Desapenari.id – Siap-siap! Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja mengeluarkan peringatan serius yang bikin merinding. Mereka mendeteksi potensi kemunculan fenomena mengerikan bernama “Godzilla El Nino” yang diperkirakan bakal mengacaukan musim kemarau 2026 di Indonesia. Jangan bayangkan El Nino biasa, karena varian “Godzilla” ini konon lebih buas dan ganas!
Lantas, apa sih sebenarnya fenomena ini? Secara sederhana, para peneliti BRIN menjelaskan bahwa Godzilla El Nino erat kaitannya dengan pemanasan suhu permukaan laut yang ekstrem di wilayah ekuator Samudera Pasifik. Akibatnya, proses pembentukan awan dan curah hujan jadi lebih banyak “disedot” dan terpusat di Samudera Pasifik, bukan di wilayah Indonesia. Alhasil, negara kita yang katanya basah dan hijau ini justru bakal mengalami penurunan curah hujan secara drastis dan signifikan. Parahnya lagi, situasi kering ini akan semakin diperparah oleh fenomena IOD (Indian Ocean Dipole) positif. IOD positif ini memicu pendinginan suhu permukaan laut di sekitar perairan Sumatera dan Jawa, sehingga uap air yang biasanya jadi bahan baku hujan di Pulau Jawa ikut berkurang. Wah, ini kombinasi yang mematikan!
Apakah Godzilla El Nino Akan Menghantam Jawa Tengah? Simak Fakta Terbaru!
Nah, pertanyaan yang paling bikin penasaran warga Jateng: apakah monster iklim ini bakal berdampak langsung ke kampung halaman kita? Tenang, seorang analis andalan dari Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Zauyik, sudah memberikan klarifikasi penting. Menurutnya, saat ini kondisi atmosfer di atas Jawa Tengah masih terbilang relatif netral dan belum menunjukkan tanda-tanda panik.
Berdasarkan pemantauan terkini yang mereka lakukan untuk periode April hingga Juni 2026, Zauyik menegaskan bahwa belum ada indikasi peningkatan atau penurunan signifikan terhadap curah hujan di wilayah Jateng. Namun, jangan buru-buru lega! Ia juga mengingatkan bahwa potensi El Nino (meski tidak seganas Godzilla) diperkirakan baru akan muncul pada semester kedua tahun 2026. Kabar baiknya, intensitasnya diprediksi hanya lemah. “Prediksi anomali iklim El Nino dengan intensitas lemah terjadi pada semester kedua tahun 2026,” ujar Zauyik dengan tenang, Senin (6/4/2026).
Lebih lanjut, Zauyik membeberkan fakta di lapangan. Sebagian wilayah Jawa Tengah, khususnya bagian timur laut, memang sudah mulai memasuki musim kemarau. Meskipun belum tersentuh Godzilla El Nino, masyarakat tetap harus waspada karena musim kemarau tahun ini terbukti akan lebih kering dibandingkan tahun 2025. Durasi kemaraunya pun lumayan panjang, rata-rata mencapai lima hingga tujuh bulan di berbagai daerah Jateng. “Belum ada (pengaruh Godzilla El Nino) hingga saat ini berdasarkan release update terbaru,” tegas Zauyik meyakinkan publik.
Merujuk pada buletin resmi Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, kondisi ENSO (El Nino Southern Oscillation) saat ini masih berada dalam fase netral dengan indeks -0,28. Tim ahli memperkirakan fase netral ini akan bertahan hingga semester pertama tahun 2026. Kendati demikian, peluang terbentuknya El Nino mulai terbuka lebar pada awal semester kedua. Sementara itu, fenomena IOD juga masih tidur nyenyak dalam fase netral dan diprediksi berlanjut sampai pertengahan tahun tanpa gangguan berarti.
Suhu Laut Hangat hingga Angin Kencang, Apa Artinya Buat Kita?
Untuk periode Maret hingga Agustus 2026, para periset menemukan bahwa suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia diperkirakan akan didominasi kondisi normal hingga lebih hangat. Anomali suhunya berkisar antara +0,5 sampai +2,0 derajat Celsius. Artinya, laut kita akan terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Di sisi lain, angin muson Australia yang kering dan dingin diprediksi mulai menunjukkan pengaruhnya sejak Mei 2026. Kombinasi antara laut hangat dan angin kering ini bisa memicu pola cuaca yang tidak biasa.
Memasuki masa peralihan (pancaroba) dari musim hujan ke kemarau, Stasiun Klimatologi Jawa Tengah meminta seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan secara ekstra. Pasalnya, meskipun musim kemarau sudah di depan mata, potensi cuaca ekstrem masih sangat tinggi. Fenomena seperti petir menyambar-nyambar, angin kencang yang merusak, puting beliung yang berputar ganas, serta hujan lebat berdurasi singkat (yang biasa disebut hujan orografis) masih berpotensi terjadi kapan saja. Semua ini bisa memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang atau tanah longsor di daerah lereng gunung. Jadi, jangan sampai tertidur pulas hanya karena judulnya “Godzilla El Nino”, karena di masa transisi ini, bahaya justru sering datang dari langit yang cerah tiba-tiba berubah gelap!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

