Desapenari.id – Tahukah kamu, meskipun gelombang libur Lebaran 2026 sedang melanda Bali, suasana di Kabupaten Buleleng ternyata tidak seragam? Baru-baru ini, pihak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Buleleng merilis data yang cukup mengejutkan. Secara keseluruhan, industri perhotelan di daerah ini mencatatkan tingkat hunian sekitar 60 persen. Namun, di balik angka tersebut, ternyata ada kesenjangan yang cukup signifikan antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Kondisi ini dipicu oleh perbedaan karakter wisatawan yang berkunjung, sehingga tidak semua wilayah kebanjiran tamu selama momen spesial ini.
Menyikapi fenomena itu, Ketua PHRI Kabupaten Buleleng, Dewa Ketut Suardipa, langsung memberikan klarifikasi. Ia mengungkapkan bahwa Buleleng, dengan segala luas dan keberagamannya, memiliki segmentasi pasar yang sangat berbeda di setiap sudut wilayahnya. “Untuk Buleleng karena wilayahnya luas, masing-masing punya pasar berbeda,” jelas Suardipa dengan gamblang di Buleleng, Selasa (24/3/2026). Menurutnya, hal inilah yang kemudian membentuk peta okupansi yang tidak merata, karena setiap daerah berlomba menarik minat pengunjung dengan cara dan target yang unik.
Beralih ke sisi barat Buleleng, situasinya terbilang paling bergairah. Di sinilah okupansi hotel melambung paling tinggi. Selama periode libur Lebaran, kawasan ini berhasil menggaet rata-rata kunjungan hingga mencapai 60 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa wisatawan domestik begitu antusias menjelajahi pesona pantai dan budaya di bagian barat. Pergerakan wisatawan ini menjadi penyumbang utama bagi capaian keseluruhan yang sempat diumumkan sebelumnya.
Sementara itu, suasana berbeda terasa di kawasan tengah yang terkenal dengan ikon Lovina. Di lokasi ini, tingkat hunian hanya bertengger di kisaran 40 persen. Padahal, biasanya Lovina menjadi primadona utama wisatawan. Menariknya, wilayah selatan yang meliputi Munduk dan Pancasari justru menunjukkan performa yang lebih stabil. Kedua daerah ini mencatatkan angka okupansi sekitar 50 persen, menandakan bahwa pesona alam pegunungan masih menjadi daya tarik kuat bagi para pelancong yang mencari kesejukan.
Namun, cerita pilu justru datang dari ujung timur Buleleng, tepatnya kawasan Tejakula. Di tempat inilah dampak situasi global terasa paling menghancurkan. Tingkat hunian hotel di Tejakula hanya meraih angka 10 hingga 15 persen. Bayangkan, saat hotel-hotel di barat ramai dipenuhi pengunjung, Tejakula justru terasa sepi. Kondisi kontras ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pelaku industri pariwisata di sana.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di Tejakula? Menurut Suardipa, penyebab utamanya bukan karena fasilitas atau keindahan alam yang kalah, melainkan karena pasar yang selama ini mereka andalkan sedang terhenti. Kawasan Tejakula selama ini menggantungkan diri pada dominasi pasar wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa. Sayangnya, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah saat ini telah menekan angka kunjungan wisatawan asing secara signifikan. “Timur, kawasan Tejakula karena pasarnya Eropa dan sekarang masih ada perang atau konflik di Timur Tengah, tingkat hunian 10–15 persen, sangat kecil,” keluh Suardipa dengan nada prihatin.
Di akhir perbincangan, Suardipa tetap menyisipkan secercah harapan. Ia berharap situasi panas di Timur Tengah segera mereda dan kondisinya kembali kondusif. Pasalnya, menurut dia, ketenangan di kancah global akan berdampak langsung pada pemulihan perekonomian pariwisata di Bali utara. Dengan kembalinya wisatawan mancanegara, ia optimistis tingkat hunian di Tejakula bisa kembali bergairah dan menyamai semangat pariwisata di wilayah barat Buleleng.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

