JEMBRANA, Desapenari.id – Gerak-gerik mencurigakan di balik deru mesin bus antarkota berhasil diendus petugas gabungan di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali. Hasilnya mengejutkan! Bukan barang selundupan biasa, petugas justru mengamankan 124 ekor burung kicau yang nyaris lolos ke Pulau Jawa. Ratusan satwa bersuara merdu itu ditemukan teronggok dalam kardus sempit di bagasi bus, dan kini nasib mereka berubah drastis dari korban penyelundupan menjadi penghuni bebas di Taman Nasional Bali Barat (TNBB).
Insiden penggagalan penyelundupan ini terjadi pada Rabu, 15 Juli 2026, ketika petugas dari Resor KSDA Wilayah Buleleng-Pelabuhan Gilimanuk tengah melakukan operasi gabungan rutin. Beni Supeno, petugas yang memimpin langsung operasi, menceritakan bahwa timnya langsung mencium kejanggalan saat memeriksa bus bernomor polisi DK 7163 GH. Mata petugas pun tertuju pada beberapa kardus besar yang ditumpuk rapi di bagian bagasi. Tanpa banyak basa-basi, mereka segera memeriksa isinya dan mendapati puluhan burung yang menyesaki setiap sudut kardus.
Saat petugas membongkar muatan, mereka mendapati pemandangan memprihatinkan. Ratusan burung tampak sesak dan cemas di dalam kotak-kotak kardus tanpa sirkulasi udara yang memadai. Namun, yang lebih mencurigakan lagi, setelah dilakukan pemeriksaan mendalam di lokasi kejadian, tidak ada satu pun pemilik atau pihak penanggung jawab yang muncul mengaku sebagai pengirim satwa-satwa tersebut. Sopir dan kru bus hanya bisa geleng-geleng kepala, mengaku tidak mengetahui siapa pengirim dan penerima paket mencurigakan itu.
Setelah tim melakukan identifikasi saksama, mereka berhasil mengelompokkan burung-burung tersebut ke dalam lima spesies berbeda. Kelima jenis burung itu adalah trucukan yang lincah, sikatan rimba dada coklat dengan kicauan khasnya, bimoli atau kancilan yang eksotis, cendet yang terkenal petarung, serta cucak jenggot yang selalu mencuri perhatian. Meskipun kelima jenis burung ini tidak termasuk dalam kategori satwa dilindungi berdasarkan undang-undang yang berlaku, petugas tetap tidak bisa tinggal diam.
Beni Supeno menegaskan bahwa meskipun bukan satwa dilindungi, pengangkutan dan peredaran burung-burung tersebut tetap harus dilengkapi dengan dokumen resmi sesuai aturan yang berlaku. Ia menjelaskan dengan tegas bahwa setiap pengiriman satwa, apapun jenisnya, wajib memiliki surat keterangan kesehatan dan dokumen karantina yang sah. “Kami tidak pernah main-main soal administrasi. Pemeriksaan kelengkapan dokumen pada setiap pengangkutan satwa merupakan langkah penting untuk mencegah perdagangan satwa liar ilegal,” ujar Beni dengan nada serius, Kamis (16/7/2026).
Menurut Beni, celah administratif seringkali dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk menyelundupkan satwa. Oleh karena itu, petugas selalu memperketat pengawasan di pelabuhan-pelabuhan pintu masuk seperti Gilimanuk. Operasi gabungan kali ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antar instansi mampu membongkar praktik-praktik yang merugikan ekosistem. Tidak main-main, upaya penyelundupan ini melibatkan modus operandi yang cukup rapi, dengan memanfaatkan arus penumpang padat di jalur utama Bali-Jawa.
Setelah seluruh proses identifikasi dan pencatatan selesai, tim medis dari KSDA segera melakukan kajian cepat atau rapid assessment terhadap kondisi fisik ratusan burung tersebut. Hasilnya sungguh melegakan! Seluruh burung dinyatakan dalam kondisi sehat, bugar, dan tidak menunjukkan tanda-tanda stres berat yang membahayakan. Oleh karena itu, berdasarkan protokol yang berlaku, mereka dinyatakan layak untuk segera dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Tanpa membuang waktu, petugas segera mengangkut seluruh burung tersebut menuju kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Pelepasliaran berlangsung khidmat di dua lokasi berbeda yang masih berada dalam kawasan hutan lindung tersebut. Suasana haru pun menyelimuti ketika puluhan burung itu akhirnya bebas dari kurungan kardus dan melesat bebas menembus dedaunan hutan TNBB. Kicauan riang mereka seakan menjadi lagu kemenangan setelah nyaris menjadi komoditas gelap di pasar burung Jawa.
Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko, tak bisa menyembunyikan rasa syukur dan bangganya atas keberhasilan operasi ini. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran yang terlibat, mulai dari Resor KSDA Buleleng, petugas pelabuhan, hingga pihak kepolisian yang ikut mengamankan jalannya operasi. Ratna menekankan bahwa keberhasilan ini bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari kolaborasi kuat lintas instansi yang memiliki tujuan sama, yakni menjaga kelestarian satwa liar di Indonesia.
“Kolaborasi lintas instansi menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian satwa liar. Kami tidak akan pernah bisa melakukannya sendiri,” pungkas Ratna dengan penuh semangat. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak segan-segan melapor jika menemukan indikasi perdagangan satwa ilegal di lingkungan mereka. Menurutnya, peran aktif masyarakat sama pentingnya dengan peran aparat di lapangan.
Kisah heroik ini pun menjadi pelajaran berharga bahwa pelabuhan bukan hanya tempat keluar masuk manusia dan barang, tetapi juga garda terdepan perlindungan satwa. Berkat kewaspadaan petugas, 124 nyawa burung kicau selamat dari praktik jual-beli gelap dan kini kembali menghiasi hutan Bali dengan merdunya suara alam. Mereka pun pulang ke rumah, sementara penyelundupnya masih misteri.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

