KUPANG, Desapenari.id – Baru-baru ini di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendadak panas! Sebuah bentrokan massal yang mengerikan meletus di Perumahan 2100 Blok K4, Desa Oebola, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, tepat pada Jumat (10/4/2026) malam. Akibat insiden berdarah ini, tidak tanggung-tanggung, empat orang harus dilarikan ke rumah sakit dengan luka-luka, sementara delapan unit rumah warga hancur lebur menjadi sasaran amukan massa.

Malam Mencekam: Kedatangan Pria Mabuk yang Memicu Petaka
Berdasarkan informasi yang dihimpun, seluruh kekacauan ini bermula sekitar pukul 23.30 Wita. Saat itu, seorang pria berinisial DES yang dalam kondisi mabuk berat nekat mendatangi rumah pasangan suami istri YT dan MD. Awalnya, suasana masih terlihat biasa saja. Tuan rumah yang ramah sempat menawarkan segelas kopi hangat untuk menetralisir keadaan. Namun, alih-alih tenang, DES justru bertindak di luar batas! Dengan nada tinggi, dia mulai memaki-maki MD, istri dari YT, sambil berani menunjuk-nunjuk wajahnya dengan gerakan yang provokatif.
Melihat istrinya dihina habis-habisan di depan matanya, YT pun berusaha menahan emosi. Namun, karena DES terus melontarkan kata-kata kasar, MD akhirnya naik pitam dan tidak bisa tinggal diam. Dengan berani, MD langsung mengusir DES keluar dari teras rumahnya. “Pergi kau dari sini! Jangan pernah datang lagi kalau cuma mau bikin onar!” teriak MD yang sontak membuat suasana malam itu berubah tegang.
Ancaman Maut dan Serangan Kilat Kelompok Pemabuk
Merasa harga dirinya jatuh di depan umum, DES pun pergi dengan wajah penuh dendam. Namun, sebelum melenggang pergi, dia sempat melontarkan ancaman serius. “Tunggu saja, saya akan kembali bersama kerabat-kerabat saya. Kalian akan menyesal!” ucap DES dengan nada mengancam. Tidak butuh waktu lama, sekitar 20 menit kemudian, malam yang semula sunyi berubah menjadi neraka. DES kembali lagi, namun kali ini dia tidak sendirian. Dengan penuh percaya diri, dia datang membawa serta adik kandungnya, D, serta sekelompok pria bertubuh tegap lainnya yang siap melakukan penyerangan.
Kepala Seksi Humas Polres Kupang, Ipda Randy Hidayat, menjelaskan duduk perkara kejadian tersebut pada Minggu (12/4/2026). “Saat rombongan itu tiba, adiknya DES yang bernama D langsung bersikap agresif. Tanpa basa-basi, D berteriak keras mencari-cari korban sambil menanyakan, ‘Siapa yang berani memukul kakak saya? Ayo tunjukkan diri kalian!'” ungkap Ipda Randy.
Aksi Penganiayaan Brutal Memicu Serangan Balasan yang Lebih Besar
Setelah situasi memanas, kelompok yang dipimpin DES dan D kemudian bertindak brutal. Mereka langsung mengeroyok dan menganiaya YT beserta istrinya, MD, tanpa ampun. Bahkan, tidak puas hanya sampai di situ, massa tersebut juga merusak total rumah pasangan itu. Mereka memecahkan kaca jendela, merobohkan pintu, dan menghancurkan perabotan di dalamnya. Setelah puas menghancurkan, kelompok DES dan D pun melarikan diri dengan motor, meninggalkan korban yang babak belur.
Namun, kaburnya kelompok pelaku justru memicu amarah yang lebih besar dari pihak keluarga YT dan MD. Merasa sangat tidak terima dengan perlakuan biadab tersebut, keluarga korban lantas mengumpulkan massa. Mereka tidak mau diam begitu saja. Dalam hitungan menit, mereka melakukan aksi balasan yang dahsyat! Bukan hanya mengejar kelompok DES, massa dari pihak keluarga YT dan MD malah menyerang serta merusak rumah-rumah warga di Kampung Oelkuku, Dusun IV, Desa Kuimasi, Kupang yang letaknya hanya bersebelahan dengan desa korban.
Akibat bentrokan susulan yang melibatkan dua desa ini, total kerusakan semakin parah. Delapan unit rumah warga dilaporkan hancur dengan atap yang roboh dan dinding yang berlubang. “Kami sempat panik. Tiba-tiba saja sekelompok orang datang membawa senjata tajam dan batu, lalu melempari rumah kami tanpa sebab,” ujar seorang warga Desa Kuimasi yang masih ketakutan.
Polisi Bergerak Cepat! Amankan Terduga Pelaku dan Redam Konflik
Melihat situasi yang mulai tidak terkendali dan dikhawatirkan meluas ke mana-mana, Polres Kupang langsung turun tangan. Kapolres Kupang bersama jajaran personel tidak menunggu lama. Mereka bergerak cepat pada Sabtu pagi untuk meredam situasi. Dengan tegas, polisi langsung mendatangi lokasi kejadian dan memberikan imbauan keras kepada kedua kelompok agar segera menahan diri dan tidak saling serang.
Dalam pertemuan darurat tersebut, perwakilan warga dengan lantang meminta kepolisian untuk segera mengamankan para pelaku penganiayaan. “Kami ingin keadilan ditegakkan. Jika pelaku tidak segera ditangkap, konflik ini akan terus berulang dan menghancurkan hubungan antar desa,” tegas salah satu tokoh masyarakat di hadapan aparat.
Menanggapi hal itu, polisi pun bergerak sigap. Kepolisian berhasil mengamankan sejumlah pemuda yang diduga kuat terlibat dalam aksi kekerasan dan penganiayaan terhadap DES maupun korban lainnya. Saat ini, mereka telah diamankan di Mapolres Kupang untuk menjalani pemeriksaan intensif.
“Kami terus berupaya mengusut tuntas kasus ini. Aparat kepolisian telah mengamankan sejumlah pemuda yang diduga terlibat dalam aksi penganiayaan terhadap DES dan korban lainnya. Kasus ini kini masih dalam penanganan Polres Kupang,” imbuh Ipda Randy Hidayat mengakhiri pernyataannya.
Dengan adanya penangkapan ini, warga kedua desa berharap agar ketenangan segera kembali dan tidak ada lagi dendam berkepanjangan. Proses hukum pun berjalan sesuai relnya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

