LHOKSEUMAWE, Desapenari.id – Wah, siap-siap kantong menjerit! Dalam sepekan terakhir, harga sejumlah kebutuhan dapur di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, melambung tinggi secara signifikan. Para pedagang pun ikut geleng-geleng kepala melihat lonjakan yang luar biasa ini.
Penyebabnya Bikin Nyesek! Produksi Pertanian Minim, Pasokan dari Daerah Tetangga Tersendat
Kok bisa naik drastis, sih? Ternyata, kenaikan harga ini dipicu oleh minimnya produksi hasil pertanian di daerah-daerah penghasil utama seperti Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Kabupaten Gayo Lues. Pasokan yang menipis membuat harga otomatis terbang tinggi. Akibatnya? Daya beli masyarakat pun ambrol drastis. Warga Lhokseumawe mulai pusing memutar otak untuk menyiasati pengeluaran dapur mereka.
Daftar Bahan Pokok yang Bikin Dompet Nangis: Tomat, Jeruk Nipis, Cabai, sampai Bawang!
Nah, berikut ini daftar komoditas yang mengalami lonjakan harga paling parah menjelang Idul Adha. Para ibu rumah tangga wajib bersiap-siap!
Pertama, tomat. Sebelumnya, masyarakat masih bisa membeli tomat seharga Rp12 ribu per kilogram. Namun sekarang? Harga tomat melejit menjadi Rp23 ribu per kilogram! Bayangkan, lonjakannya nyaris dua kali lipat!
Kedua, jeruk nipis. Dari harga Rp8 ribu per kilogram, sekarang melambung drastis menjadi Rp22 ribu per kilogram. Kenaikan ini benar-benar bikin kaget para pembeli yang biasa menggunakan jeruk nipis untuk bumbu masakan atau minuman segar.
Ketiga, cabai merah. Harga cabai merah naik dari Rp34 ribu menjadi Rp36 ribu per kilogram. Memang tidak setinggi tomat atau jeruk nipis, tapi tetap saja memberatkan kantong.
Keempat, cabai hijau. Kenaikan juga terjadi pada cabai hijau yang sebelumnya dijual Rp22 ribu per kilogram. Sekarang, cabai hijau harus ditebus dengan harga Rp30 ribu per kilogram.
Kelima, cabai kecil. Untungnya, cabai kecil masih bertahan di harga Rp34 ribu per kilogram. Tapi siapa yang tahu kalau kenaikan menyusul di kemudian hari?
Keenam, bawang-bawangan. Bawang Jawa naik dari Rp35 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram. Sementara itu, bawang bombay juga ikut merangkak naik dari Rp25 ribu menjadi Rp32 ribu per kilogram.
Pedagang Mulai Pasrah, Belanja Seperlunya Saja!
Salah seorang pedagang di Pasar Inpres Kota Lhokseumawe, Habra Maulana, mengungkapkan keluh kesahnya kepada awak media pada Kamis (21/5/2026). Menurutnya, kenaikan harga yang meroket ini secara langsung membuat daya beli masyarakat menurun drastis.
“Sekarang masyarakat belinya seperlunya saja, Bu,” ujar Habra Maulana dengan nada prihatin. “Dulu mereka biasa beli kebutuhan untuk persediaan selama sepekan penuh. Tapi sekarang? Mereka hanya membeli sedikit saja, cukup untuk memasak satu hari,” tambahnya menjelaskan.
Habra pun mengamati bahwa para pembeli saat ini lebih memilih membeli dalam jumlah kecil karena mereka berharap harga akan turun dari waktu ke waktu. “Mereka pasrah. Mereka hanya bisa berdoa semoga harga segera normal kembali,” ungkapnya sambil menghela napas.
Ketika ditanya soal penyebab utama kenaikan ini, Habra tidak bisa berbohong. “Produksi hasil pertanian kita memang sedang minim sekarang. Pasokan yang sedikit otomatis mendorong harga naik. Ya, begitulah rumus dagang yang tidak bisa kita hindari,” jelasnya dengan jujur.
Warga Mulai Merasakan Beban Ganda, “Semua Kebutuhan Rumah Tangga Naik!”
Tak hanya pedagang, para pembeli pun ikut merasakan dampak berat dari lonjakan harga ini. Seorang warga bernama Putri Zuhra mengaku cukup kewalahan menghadapi kenaikan harga bahan dapur yang membebani kebutuhan rumah tangganya sehari-hari.
“Belanja seperlunya saja sekarang, Pak. Semua kebutuhan rumah tangga naik terus. Harganya mahal sekali,” keluh Putri Zuhra dengan wajah lesu.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan agar harga kebutuhan pokok dapat kembali stabil. “Jangan sampai masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi menjelang Idul Adha, kebutuhan dapur biasanya justru meningkat,” harapnya penuh pengharapan.
Harga Melambung, Pasokan Minim: Apakah Kondisi Ini Akan Berlanjut hingga Hari Raya?
Sayangnya, belum ada tanda-tanda bahwa harga akan segera turun dalam waktu dekat. Minimnya pasokan dari daerah penghasil pertanian masih menjadi momok yang mengancam stabilitas harga di Pasar Inpres Lhokseumawe.
Para pedagang dan pembeli sama-sama berharap kondisi cuaca membaik sehingga produksi pertanian di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues bisa pulih kembali. Namun sampai saat itu terjadi, masyarakat Lhokseumawe harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk sekadar memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

