penting untuk mengklarifikasi isu-isu liar yang mungkin beredar di masyarakat.
Pemkab Sumenep Bergerak Cepat, Percepatan Distribusi Jadi Prioritas
Menghadapi situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Sumenep tidak tinggal diam. Mereka sedang berupaya mati-matian untuk mempercepat distribusi elpiji ke wilayah kepulauan. “Kami akan terus mengupayakan kepada Pertamina, SPBE, maupun para agen, agar pendistribusian ke masing-masing kepulauan di Sumenep ini segera dipercepat pengirimannya,” ungkap Dadang dengan penuh tekad. Ia juga mengingatkan bahwa jangan sampai beberapa pulau lain mengalami kelangkaan atau kesulitan serupa terkait elpiji 3 kg.
Langkah konkret pun segera diambil. Pemkab Sumenep terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk mencari solusi jangka pendek dan panjang. Mereka berharap dalam hitungan hari, stok elpiji 3 kg dapat kembali normal dan harga di pengecer pun bisa turun ke level yang wajar. Warga pun diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying, karena kuota dipastikan tetap aman.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

