KEBUMEN, Desapenari.id – Sebanyak 22 pelajar tak berkutik saat jajaran Polres Kebumen menggerebek dan mengamankan mereka usai terlibat aksi perusakan gerbang sekolah. Peristiwa ini terjadi saat konvoi kelulusan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, yang sontak membuat warga merinding.
Coba bayangkan, pada malam Kamis (7/5/2026) yang seharusnya syahdu, justru berubah mencekam. Rekan-rekan polisi dengan sigap melacak para pelaku setelah aksi brutal itu viral di media sosial. Dalam rekaman yang tersebar luas, sejumlah remaja dengan berani menendang-nendang gerbang salah satu SMK di Kebumen. Aksi ini memicu keresahan mendalam di masyarakat.
Yang lebih mengejutkan, para pelaku yang tertangkap basah ini ternyata bukan siswa dari sekolah yang menjadi sasaran amukan mereka. Selepas merayakan kelulusan, selain merusak pagar dengan tendangan, mereka juga dengan sengaja menggeber-geber knalpot kendaraan di depan sekolah seolah tak ada rasa takut.
Langkah Cepat! Gabungan Personel Bergerak – Belasan Pelajar Tak Berkutik Disergap
Begitu kejadian itu merebak, personel gabungan Polres Kebumen tidak tinggal diam. Pada Jumat (8/5/2026), mereka langsung tancap gas melakukan patroli dan penyelidikan intensif. Hasilnya mengejutkan – sebanyak 22 pelajar berhasil diringkus dan digelandang ke Mapolres Kebumen. Di sana, mereka menjalani pembinaan khusus bersama orang tua, perangkat desa, dan pihak sekolah.
Kabag Ops Polres Kebumen, Kompol Mardi, mengungkapkan fakta mengejutkan lainnya. Para pelajar yang diamankan diduga kuat terlibat dalam aksi perusakan tersebut. “Pengawasan orang tua yang kurang menjadi pemicu utama munculnya masalah sosial ini,” ujarnya lugas saat dihubungi pada Minggu (10/5/2026). Ia pun menekankan bahwa komunikasi dalam keluarga dan pengawasan penggunaan media sosial juga patut menjadi perhatian serius.
Bukan Sekadar Kenakalan! Ini Akar Masalahnya – Permusuhan Turun Temurun Memicu Amukan
Berdasarkan hasil pendalaman sementara, polisi menduga aksi tersebut dipicu konflik antarpelajar yang sudah mengakar puluhan tahun. Permusuhan ini diyakini terus diwariskan secara turun-temurun dari kakak kelas kepada adik kelas tanpa alasan logis. Fenomena memprihatinkan ini dinilai menjadi salah satu penyebab konvoi berakhir vandalisme dan tindakan anarkis.
Kompol Mardi menegaskan bahwa pihak kepolisian sengaja mengedepankan pendekatan pembinaan. Mengapa? Karena para pelajar yang terlibat masih berstatus anak sekolah dengan masa depan panjang yang seharusnya mereka raih. Ia meminta seluruh pihak, termasuk sekolah dan orang tua, ikut berperan aktif mencegah konflik serupa terulang kembali.
“Kegiatan bersama seperti olahraga dan pembinaan pelajar diharapkan bisa mempererat hubungan antarsekolah,” pesan Kompol Mardi di akhir pernyataannya. Aksi ini semoga menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

