PATI, Desapenari.id – Bayangkan, harga BBM melonjak kayak roket di bulan April 2026! Akibatnya, ribuan nelayan di Pantai Utara Jawa, khususnya Pati dan sekitarnya, lebih memilih menganggur di rumah daripada melaut. Biaya operasional yang meroket tajam bikin mereka gigit jari.
Coba simak angkanya: Harga solar industri ritel sekarang menembus Rp 23.000 per liter. Padahal, sebelumnya cuma Rp 14.200. Itu belum seberapa! BBM khusus marine yang jadi darah daging para nelayan juga naik drastis dari Rp 21.000 menjadi antara Rp 26.000 hingga Rp 30.000 per liter. Wajar kalau aktivitas perikanan di sana nyaris lumpuh total. Semua ini terjadi karena kenaikan yang sangat tajam.
KANTONG JEBOL, MESIN DIAM: INI BUKAN REKAYASA!
Eko Budiono, Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, dengan nada prihatin menggambarkan kondisi terkini. “Sekarang di TPI maupun tempat pelelangan, aktivitasnya benar-benar sepi. Teman-teman nelayan memilih tidak berangkat karena biaya tidak sebanding dengan hasil tangkapan,” ungkapnya kepada tim Desapenari.
Kondisi memprihatinkan ini tidak terjadi tiba-tiba. Sejak kenaikan harga BBM diumumkan, para nelayan langsung menghentikan aktivitas. Mereka menghitung ulang untung rugi. Hasilnya? Tidak ada lagi keberanian untuk melaut. Pasar ikan dan tempat pelelangan yang biasanya ramai, kini berubah jadi lautan sunyi. Semua karena biaya melaut sekarang terlalu mahal.
80 PERSEN KAPAL REBET! NELAYAN NYARIS MENANGIS
Lebih lanjut, Eko menjelaskan besarnya porsi BBM dalam operasional melaut. “Sekitar 70 persen biaya operasional melaut terserap untuk BBM. Dengan harga yang melonjak drastis sekarang, beban itu tidak mungkin kami tanggung,” tegasnya.
Akibatnya, sekitar 80 persen kapal nelayan memilih berhenti beroperasi. Bisa dibayangkan, ribuan kapal kini hanya diam tertambat. “Kalau dihitung secara kasar, jumlahnya mencapai ribuan kapal. Bukan hanya terjadi di Pati, tapi juga merambah ke Tegal, Batang, hingga Rembang,” tambah Eko dengan nada getir.
Dari sini, rantai kematian ekonomi mulai merambat. Tidak hanya nelayan yang terpukul, sektor lain yang bergantung pada hasil laut juga ikut babak belur. Aktivitas pelelangan ikan berhenti total. Pedagang di pasar tradisional mulai kehilangan pasokan. Bahkan, warung-warung makan pinggir pantai yang mengandalkan ikan segar mulai sepi pembeli. Semua terkena imbasnya.
MATA PENCAHARIAN TERANCAM, TERIAKAN NELAYAN MENEROBOS LANGIT!
Mukit, Ketua Barisan Muda Nelayan Pantura, dengan lantang menyuarakan ancaman serius terhadap mata pencaharian ribuan warga. “BBM adalah kebutuhan utama nelayan. Ketika harganya naik drastis, otomatis biaya operasional ikut melonjak. Banyak nelayan tidak mampu melaut, dan ini berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga mereka,” tegasnya.
Kata Mukit, tidak ada pilihan lain bagi nelayan kecil selain menghentikan aktivitas. Mereka bukan tidak mau bekerja, tapi benar-benar tidak mampu. Satu kali melaut dengan harga BBM sekarang bisa membuat mereka boncos berhari-hari. Bahkan, ada yang sampai terlilit utang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Oleh karena itu, Mukit dan seluruh anggotanya berharap pemerintah segera turun tangan. Mereka mendesak adanya kebijakan khusus yang tepat sasaran. “Jangan sampai subsidi salah alamat. Kami butuh solusi konkret agar nelayan tetap bisa bekerja dan roda ekonomi perikanan tidak berhenti,” pintanya penuh harap.
WASPADA! KRISIS LOKAL DI PESISIR SEMAKIN MENDEKAT
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi nyata dari pemerintah, bayang-bayang krisis ekonomi lokal di wilayah pesisir Pantura bukan lagi isapan jempol belaka. Keadaan ini akan semakin dalam dan meluas. Ribuan nelayan serta pelaku usaha terkait terancam kehilangan sumber penghasilan utama mereka secara permanen.
Bahkan, beberapa pengamat ekonomi lokal memperkirakan efek domino bisa meluas hingga ke sektor pariwisata bahari. Kapal-kapal wisata yang biasa mengangkut turis juga ikut terdampak karena bahan bakarnya sama-sama mahal. Akhirnya, semua elemen di pesisir bisa merasakan pahitnya kenaikan BBM ini.
Tidak hanya itu, tekanan psikologis juga mulai dirasakan para istri nelayan. Mereka kebingungan mencari pemasukan alternatif. Anak-anak nelayan pun terpengaruh karena uang sekolah mulai seret. Inilah kenyataan pahit yang sedang terjadi sekarang.
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa desa nelayan di Pati mulai melaporkan peningkatan kasus gagal bayar kredit mikro. Warga yang biasanya meminjam uang untuk memperbaiki jaring atau mesin kapal, sekarang tidak bisa mencicil. Kondisi ini bisa memicu masalah sosial-ekonomi yang lebih kompleks.
Maka dari itu, para nelayan berharap pemerintah tidak tinggal diam. Mereka butuh kepastian dan tindakan cepat. Karena bagaimanapun, laut adalah ladang mereka. Dan tanpa BBM yang terjangkau, mustahil bagi mereka untuk terus bertahan. Saatnya negara hadir dan mendengar jeritan nelayan Pantura yang mulai putus asa.

