FLORES TIMUR, Desapenari.id — Lumpur hitam pekat bercampur batu-batu besar seketika mengubur aspal panas. Badan jalan di Desa Nurabelen, Kecamatan Ilebura, Kabupaten Flores Timur, NTT, mendadak berubah jadi lautan material vulkanik. Warga hanya bisa terpaku menyaksikan satu-satunya jalur penghubung mereka lenyap ditelan lahar dingin. Material mematikan itu datang tanpa peringatan. Hujan deras menggunakan kawasan puncak Gunung Lewotobi Laki-laki sebagai luncuran, Selasa (3/3/2026) sore. Air bercampur abu vulkanik, pasir, dan bebatuan sebesar kepalan tangan manusia meluncur deras menerjang apa pun yang menghadang.
Akibatnya, koneksi tujuh desa langsung lumpuh total! Bayangkan, Desa Nurabelen, Riangrita, Lewotobi, Persiapan Lewouran, Lewo Awang, Riang Baring, dan Watobuku kini bagai pulau terisolasi. Tidak ada kendaraan roda dua maupun roda empat yang bisa melintas.
Babinsa Kecamatan Wulanggitang, Yohanes Bada Puka, mengungkapkan situasi mengkhawatirkan saat dihubungi Rabu (4/3/2026). “Akses warga saat ini benar-benar lumpuh total, Pak. Lumpur dan batu besar menutup seluruh badan jalan,” ujarnya dengan nada prihatin.
Yohanes menjelaskan, jalur yang tertimbun material lahar merupakan satu-satunya urat nadi transportasi darat bagi ribuan kepala keluarga di tujuh desa tersebut. Sejak Selasa kemarin, puluhan warga yang berencana menuju Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur, terpaksa mengurungkan niat. Mereka hanya bisa pasrah di rumah masing-masing.
Situasi yang sama dialami para tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Ilebura. Beberapa di antaranya terjebak tidak bisa masuk kerja. Sementara yang lain tidak bisa pulang ke keluarga. Pelayanan kesehatan di wilayah terdampak pun terancam terganggu.
Erupsi lahar dingin Gunung Lewotobi Laki-laki ini memang datang tiba-tiba. Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki, Emanuel Rofinus Bere, menjelaskan kronologi kejadian saat dikonfirmasi, Selasa.
“Alat kami merekam adanya getaran banjir dari gunung api Lewotobi,” ungkap Rofinus. Ia menambahkan, secara visual hingga pukul 17.00 Wita, hujan deras masih terus mengguyur area puncak. Kondisi inilah yang memicu turunnya material vulkanik yang telah mengendap di lereng gunung.
Hujan deras yang mengguyur selama beberapa jam bertindak sebagai pemicu utama. Air bah yang mengalir melalui alur-alur sungai di lereng gunung secara otomatis menggerus dan membawa material piroklastik hasil erupsi sebelumnya. Campuran lumpur, pasir, kerikil, dan bongkahan batu andesit itu kemudian meluap hingga ke badan jalan di Desa Nurabelen.
Warga setempat mengaku baru pertama kalinya melihat banjir lahar sebesar ini. Mereka menyaksikan langsung aliran material berwarna abu-abu pekat menggeliat seperti ular raksasa menuruni lereng. Suara gemuruh batu-batu besar saling beradu terdengar hingga radius beberapa kilometer.
Kini, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan berjibaku membersihkan material menggunakan alat berat. Namun, volume material yang menumpuk mencapai ketebalan lebih dari satu meter di beberapa titik. Proses evakuasi diperkirakan memakan waktu berhari-hari.
Warga berharap bantuan segera tiba. Mereka membutuhkan logistik dan akses darurat untuk beraktivitas. Sementara itu, status Gunung Lewotobi Laki-laki masih dalam level waspada. Potensi banjir lahar susulan masih mengintai jika hujan deras kembali mengguyur kawasan puncak.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit betapa dahsyatnya kekuatan alam. Gunung Lewotobi tidak hanya memuntahkan material saat erupsi, tetapi juga saat hujan turun membawa lahar dingin yang tak kalah mematikan. Flores Timur kini menanti: kapan jalan ini kembali terbuka?
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

