MAKASSAR, Desapenari.id – Musim kemarau tahun 2026 ini benar-benar membuat warga Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, kewalahan. Bukan main-main, mereka kini terpaksa berputar-putar keliling kampung hanya untuk mengisi satu jeriken air bersih. Ya, kekeringan mulai menghantam permukiman mereka tanpa ampun!
Idha (50), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di jantung kawasan Tallo, dengan nada putus asa mengungkapkan kesulitan luar biasa yang dia alami. Air PDAM yang biasanya mengalir lancar di rumahnya kini benar-benar mati total. “Iya (kekeringan), air minum tidak ada, air PDAM diminum sama buat masak,” ujar Idha dengan suara sedikit bergetar saat ditemui Jumat (17/4/2026). Bayangkan, air yang biasanya untuk mandi dan cuci piring pun kini harus dia manfaatkan untuk kebutuhan paling mendasar sekalipun!
Lantas, bagaimana cara Idha dan warga lainnya memenuhi kebutuhan air sehari-hari? Mereka pun terpaksa berjalan kaki atau mengayuh gerobak menuju titik-titik penampungan air yang tersebar di beberapa lokasi. Di sana, warga terlihat antre mengisi jeriken-jeriken kosong, lalu menggotongnya kembali ke rumah masing-masing. Sungguh pemandangan yang mengharukan sekaligus mengkhawatirkan!
Yang lebih mencengangkan lagi, Idha mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa penampungan air di lingkungan Rukun Warga (RW) tempat tinggalnya sudah kering kerontang selama sebulan penuh. “Kalau yang dekat ada satu bulan tidak jalan, kalau yang jauh satu Minggu mi,” jelasnya. Artinya, warga terpaksa menjajaki RW tetangga yang jaraknya lumayan jauh demi mendapatkan seteguk air bersih. Subhanallah, perjuangan yang sungguh luar biasa!
Bukan Hanya Tallo! Enam Wilayah Makassar Terancam Kering Kerontang
Ternyata, penderitaan warga Tallo ini hanyalah puncak gunung es semata. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar, M. Fadli, dengan tegas mengungkapkan bahwa ada enam lokasi yang terancam kekeringan parah di tahun 2026. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kecamatan Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, Ujung Tanah, Panakkukang, dan tentu saja Tallo itu sendiri.
“Seperti kita ketahui, di daerah semacam Tallo saja saat musim hujan masih ada beberapa daerah yang krisis air bersih, seperti di Kelurahan Buloa,” ujar Fadli dengan nada prihatin. Pernyataan ini membuka mata kita bahwa persoalan air di Tallo sebenarnya sudah kronis sejak lama, dan musim kemarau ekstrem hanya memperparah keadaan.
Apa yang kemudian dilakukan BPBD Makassar? Pihaknya ternyata tidak tinggal diam. Mereka telah menyusun strategi jitu dengan membuat master plan penanggulangan bencana kekeringan. Tidak hanya itu, mereka juga melibatkan seluruh stakeholder terkait, termasuk PDAM dan perusahaan-perusahaan BUMN yang ada di Makassar.
“Kami sudah mengumpulkan semua kekuatan, seperti PDAM dan BUMN. Kami melakukan koordinasi untuk memberikan mereka ruang bagi bagaimana menghadapi bencana kekeringan secara bersama-sama,” beber Fadli dengan penuh semangat kolaborasi. Artinya, penanganan kekeringan ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, melainkan harus gotong-royong!
Wali Kota Munafri Siap Gempur Kekeringan dengan Sumur Bor!
Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, turun gunung memberikan pernyataan mengejutkan. Menurutnya, langkah pertama yang paling krusial dalam antisipasi kekeringan adalah membenahi sistem perencanaan dari kesiapan PDAM dalam mengalirkan air. Tanpa sistem yang matang, bencana kekeringan akan terus berulang setiap tahun.
“Kami sudah memastikan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan BPBD diminta untuk segera membuat sumur bor di lokasi-lokasi yang terdampak kekeringan,” tegas Munafri dengan nada penuh otoritas. Sumur bor ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang bagi warga yang selama ini bergantung pada PDAM yang kerap mati.
Yang membuat pernyataan ini semakin mendebarkan adalah prediksi cuaca yang sangat mengerikan. “Ini dipastikan akan jalan mengingat kita tahu sama-sama prakiraan cuacanya adalah Godzilla El Nino yang akan panjang dan sangat kering,” ungkap Munafri dengan mimik serius. Istilah “Godzilla El Nino” sendiri merujuk pada fenomena El Nino super ekstrem yang kekeringannya luar biasa panjang dan intens.
“Maka dari itu, kami pastikan keadaan air yang ada di Kota Makassar ini harus bisa menjangkau saudara-saudara kita di beberapa tempat,” lanjutnya dengan penuh tekad. Wali kota berjanji bahwa tidak ada lagi warga Makassar yang harus keliling kampung hanya untuk mencari air bersih, seperti yang kini dialami warga Tallo.
Catatan Penting untuk Warga Makassar
Bagi Anda yang tinggal di wilayah rawan kekeringan, terutama di enam kecamatan yang disebutkan, jangan tunggu sampai air PDAM benar-benar kering. Segera siapkan cadangan air di rumah, manfaatkan setiap tetes air dengan bijak, dan laporkan segera ke RT/RW atau langsung ke BPBD jika tanda-tanda kekeringan mulai muncul di lingkungan Anda.
Kekeringan bukanlah bencana yang bisa diremehkan. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga pada ekonomi dan psikologis warga. Bayangkan harus berjalan berkilo-kilometer setiap hari hanya untuk membawa satu jeriken air, lalu mengulanginya lagi keesokan harinya. Inilah realita pahit yang kini dirasakan warga Tallo.
Dengan adanya master plan dari BPBD dan instruksi tegas Wali Kota untuk membuat sumur bor, semoga musim kemarau ekstrem tahun 2026 ini tidak lagi meninggalkan cerita pilu dari warga Makassar. Namun sampai semua itu terealisasi, doa dan gotong royong warga tetaplah senjata paling ampuh. Mari kita pantau bersama perkembangan situasi kekeringan di Makassar, dan jangan ragu untuk berbagi informasi ini kepada sesama agar lebih banyak orang yang siaga!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

