PANGANDARAN, Desapenari.id — Pasar Padaherang di Kabupaten Pangandaran kembali bergeliat dengan aktivitas jual beli yang lebih ramai dari biasanya. Pasalnya, harga daging ayam yang sempat turun drastis kini meroket lagi setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi beroperasi kembali. Para pedagang pun serempak mengaitkan lonjakan harga ini dengan meningkatnya permintaan pasar yang luar biasa besar.
Mengawali pekan ini, Senin (13/7/2026), menjadi hari pertama sekolah sekaligus hari di mana program MBG kembali menggulirkan operasionalnya. Hanya dalam hitungan jam, dampaknya langsung terasa di lantai pasar. Harga daging ayam yang sebelumnya sempat terpuruk di angka Rp 23.000 hingga Rp 25.000 per kilogram, kini melonjak ke kisaran Rp 34.000 per kilogram. Kenaikan yang cukup signifikan ini sontak membuat para pembeli dan pedagang sama-sama berdecak kagum sekaligus menghela napas panjang.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa sejak pagi hari, suasana Pasar Padaherang sudah dipadati oleh pembeli yang mengantre di setiap lapak penjual daging ayam. Di sisi lain, para penjual terlihat kewalahan melayani pesanan yang terus mengalir deras, seolah-olah tidak ada jeda untuk sekadar menarik napas. Aktivitas jual beli yang begitu dinamis ini menjadi bukti nyata bahwa program MBG benar-benar memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan komoditas pangan, terutama daging ayam.
Karman, salah satu pedagang daging ayam yang sudah puluhan tahun berjualan di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini bukanlah kejutan baginya. Ia dengan tegas menyatakan bahwa kembalinya operasional MBG menjadi pemicu utama kenaikan tersebut. Menurutnya, ketika program ini sempat diliburkan, permintaan ayam turun cukup tajam dan otomatis harga pun ikut tertekan ke level terendah. Namun, setelah MBG berjalan lagi, gelombang permintaan besar-besaran langsung mendorong harga kembali merangkak naik dengan cepat.
“Sekarang sudah naik lagi, tidak seperti saat libur kemarin. Program MBG sudah jalan lagi, maka permintaan ayam melonjak drastis dan otomatis harga ikut terbang,” ujar Karman dengan nada mantap sambil terus melayani pembeli yang membludak di lapaknya.
Lebih lanjut, Karman menjelaskan bahwa meskipun harga kini melambung tinggi, stok daging ayam di pasaran masih terbilang aman dan mencukupi. Ia memastikan bahwa pasokan dari peternak dan distributor masih berjalan lancar. Namun, ia tidak menampik bahwa permintaan yang sangat tinggi untuk kebutuhan program MBG turut mengganggu rantai distribusi ayam di tingkat pasar tradisional. Dengan volume kebutuhan yang sangat besar, para pemasok cenderung memprioritaskan pasokan untuk dapur-dapur MBG terlebih dahulu, sehingga pasokan untuk konsumen rumahan menjadi lebih terbatas dan harganya pun ikut melonjak.
“Saya tidak khawatir kehabisan stok, karena pasokan masih aman. Tapi yang jelas, ketika permintaan begitu besar dan terjadi dalam skala masif, harga tidak mungkin kembali ke level rendah seperti beberapa pekan lalu. Ini soal mekanisme pasar yang sederhana,” tambahnya.
Tidak hanya berdampak pada harga eceran, kenaikan harga ayam ini pun langsung dirasakan oleh para pelaku usaha kuliner kecil di Pangandaran. Indri, seorang pedagang seblak yang sudah cukup dikenal di kawasan Padaherang, mengakui bahwa biaya produksi hariannya kembali membengkak. Bagaimana tidak, daging ayam merupakan salah satu topping favorit yang paling banyak dipesan oleh pelanggannya. Ketika harga bahan baku naik, maka otomatis beban pengeluaran untuk berbelanja kebutuhan dapur pun ikut terdongkrak.
“Daging ayam sekarang mahal lagi untuk topping seblak. Saya harus merogoh kocek lebih dalam untuk belanja bahan baku setiap harinya. Ini sangat terasa sekali bedanya dibandingkan saat harga sedang turun,” keluh Indri dengan ekspresi sedikit gelisah.
Ia mengenang momen ketika program MBG diliburkan, harga ayam sempat berada di level yang sangat bersahabat bagi para pedagang. Pada saat itu, ia bisa menikmati biaya produksi yang lebih ringan dan margin keuntungan yang lebih besar. Kini, ia harus ekstra berhemat dan menghitung ulang setiap pengeluaran hariannya agar usahanya tetap bertahan. Menariknya, Indri memilih untuk tidak menaikkan harga jual seblaknya meskipun biaya produksi meningkat. Ia khawatir jika harga jualnya naik, jumlah pembeli justru akan menurun drastis dan berdampak lebih buruk pada pendapatannya.
“Untuk sementara, saya potong margin keuntungan saya sendiri dan berharap harga bisa kembali normal. Daripada pembeli kabur karena harga naik, lebih baik saya tahan dulu,” jelas Indri dengan bijak.
Indri juga menyoroti bahwa program MBG tidak hanya memengaruhi harga ayam, tetapi juga secara tidak langsung memengaruhi daya beli masyarakat secara keseluruhan. Ketika permintaan ayam untuk program tersebut meningkat pesat, maka harga di pasar ikut terdorong naik. Akibatnya, masyarakat umum yang tidak terlibat dalam program MBG pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli ayam. Hal ini, menurutnya, juga berdampak pada pengeluaran konsumen yang biasa membeli seblak di lapaknya.
“MBG memang sangat berpengaruh besar terhadap pergerakan harga dan ekonomi masyarakat. Bukan cuma harga ayam yang naik, tapi juga daya beli masyarakat, termasuk pembeli seblak saya, ikut terpengaruh,” ujarnya sambil menghela napas.
Sementara itu, dari sisi konsumen, lonjakan harga ini juga menimbulkan kejutan dan kekhawatiran tersendiri. Tati, seorang warga yang rutin membeli daging ayam untuk kebutuhan keluarganya, mengaku terkejut dengan perubahan harga yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Ia menceritakan bahwa baru beberapa pekan lalu, saat program MBG masih diliburkan, ia masih bisa membeli ayam dengan harga Rp 23.000 per kilogram. Namun, ketika ia kembali ke pasar pada Senin ini, harga yang harus dibayarnya sudah melonjak menjadi Rp 34.000 per kilogram.
“Waktu MBG libur, saya masih dapat harga Rp 23 ribu per kilogram. Hari ini saya beli lagi, eh harganya sudah berubah jadi Rp 34 ribu per kilogram. Kenaikannya terlalu cepat, saya sampai kaget,” cerita Tati dengan nada sedikit kecewa.
Menurut Tati, kenaikan harga ayam ini cukup memberatkan pengeluaran rumah tangganya, mengingat ayam merupakan salah satu lauk yang paling sering ia sajikan untuk keluarganya. Ia berharap agar harga daging ayam dapat kembali stabil dalam waktu dekat. Jika tidak, ia khawatir beban belanja masyarakat akan semakin berat dan berdampak pada kondisi ekonomi keluarga kecil seperti miliknya.
“Semoga harganya cepat turun lagi atau setidaknya stabil. Karena ayam ini kan kebutuhan sehari-hari, bukan barang mewah. Kalau terus naik, kasihan ibu-ibu rumah tangga seperti saya yang harus mengatur keuangan,” harap Tati.
Ke depan, para pedagang dan konsumen di Pangandaran berharap agar pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan program MBG dan stabilitas harga pangan di pasaran. Meskipun program ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah, dampaknya terhadap harga komoditas pangan perlu dikelola dengan baik agar tidak memberatkan masyarakat luas. Dengan koordinasi yang tepat antara pemerintah, distributor, dan pedagang, diharapkan harga ayam dapat kembali normal dan semua pihak bisa merasakan manfaat dari program MBG tanpa harus terbebani oleh lonjakan harga yang tidak terkendali.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

