MAGETAN, Desapenari.id — Sebuah drama penyelamatan nyaris berubah menjadi bencana! Dua pendaki pemula yang hilang di Gunung Lawu akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah tim gabungan bekerja keras di tengah malam yang mencekam. Mereka adalah Clarisa Pradanita Erdianto (24) dan Rara Rintan Purwadi (19), dua wanita asal Kabupaten Ngawi yang nekat menaklukkan Gunung Lawu melalui jalur Cemoro Sewu pada Jumat (10/4/2026) malam. Bayangkan, baru pertama kali mendaki, mereka justru terjebak di jalur mencekam yang bahkan pendaki berpengalaman pun enggan melintasinya!
AWAL KECERIAAN YANG BERUJUNG KEPANIKAN
Perjalanan mereka dimulai dengan penuh semangat. Mereka sempat menikmati keindahan puncak dan mengunjungi beberapa spot favorit seperti Sendang Drajat hingga padang sabana yang memukau. Namun, saat senja mulai merambat dan langit berubah jingga, situasi pun berubah menjadi mimpi buruk. Ketika hendak turun, mereka justru mengikuti jalur yang ditandai pita-pita kecil. “Mereka jalan-jalan di puncak, kemudian sampai di sabana, lalu mau kembali dengan mengikuti jalur yang ada pita. Jalur itu ternyata mengarah ke Singolangu, jalur lama kegiatan Sesorogo. Mereka tersesat ke situ,” ujar Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, saat dihubungi pada Sabtu (11/4/2026).
KELALAIAN KECIL YANG HAMPIR BERAKIBAT FATAL
Sesungguhnya, kesalahan kecil inilah yang hampir merenggut nyawa mereka. Para pendaki pemula itu tidak menyadari bahwa pita-pita yang mereka ikuti bukanlah penanda jalur utama yang aman, melainkan sisa-sisa jalur kuno yang sudah ditinggalkan. Mulyadi menjelaskan detail mengejutkan di balik insiden ini. Menurutnya, kedua pendaki tersebut baru pertama kali melakukan pendakian sejauh itu, sehingga mereka sama sekali belum memahami karakter jalur di Gunung Lawu yang terkenal rumit dan penuh liku.
SADAR KETERLAMBATAN, TAPI TERPAKSA MELANJUTKAN
Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, barulah mereka tersadar bahwa mereka telah meninggalkan jalur yang benar. Saat itu, mereka sudah berada di sekitar Pos 3 Singolangu menjelang waktu maghrib. Panik? Tentu saja! Namun, apa daya, tubuh mereka sudah kelelahan dan jarak tempuh untuk kembali ke jalur semula terlalu jauh. Akhirnya, mereka tetap melanjutkan perjalanan karena optimistis mengikuti pita-pita jalur lama itu, tanpa mengetahui bahwa di depan sana, bahaya yang lebih besar justru mengintai.
SINYAL PENYELAMAT DI TENGAH KEGELAPAN
Tuhan masih berkehendak lain. Saat mereka tiba di Pos 5, secara mengejutkan sinyal telepon seluler muncul di tengah gelapnya hutan. Mereka segera memanfaatkan momen krusial ini dengan mengirimkan titik lokasi kepada keluarga di rumah. “Ketika menyadari salah jalur, mereka sudah capek dan jauh. Akhirnya tetap melanjutkan karena optimistis mengikuti pita-pita jalur lama itu,” tambah Mulyadi mengisahkan kembali detik-detik menegangkan tersebut.
GERAK CEPAT TIM GABUNGAN MENYELAMATKAN
Laporan dari keluarga pun diteruskan dengan cepat ke Polsek Plaosan. Tanpa membuang waktu, pihak kepolisian segera berkoordinasi dengan Perhutani dan para relawan yang sudah paham betul medan Gunung Lawu. Sebuah operasi pencarian dan penyelamatan pun diluncurkan meskipun malam sudah semakin larut. “Sekitar pukul 20.30 WIB, pendaki berhasil kami temukan dan langsung kami evakuasi turun dalam kondisi selamat,” ujar Mulyadi dengan nada lega yang tak bisa disembunyikan. Bayangkan, hanya berselang beberapa jam dari laporan pertama, tim berhasil menjemput mereka dari lokasi yang sepi dan gelap!
JALUR EKSTREM YANG TIDAK COCOK UNTUK PEMULA
Mengapa jalur ini begitu berbahaya? Mulyadi memberikan peringatan keras yang wajib diperhatikan oleh seluruh pendaki pemula. Menurutnya, jalur Singolangu tergolong ekstrem karena jarang dilalui dan tertutup vegetasi lebat. Di beberapa titik, pendaki harus menerobos semak belukar yang hampir menutupi jalan setapak. “Baru sekali naik, jadi belum paham medan. Jalur Singolangu termasuk ekstrem karena masih banyak vegetasi dan jarang dilalui pendaki,” imbuhnya dengan tegas.
Vegetasi yang lebat ini menjadi momok tersendiri, karena bisa membuat pendaki kehilangan orientasi arah dengan sangat mudah. Apalagi bagi pemula seperti Clarisa dan Rara yang belum memiliki pengalaman navigasi darat sama sekali. Mereka beruntung masih bisa mendapatkan sinyal di Pos 5, karena jika tidak, proses pencarian akan jauh lebih sulit dan memakan waktu berhari-hari.
PERHUTANI BERI PERINGATAN KERAS UNTUK SEMUA PENDAKI
Pasca-insiden ini, Perhutani segera mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh pendaki. Mereka tidak mau kejadian serupa terulang kembali dan memakan korban jiwa. Setiap pendaki diwajibkan untuk tidak berpindah jalur di tengah perjalanan, karena hal ini merupakan penyebab utama tersesatnya para pendaki pemula.
“Setiap pendaki kami briefing untuk tidak pindah jalur dan mencatat nomor kontak darurat yang bisa dihubungi jika terjadi sesuatu. Ada beberapa titik yang memiliki sinyal, seperti Pos 5,” kata Mulyadi mengingatkan. Nomor kontak darurat ini wajib disimpan di ponsel masing-masing pendaki sebelum memulai pendakian, karena bisa menjadi garis hidup saat situasi genting seperti yang dialami Clarisa dan Rara.
PELAJARAN BERHARGA DARI INSIDEN INI
Kisah mencekam dua pendaki pemula ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Pertama, jangan pernah meremehkan medan pendakian meskipun terlihat mudah dari peta. Kedua, selalu bawa perlengkapan navigasi yang memadai seperti kompas atau GPS, jangan hanya mengandalkan pita-pita usang di pepohonan. Ketiga, catat semua nomor kontak darurat sebelum berangkat, karena dalam kondisi darurat, detik sangat berharga.
Keempat, jangan malu untuk meminta bantuan jika sudah merasa tersesat. Kelima, pahami bahwa jalur lama atau jalur alternatif seringkali justru lebih berbahaya karena minimnya pendaki yang melintas, sehingga jika terjadi kecelakaan, pertolongan akan sulit datang dengan cepat.
Saran dari tim penyelamat sangat jelas: Jika Anda pendaki pemula, jangan pernah mencoba jalur seperti Singolangu. Gunakan selalu jalur resmi yang ramai pendaki, karena di sana keamanan lebih terjamin dan ada petugas yang berjaga. Keselamatan jauh lebih berharga daripada sensasi petualangan yang tidak perlu.
Syukurnya, kisah Clarisa dan Rara berakhir bahagia. Mereka sekarang sudah kembali ke pelukan keluarga dalam keadaan selamat, meskipun mungkin trauma akan terus membekas. Insiden ini menjadi bukti nyata bahwa gunung tidak pernah bersahabat dengan kelalaian, sekecil apa pun bentuknya. Jadi, sebelum mendaki lagi, pastikan persiapan Anda matang, fisik Anda prima, dan informasi tentang jalur yang akan dilalui sudah Anda pahami dengan sempurna. Jangan sampai Anda menjadi korban berikutnya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

