BANYUMAS, Desapenari.id – Malam minggu yang awalnya diisi dengan rencana brutal, berakhir sudah dengan kepanikan luar biasa. Tiga bocah belasan tahun harus berurusan dengan amukan massa setelah nekat melancarkan aksi perang sarung di tengah permukiman warga. Peristiwa menegangkan ini terjadi di Desa Sanggreman, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, pada Minggu (8/3/2026) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Warga yang geram langsung bergerak cepat mengejar para remaja tersebut, dan tiga di antaranya berhasil mereka kepung dan amankan.
Ketiga remaja yang kini diamankan di kantor polisi tersebut diketahui masih berstatus pelajar. Mereka masing-masing berinisial NFG (17), warga Kecamatan Wangon, serta LP (16) dan IAS (15) yang berasal dari Kecamatan Purwojati. Ironisnya, mereka nekat keluar rumah di tengah malam hanya demi memenuhi tantangan perang sarung yang telah mereka rencanakan bersama kelompok lain.
Kapolsek Rawalo, AKP Eddy Susianto, mengungkapkan kronologi lengkap kejadian tersebut dengan nada geram. Saat ditemui wartawan pada Senin (9/3/2026), ia menjelaskan bahwa peristiwa ini berawal dari sebuah ajakan provokatif. Salah satu pelaku menerima telepon yang mengajaknya untuk berperang sarung melawan kelompok dari Desa Sanggreman. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengajak teman-temannya untuk ikut serta.
“Sekitar pukul 01.00 WIB, mereka mulai berkumpul di sebuah titik yang sudah disepakati, tepatnya di sekitar jembatan gantung Desa Tunjung, Kecamatan Jatilawang,” terang Eddy dengan nada serius. “Dari sana, mereka kemudian bergerak menuju Desa Sanggreman menggunakan dua unit sepeda motor. Tak tanggung-tanggung, mereka berboncengan tiga di setiap motornya, memaksakan diri melewati kegelapan malam demi aksi konyol itu.”
Sesampainya di area persawahan Desa Sanggreman, kekecewaan justru menyergap mereka. Lapangan yang dijanjikan sebagai arena pertempuran ternyata kosong melompong. Tak ada tanda-tanda keberadaan lawan yang hendak mereka hadapi. Daripada pulang dengan tangan hampa, mereka justru mengambil keputusan nekat dengan menyusuri area permukiman warga. Mereka berkeliling mencari kelompok lawan yang tak kunjung muncul, tanpa menyadari bahwa gerak-gerik mencurigakan mereka sudah mulai menarik perhatian penduduk setempat.
Malam yang hening itu tiba-tiba pecah oleh teriakan seorang warga yang mencurigai gerombolan remaja dengan kendaraan ngebut di tengah malam. Warga yang sedang berjaga atau terbangun dari tidurnya langsung bereaksi cepat. Mereka meneriaki para remaja tersebut dari kejauhan, dan teriakan itu segera membangunkan warga lainnya. Suasana berubah drastis menjadi kejar-kejaran yang mencekam. Para remaja yang panik berusaha melarikan diri, namun warga yang sudah terlanjur geram tak memberi mereka kesempatan lolos.
Akhirnya, tiga orang remaja berhasil mereka kepung dan amankan, bersama dengan dua unit sepeda motor yang mereka gunakan. Warga yang berhasil menangkap para pelaku langsung mengamankan mereka di rumah perangkat desa setempat. Mereka menahan ketiga remaja tersebut hingga pagi hari, sebelum akhirnya menyerahkan mereka beserta barang bukti ke Polsek Rawalo. Keputusan warga untuk tidak main hakim sendiri patut diapresiasi, meskipun kemarahan sempat memuncak.
“Setelah kami menerima laporan dari warga, anggota kami langsung meluncur ke lokasi kejadian,” ujar Eddy lebih lanjut. “Kami kemudian membawa ketiga remaja beserta semua barang bukti yang ada ke Mapolsek Rawalo. Tujuan utamanya adalah untuk melakukan pemeriksaan mendalam sekaligus memberikan pembinaan agar mereka kapok dan tak mengulangi perbuatan bodoh ini.”
Dari hasil pemeriksaan awal di kantor polisi, petugas mengamankan sejumlah barang bukti yang cukup memberatkan. Dua unit sepeda motor masing-masing Honda Beat dan Honda Vario berhasil mereka sita. Ironisnya, kedua kendaraan tersebut tidak dilengkapi dengan surat-surat kendaraan yang sah. Selain itu, polisi juga mengamankan satu unit telepon genggam yang diduga kuat digunakan untuk berkoordinasi dan merencanakan aksi perang sarung tersebut.
Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit bagi para remaja dan juga orang tua di wilayah Banyumas. Aksi perang sarung yang kerap dianggap sebagai tradisi bulan Ramadan, nyatanya bisa berubah menjadi tindakan kriminal jika dilakukan dengan perencanaan, melibatkan antar-kelompok, dan berpotensi mengganggu ketertiban umum. Apalagi jika dilakukan di malam hari dengan melibatkan kendaraan bermotor dan membawa atribut-atribut yang membahayakan.
Kapolsek Rawalo pun mengimbau kepada seluruh orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka, terutama di malam hari. Ia menekankan bahwa peran keluarga sangat krusial dalam mencegah generasi muda terjerumus ke dalam aksi-aksi negatif yang meresahkan masyarakat. Pihak kepolisian juga akan terus melakukan patroli rutin dan pembinaan ke sekolah-sekolah untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Kini, ketiga remaja tersebut masih harus menjalani proses pemeriksaan intensif di Polsek Rawalo. Pihak kepolisi memastikan bahwa mereka akan mendapatkan pembinaan, namun tak menutup kemungkinan adanya sanksi hukum jika terbukti melanggar aturan yang berlaku, terutama terkait kepemilikan kendaraan tanpa surat dan potensi tindak pidana lainnya. Malam minggu yang seharusnya diisi dengan istirahat, justru berakhir di balik jeruji polisi bagi mereka.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

