JEMBER, Desapenari.id – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember langsung bergerak cepat mengambil sampel tanah di sawah Dusun Lamparan, Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari. Langkah ini mereka lakukan untuk menelusuri dugaan kuat pencemaran dari TPA Pakusari yang kini meresahkan petani.
Dugaan pencemaran dari gunungan sampah di TPA tersebut diduga menjadi biang kerok utama penyebab tanaman padi petani gagal total panen. Sungguh memprihatinkan!
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Jember, Luhur Prayogo, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengutus Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) desa setempat untuk mengecek kondisi sawah dan saluran irigasi pada Jumat (24/4/2026). Luhur menegaskan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu hasil pengujian sampel tanah dan limbah air lindi TPA di laboratorium.
“Sampel tanah tersebut telah diberikan ke Bidang PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) untuk selanjutnya disampaikan ke laboratorium tanah Universitas Jember,” terangnya dengan nada penuh harap, Senin (27/4/2026).
HASIL CEK PPL MENGERIKAN! pH Tanah Anjlok, Padi Tak Bisa Tumbuh!
Lebih lanjut, selain mengambil sampel tanah, PPL juga turut mengecek pH (derajat keasaman) tanah di sawah yang diduga kuat terdampak pencemaran limbah TPA. Luhur menyebutkan bahwa tanah di sana memiliki pH yang bervariasi, bahkan sampai ditemukan lahan dengan tingkat keasaman sangat ekstrem dan tak bisa lagi ditanami.
“Untuk area yang tidak bisa ditanami, pH asamnya berada di bawah 5. Sedangkan untuk area sekitarnya yang masih normal, pH-nya berkisar 6-7,” ungkap Luhur dengan prihatin.
Transisinya, perlu diketahui bersama bahwa tanaman padi idealnya tumbuh subur di tanah dengan pH di atas 5,5 untuk memaksimalkan penyerapan unsur hara. Namun, hasil pengecekan PPL justru menunjukkan kondisi yang berlawanan.
PENURUNAN PRODUKTIVITAS SANGAT DRAMATIS! Petani Mengaku Berulang Kali Gagal Panen
Dugaan pencemaran ini ternyata bukanlah persoalan baru bagi para petani yang memiliki sawah di sekitar TPA Pakusari. Sejak beberapa tahun terakhir, puluhan petani di Dusun Lamparan perlahan mengalami penurunan produktivitas. Kemudian, kondisi ini semakin parah sejak tahun 2024 hingga memasuki tahun 2025.
Air irigasi yang mengalir ke sawah disebut-sebut berubah warna menjadi gelap pekat dan mengeluarkan bau menyengat. Warga menduga kuat perubahan ini berasal dari rembesan air lindi tumpukan sampah yang meresap masuk ke saluran irigasi pertanian. Akibatnya, tanaman padi kerap tumbuh tidak normal, bahkan banyak di antaranya mati sebelum masa panen tiba.
Koordinator petani Desa Kertosari, Didik Rudi Hartono, menceritakan kondisi memilukan tersebut dengan nada getir. Kondisi ini pun membuat sebagian petani mulai meninggalkan lahannya. Mengapa demikian? Karena lahan tersebut tidak lagi mampu menutup biaya produksi yang telah mereka keluarkan.
Ia menyebutkan, dari lahan yang sebelumnya sangat produktif, kini hasil panen merosot drastis. Bahkan, ada pula lahan yang tidak bisa ditanami sama sekali karena tingkat kerusakan tanahnya sudah sangat parah.
“Kami sudah berulang kali mengalami gagal panen. Mau tanam lagi rasanya takut banget karena rugi terus,” tutur Didik dengan nada frustrasi.
HARAPAN PETANI TINGGI! Jangan Cuma Uji Lab, TINDAKAN NYATA WAJIB SEGERA!
Harapan besar pun disematkan para petani kepada pemerintah daerah. Didik berharap langkah pengambilan sampel tanah yang dilakukan DTPHP Jember tidak berhenti hanya pada tahap pengujian laboratorium semata. Ia menekankan bahwa setelah pengujian selesai, tindakan nyata harus segera mengikuti.
“Harapan kami kepada dinas, segeralah ambil tindakan untuk menetralisasi tanah kami yang sudah tercemar. Dengan begitu, lahan kami bisa ditanami lagi dan kami tidak terus-menerus merugi,” harap Didik penuh keyakinan, mewakili seluruh petani terdampak yang kini hidup dalam ketidakpastian.
Proses pengujian sampel tanah di Universitas Jember ini dinilai sebagai langkah awal yang baik. Namun, semua pihak menunggu langkah selanjutnya setelah hasil keluar. Apakah pemerintah akan turun tangan membantu normalisasi lahan? Atau petani harus kembali menanggung beban sendiri? Waktu yang akan menjawab, namun suara protes terus bergema dari para petani Dusun Lamparan yang tak ingin terus merugi akibat pencemaran sampah.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

