JAMBI, Desapenari.id – Polda Jambi kini semakin serius membongkar kasus peretasan sistem keamanan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi. Aksi siber ini tidak main-main, pasalnya kerugian yang ditimbulkan mencapai angka fantastis, yakni Rp144 miliar.
Sebelumnya, publik digemparkan dengan kabar bobolnya sistem keamanan Bank Jambi pada Minggu (22/2/2026) lalu. Kini, Polda Jambi tidak bergerak sendiri. Mereka langsung menjalin koordinasi intensif dengan Bareskrim Polri untuk mengusut tuntas kasus ini.
Dirreskrimsus Polda Jambi, Kombes Pol Taufik Nurmandia, membenarkan bahwa pihaknya sedang berkomunikasi aktif dengan Bareskrim. “Benar, kami saat ini sedang dalam tahap komunikasi dengan Bareskrim Polri,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3/2026).
Ia kemudian menjelaskan, total kerugian sebesar Rp144 miliar itu bukan angka yang tiba-taja muncul. Angka tersebut merupakan akumulasi dari hilangnya dana milik lebih dari 6.000 rekening nasabah. Sungguh sebuah pukulan berat bagi dunia perbankan daerah.
Dalam proses penyelidikan yang sedang berlangsung, Polda Jambi tidak tinggal diam. Mereka sudah memanggil dan memeriksa sejumlah saksi kunci. Bahkan, Direktur Utama Bank Jambi pun turut dimintai keterangan untuk menggali lebih dalam celah keamanan yang berhasil ditembus para peretas.
Akibat peristiwa ini, layanan perbankan modern justru menjadi sumber masalah. Seluruh jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan layanan Mobile Banking Bank Jambi terpaksa dinonaktifkan sementara. Nasabah pun kelimpungan karena tidak bisa mengakses uang mereka secara digital.
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bank Jambi, Zulfikar, angkat bicara mengenai situasi ini. Ia menjelaskan, pihaknya saat ini tengah bekerja ekstra memenuhi seluruh instrumen keamanan yang diminta oleh otoritas terkait. Proses ini, menurutnya, cukup kompleks karena melibatkan banyak pihak.
“Kami terus berupaya memenuhi semua instrumen security yang diminta otoritas. Semua proses ini terus berjalan, dan perlu digarisbawahi, persyaratan ini datangnya dari sisi vendor, bukan dari Bank Jambi sendiri,” terang Zulfikar saat dihubungi pada hari yang sama.
Zulfikar menambahkan, manajemen Bank Jambi menargetkan layanan ATM dan Mobile Banking bisa kembali normal sebelum cuti bersama Hari Raya Idul Fitri tiba. Target ini dianggap krusial mengingat tingginya kebutuhan transaksi masyarakat menjelang hari raya.
“Karena itu, kami melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem IT kami secara komprehensif dan holistik. Setiap hari kami selalu mengadakan check point untuk memantau progres. Kami libatkan otoritas, vendor, dan internal Bank Jambi. Semua ini kami lakukan demi memastikan tidak terulang lagi serangan serupa di masa depan,” janjinya.
Nasabah Rela Antre Subuh demi Tarik Tunai
Dampak paling nyata dari lumpuhnya layanan digital ini terlihat jelas di lapangan. Ratusan nasabah harus mengantre panjang di kantor cabang hanya untuk mengambil uang secara manual. Pemandangan ini pun menjadi pemandangan umum di sejumlah Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank Jambi.
Saat tim desapenari.id memantau langsung pada Rabu (4/3/2026) di KCP Bank Jambi Thehok, suasana cukup memprihatinkan. Sejak pukul 09.00 WIB, antrean nasabah sudah mengular hingga keluar halaman kantor. Bahkan, nasabah yang baru datang siang hari terpaksa harus pulang dengan tangan hampa. Nomor antrean sudah habis dibagikan sejak pagi buta. Mereka hanya bisa pasrah dan diarahkan untuk kembali lagi esok harinya.
Seorang pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang enggan disebutkan namanya menceritakan pengalamannya yang cukup ekstrem. Ia rela berangkat dari rumah setelah sahur hanya demi mendapatkan nomor antrean pertama.
“Setengah enam pagi, habis sahur saya langsung ke sini. Saya kira saya yang paling awal, ternyata sudah ada yang lebih dulu nunggu. Mereka bilang sudah ada yang nongkrong sejak jam 5 subuh,” tuturnya dengan nada pasrah, Rabu (4/3/2026).
Kisah serupa juga diungkapkan oleh seorang ASN aktif lainnya. Ia mengaku tidak punya pilihan selain mengantre berjam-jam. Pasalnya, kebutuhan mendesak untuk menarik uang tunai tidak bisa ditunda.
“Saya sangat berharap saat pembayaran THR nanti, sistem sudah pulih. Kalau begini terus, bukan hanya repot, tapi juga sangat mengkhawatirkan. Bayangkan kalau semua PNS harus antre manual untuk cairkan THR, pasti akan kacau balau,” keluhnya.
Sebelumnya, kasus peretasan ini telah memakan korban yang tidak sedikit. Berdasarkan penelusuran dan wawancara langsung dengan sejumlah nasabah, mereka mengaku kehilangan uang tabungan dalam jumlah yang bervariasi. Mulai dari Rp 17 juta, Rp 20 juta, hingga ada yang kehilangan Rp 24 juta secara misterius dari rekeningnya.
Dengan kolaborasi antara Polda Jambi dan Bareskrim Polri, publik pun berharap pelaku peretasan segera ditangkap. Apalagi, teknologi keamanan perbankan harus segera dibenahi agar kepercayaan nasabah pulih kembali.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

