BULELENG, Desapenari.id – Bayangkan, setiap bulan, sekitar 700 warga Buleleng digigit anjing yang berpotensi membawa rabies! Kabupaten di ujung utara Bali ini kini benar-benar dilanda situasi mencekam. Di satu sisi, kasus gigitan meroket tinggi, namun di sisi lain, jumlah dokter hewan sangatlah terbatas. Ironisnya, ancaman mematikan ini terus membayangi warga setiap harinya.
Untuk itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhukajaya, dengan terus terang mengungkapkan bahwa jumlah tenaga dokter hewan di wilayahnya jauh dari kata ideal. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kondisi ini sudah berlangsung lama dan sayangnya belum juga terselesaikan. Akibatnya, masyarakat semakin resah melihat situasi yang tidak kunjung membaik.
Saat ini, Buleleng hanya mampu menghadirkan 21 dokter hewan. Dari jumlah tersebut, 18 orang bertugas di pusat kesehatan hewan (puskeswan), sementara tiga orang lainnya bekerja di dinas terkait. Padahal, menurut data terbaru, populasi anjing di Buleleng diperkirakan telah melampaui angka 27.000 ekor! Coba bayangkan, satu dokter hewan harus melayani lebih dari 1.200 anjing sendirian.
Tidak hanya itu, Dhukajaya juga menegaskan bahwa keterbatasan dokter hewan ini sangat berpotensi menghambat pengawasan dan vaksinasi hewan penular rabies. Padahal, semua pihak sudah paham betul bahwa rabies merupakan penyakit yang sangat membahayakan dan bahkan bisa merenggut nyawa dalam waktu singkat. Karena itu, ia pun mendesak agar pemerintah segera bertindak nyata.
“Wajar jika saat ini tenaga dokter hewan kita masih sangat kurang. Oleh karena itu, pihak terkait harus segera mengupayakan penambahan jumlah mereka,” tegas Dhukajaya saat ditemui di Buleleng, Rabu (20/5/2026). Pernyataan tegas ini sekaligus menjadi alarm keras bagi semua pemangku kebijakan di daerah tersebut.
KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES MEROKET TINGGI
Berdasarkan data resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) di daerah ini tergolong sangat tinggi. Bahkan, selama lima tahun terakhir, rata-rata kasus gigitan mencapai 600 hingga 700 kasus setiap bulannya. Sungguh angka yang fantastis dan mengerikan jika dibayangkan.
Sementara itu, hingga bulan Maret 2026 saja, pihak dinas kesehatan telah mencatat 2.281 kasus gigitan hewan penular rabies. Artinya, setiap hari hampir 25 warga mengalami nasib sial digigit hewan yang dicurigai rabies. Lebih tragis lagi, pada tahun ini sudah ada satu warga yang dilaporkan meninggal dunia akibat rabies. Korban tersebut tidak sempat melapor ke fasilitas kesehatan setelah digigit.
Menurut Dhukajaya, untuk menangani situasi darurat ini, idealnya Buleleng membutuhkan setidaknya 36 orang dokter hewan lapangan. Dengan jumlah tersebut, penanganan kesehatan hewan di sembilan kecamatan akan berjalan lebih optimal. Selain itu, distribusi vaksin dan pengawasan anjing liar pun bisa dilakukan secara merata.
“Formasi dokter hewan ini harus segera diusulkan ke pemerintah pusat. Apalagi, saat ini banyak sekali lulusan kedokteran hewan yang siap bekerja,” tegas Dhukajaya dengan nada penuh harap. Ia pun berharap agar usulan ini tidak lagi terkatung-katung di meja birokrasi.
VAKSINASI MASSAL DIGENCARKAN, MASYARAKAT DIHARAPKAN BERPERAN AKTIF
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng, Gede Melandrat, dengan jujur mengakui bahwa jumlah dokter hewan di Buleleng masih sangat terbatas. Ia pun menjelaskan bahwa beban kerja mereka tidak hanya menangani ancaman rabies saja. Di waktu yang sama, mereka juga harus menjalankan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk hewan ternak. Tentu ini bukan pekerjaan yang ringan.
“Di setiap kecamatan, kami sudah menempatkan minimal dua dokter hewan. Mereka sudah kami jadwalkan dengan sebaik mungkin. Namun, kami juga punya keterbatasan karena harus menangani vaksin rabies sekaligus vaksin PMK,” ucap Melandrat dengan nada terus terang. Kendati demikian, ia berjanji akan terus berupaya semaksimal mungkin.
Untuk mengatasi krisis ini, Melandrat dan timnya terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Mereka dengan sabar mengingatkan warga agar rutin memvaksin hewan peliharaan, khususnya anjing. Tanpa partisipasi aktif dari masyarakat, kata dia, semua upaya akan terasa sia-sia. Karena itu, vaksinasi mandiri oleh pemilik anjing sangatlah krusial.
Tak hanya itu, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Buleleng juga kerap bekerja sama dengan berbagai yayasan dan organisasi resmi dokter hewan. Bersama-sama, mereka secara rutin menggelar vaksinasi massal di berbagai titik rawan. Menurut Melandrat, kolaborasi ini menjadi salah satu strategi jitu di tengah keterbatasan tenaga yang ada.
Baru-baru ini, sebuah insiden mengguncang Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng. Sebanyak 19 warga digigit anjing dalam satu waktu! Kejadian ini sontak membuat panik seluruh warga sekitar. Menyikapi hal itu, pihak dinas bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) pun bergerak cepat. Mereka akan menggelar vaksinasi massal pada Sabtu (23/5/2026).
“Kami sangat berharap masyarakat segera membawa anjing peliharaannya ke pos-pos vaksinasi yang sudah kami sediakan. Jangan tunggu sampai terlambat,” tutup Melandrat dengan pesan yang penuh makna. Sekali lagi, nyawa manusia dan hewan ternak dipertaruhkan. Tanpa kesadaran kolektif, mimpi buruk rabies bisa menjadi kenyataan pahit bagi Buleleng.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

