MADIUN, Desapenari.id – Sebuah kabar duka menyelimuti warga Dusun Sedoro. Sukono (60), seorang petani yang dikenal tekun merawat sawahnya, harus meregang nyawa dengan cara yang mengenaskan. Ia tewas tersengat aliran listrik, bukan dari sembarang tempat, melainkan dari jebakan tikus yang ia pasang sendiri di lahannya.
Peristiwa tragis itu terjadi di area persawahan yang tenang pada Kamis malam, 5 Maret 2026. Ketika sang surya mulai meredup, Sukono melangkahkan kaki menuju sawah untuk sekadar mengecek tanamannya. Biasanya, ia selalu kembali sebelum gelap. Namun, ketika malam merambat dan waktu terus bergulir, Sukono tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Keluarga di rumah mulai dilanda kegelisahan. Tanpa menunggu lebih lama, mereka bergegas menyusuri pematang sawah dengan senter seadanya, berharap menemukan Sukono dalam keadaan sehat. Sayangnya, harapan itu sirna seketika saat sorot lampu menyorot sesosok tubuh terbujur kaku di antara tanaman padi.
“Kami menemukan Pak Sukono dalam kondisi telungkup, badannya menempel erat pada kawat yang dialiri listrik. Tangan kirinya masih menggenggam kawat itu dengan erat,” ungkap Kapolsek Nglames, AKP Agustinus Dwi Tjahjono, saat dikonfirmasi pada Jumat (6/3/2026). Ia menjelaskan bahwa penemuan jasad korban sontak menggegerkan warga.
Sebelum berani mendekat, warga dengan sigap memutus aliran listrik yang menjadi sumber nyawa dari jebakan maut tersebut. Langkah cepat ini mereka ambil untuk memastikan tidak ada korban tambahan saat proses evakuasi berlangsung. Tak lama kemudian, Tim Inafis dari Satreskrim Polres Madiun bersama aparat Polsek Nglames tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.
Petugas menemukan sejumlah luka bakar yang menganga di tubuh korban. Luka-luka tersebut tersebar di beberapa titik vital, seperti pinggang kiri, pergelangan tangan, telapak tangan kiri, hingga bagian dada bawah ketiak kanan. Dari hasil pemeriksaan awal, petugas menduga kuat luka bakar tersebut adalah jejak maut dari sengatan listrik bertegangan tinggi yang mengalir di kawat jebakan.
Lalu, bagaimana jebakan itu bisa berubah menjadi petaka? Ternyata, Sukono memasang instalasi listrik tersebut dengan tangannya sendiri. Ia merasa putus asa karena hama tikus kian menjadi-jadi dan merusak bulir-bulir padi yang mulai menguning. Tanpa berpikir panjang mengenai bahaya yang mengintai, ia merangkai kawat dan aliran listrik di sekeliling sawahnya.
Agustinus menambahkan bahwa korban diduga tersengat saat sedang memeriksa atau mungkin secara tidak sengaja tersandung kawat tersebut. Tubuhnya yang basah oleh keringat atau embun sore menjadi konduktor sempurna bagi aliran listrik. Seketika itu juga, energi listrik menyambar tubuhnya, membuatnya tak berdaya dan roboh di tempat yang sama.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi para petani di Madiun dan sekitarnya. Kapolsek Nglames pun mengimbau dengan tegas agar para petani menghentikan kebiasaan berbahaya ini. “Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Jebakan tikus beraliran listrik bukan hanya membahayakan pemilik lahan, tetapi juga orang lain yang tidak bersalah. Apalagi, sudah banyak nyawa melayang akibat jerat maut seperti ini,” tegasnya.
Ia menyarankan para petani untuk kembali ke metode pengusiran hama yang lebih aman dan ramah lingkungan. Misalnya, menggunakan racun tikus yang ditabur di lubang-lubang persembunyian, memasang perangkap mekanis yang tidak mematikan, atau melakukan gropyokan massal secara berkala.
Jenazah Sukono kemudian dilarikan ke puskesmas terdekat untuk menjalani visum guna keperluan penyelidikan lebih lanjut. Namun, yang terpenting, kepergiannya menyisakan duka mendalam sekaligus pelajaran pahit: bahwa dalam upaya melindungi sumber penghidupan, keselamatan diri sendiri justru tak boleh terabaikan.
Sawah yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi Sukono, pada akhirnya berubah menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Sebuah ironi yang menyayat hati, di mana tangan sendiri tanpa sadar memasang jerat yang merenggut nyawa.
Kini, area persawahan itu kembali sunyi. Hanya angin malam yang berbisik, mengiringi kepergian seorang petani yang gugur bukan karena usia atau penyakit, melainkan oleh ulahnya sendiri yang lengah. Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa secuil kecerobohan bisa berujung pada petaka besar.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

