PADANG, Desapenari.id – Kabar gembira akhirnya menyapa masyarakat Sumatera Barat! Setelah dua hari penuh merasakan gelap gulita yang meresahkan, secara bertahap pemadaman listrik di sana resmi berakhir pada Minggu (24/5/2026) pagi. PLN pun langsung mengumumkan bahwa sistem kelistrikan kini telah pulih total. Bayangkan, hampir seluruh warga Sumbar semula panik dan kesal akibat mati lampau bergantian, namun kini mereka bisa bernapas lega. Pihak PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumbar menyatakan bahwa proses pemulihan ini telah selesai 100 persen.
Lega Akhirnya! PLN Angkat Bicara soal Listrik yang Kembali Mengalir
General Manager PLN UID Sumbar, Arjun Karim, dengan perasaan lega mengumumkan kabar ini secara langsung kepada wartawan pada Minggu pagi. Dia secara gamblang mengatakan bahwa sistem kelistrikan yang sempat kolaps itu sudah berhasil dinormalkan tepat pukul 05.11 WIB. “Alhamdulillah, dengan kerja keras tanpa henti, kami akhirnya bisa menyalakan semua area di Sumbar pagi tadi,” ujar Arjun dengan nada syukur. Pernyataan ini disampaikan olehnya sebagai bentuk tanggung jawab publik setelah dua hari penuh masyarakat terus-menerus mengeluhkan pemadaman. Bahkan, menurut pengakuannya, pihaknya tidak tidur nyenyak demi memastikan seluruh jaringan kembali mengalirkan listrik secara sempurna.
Proses Bertahap yang Bikin Warga Ngos-ngosan Selama Dua Hari
Arjun kemudian menjelaskan secara rinci bahwa pihaknya sudah bekerja bak super hero dalam melakukan pemulihan pasca terjadinya kekurangan pasokan daya dari pembangkit. Meski mereka sudah mengerahkan seluruh teknisi dan peralatan, namun proses pemulihan tetap harus mengikuti prosedur operasional yang ketat. Oleh karena itu, secara perlahan tetapi pasti, pemulihan dilakukan secara bertahap demi menjaga stabilitas jaringan. “Kami tidak bisa asal nyalakan semua karena berisiko padam total lagi,” tegasnya menjelaskan. Karena proses bertahap inilah, banyak daerah di Sumbar harus merasakan gelap gulita selama dua hari berturut-turut. Jangan bayangkan mereka bisa langsung terang dalam sekejap, karena prosedur teknis memang membutuhkan waktu. Artinya, secara tidak langsung, kesabaran masyarakat Sumbar benar-benar diuji selama masa sulit tersebut.
Selanjutnya, sang General Manager mengungkapkan akar masalah di balik bencana kelistrikan ini. Menurutnya, pemadaman yang berkepanjangan itu disebabkan oleh peningkatan kebutuhan listrik masyarakat Sumbar secara drastis. Nah, di sinilah masalahnya: konsumsi listrik melonjak tinggi, tetapi pembangkit listrik lokal tidak mampu menanggung beban tersebut. Akibatnya, terjadi defisit daya yang cukup mengkhawatirkan. Arjun membeberkan data mengejutkan pada Sabtu (23/5/2026) bahwa sistem kelistrikan Sumbar kekurangan pasokan hingga 240 MegaWatt (MW). Lebih detail lagi, ia menjelaskan bahwa beban puncak mencapai 680 MW, sementara daya yang tersedia hanya 440 MW. Bisa dibayangkan, kekurangan sebesar itu tentu langsung memicu pemadaman bergilir dan bahkan padam total di sejumlah wilayah.
Gangguan Mendadak dan Peringatan Keras buat Masa Depan Sumbar
Yang lebih parah, gangguan ini terjadi secara mendadak, lho! Biasanya, gangguan lokal hanya berdampak pada gardu induk (GI) dan pembangkit terdekat. Akan tetapi, kali ini efeknya merembet hampir ke seluruh sistem kelistrikan Sumatera. Artinya, Sumbar tidak bisa sendirian mengatasi masalah ini karena keterkaitan dengan jaringan regional. Arjun dengan jujur mengakui bahwa situasi darurat ini membuat PLN harus berjibaku memulihkan satu per satu wilayah. “Kami tidak menduga lonjakan setinggi itu terjadi dalam waktu cepat,” ungkapnya menyesali. Maka tak heran, warga dari Padang hingga Bukittinggi sempat panik dan kebingungan akibat mati lampau yang berkepanjangan. Secara perlahan, petugas PLN pun merestart sistem dari nol hingga akhirnya kembali stabil pada Minggu dini hari.
Di akhir pernyataannya, Arjun secara tegas menyebutkan bahwa Sumbar sangat mendesak untuk segera mendapatkan penambahan pembangkit listrik sendiri. Hal ini sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang sudah dirancang. “Kalau tidak segera ditambah, maka Sumbar akan terus-menerus mengandalkan pasokan dari pembangkit di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel),” pungkasnya dengan nada peringatan. Padahal, kondisi pembangkit di Sumbagsel saat ini juga sedang banyak melakukan pemeliharaan rutin. Jadi jangan heran, jika ketergantungan itu terus berlanjut, maka risiko pemadaman serupa bisa terulang lagi di masa depan. Secara jujur, ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi PLN pusat dan pemerintah daerah ke depannya. Oleh karena itu, masyarakat berharap ada langkah konkret, bukan sekadar janji manis. Dengan adanya evaluasi menyeluruh, diharapkan kejadian dua hari gelap ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

