SEMARANG, Desapenari.id – Musim kemarau tahun ini benar-benar menguji ketahanan Provinsi Jawa Tengah! Bayangkan, dalam kurun waktu hanya sebulan lebih, sejak 5 Juni hingga 12 Juli 2026, lahan seluas 42 hektare telah ludes dilalap si jago merah. Angka ini tentu membuat kita semua bergidik ngeri!
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa tercatat sudah 37 peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama periode tersebut. Wah, jumlah yang sangat mengkhawatirkan, bukan?
“Tapi dari semua kejadian itu, cenderung lebih banyak membakar lahan dibandingkan hutan,” ujar Bergas saat ditemui awak media pada Rabu (15/7/2026). Pernyataan ini pun langsung menimbulkan pertanyaan besar di benak kita semua: apa sebenarnya yang memicu maraknya kebakaran ini?
FAKTOR ALAM DAN KELALAIAN MANUSIA MENJADI BIANG KELADI!
Menurut penjelasan Bergas, kemarau panjang dan kekeringan ekstrem menjadi pemicu utama terjadinya karhutla di wilayah Jawa Tengah. Kondisi alam yang keras ini kemudian diperparah dengan berbagai aktivitas manusia yang kurang berhati-hati. Sungguh kombinasi mematikan yang mengancam lingkungan kita!
Data mencatat bahwa 37 peristiwa kebakaran ini telah menyebar di 16 kabupaten dan kota. Daerah mana saja yang paling parah terkena dampaknya? Ternyata Sukoharjo, Blora, Klaten, dan Sragen menjadi wilayah dengan jumlah kasus karhutla terbanyak. Warga di daerah-daerah tersebut patut meningkatkan kewaspadaan ekstra!
PUNTUNG ROKOK SEBESAR APA? API BESAR BERAWAL DARI HAL KECIL!
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kebakaran tidak hanya melahap lahan pertanian produktif, tetapi juga rawan menyasar area yang ditumbuhi rumput liar atau semak belukar kering. Apa penyebab utamanya? Ternyata kelalaian manusia masih menjadi faktor dominan!
Bergas memberikan contoh konkret yang sering terjadi di lapangan: “Banyak puntung rokok yang masih menyala dibuang sembarangan ke semak atau rerumputan kering.” Tindakan sepele ini ternyata bisa berakibat fatal, apalagi di tengah cuaca panas terik yang membuat segala sesuatu mudah terbakar!
Tak hanya itu, aktivitas pembakaran sampah yang dilakukan tanpa pengawasan ketat juga seringkali menjadi pemicu kebakaran yang meluas. Api yang awalnya kecil bisa dengan cepat menjalar ke lahan kering di sekitarnya karena terbawa angin.
GESEKAN DAN SUHU PANAS: KOMBINASI MEMATIKAN!
Fenomena menarik yang diungkapkan Bergas adalah bahwa kebakaran di area rumput liar tidak selalu disebabkan oleh ulah manusia. “Indikasinya bisa karena gesekan, karena cuacanya sangat panas. Bisa karena gesekan, lalu dia terbakar,” jelasnya.
Suhu udara yang menyengat ditambah dengan tiupan angin kencang membuat gesekan antar rerumputan kering bisa menghasilkan percikan api. Ini adalah peringatan keras bahwa alam sedang memberi sinyal bahaya yang tak boleh kita abaikan!
PANEN TEBU: ANTARA KEBUTUHAN DAN RISIKO BENCANA!
Beralih ke sektor pertanian, kebakaran lahan ternyata paling berdampak pada perkebunan tebu. Bergas menilai bahwa banyak petani tebu sengaja melakukan pembakaran di lahannya karena saat ini sedang memasuki musim panen. Praktik yang sudah berlangsung turun-temurun ini ternyata menyimpan risiko besar!
“Mereka sengaja membakar lahan tebu untuk mengurangi biaya pembersihan selasar atau daun tebu,” ungkap Bergas. Meskipun tujuan awalnya ekonomis, namun konsekuensinya sangat berbahaya karena api bisa dengan cepat merambat ke area lain.
Yang menjadi perhatian serius, praktik pembakaran ini membutuhkan edukasi yang lebih masif. “Nah ini kan butuh edukasi. Tapi bukan di kami, ini posisinya di dinas teknis terkait,” tegas Bergas. Ini menunjukkan bahwa diperlukan kerja sama lintas instansi untuk menangani masalah ini secara komprehensif!
42 HEKTARE TERBAKAR, NAMUN SYUKUR TAK ADA KORBAN JIWA!
Di tengah kondisi yang mengkhawatirkan ini, ada kabar baik yang patut disyukuri. Meskipun lahan seluas 42 hektare telah menjadi korban keganasan api, Bergas memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam seluruh peristiwa karhutla yang terjadi. Ini tentu menjadi berkah di tengah musibah!
Namun, hal ini tidak lantas membuat kita lengah. Potensi bahaya selalu mengintai, terutama karena banyak area perkebunan yang berdekatan dengan permukiman penduduk. Risiko kebakaran merambat ke rumah-rumah warga tetap menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai!
IMBUAN HARDIKAL: WASPADA DAN BERTANGGUNG JAWAB!
Menyikapi situasi darurat ini, Bergas mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh warga Jawa Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan. Setiap aktivitas pembakaran, sekecil apapun, harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab!
“Seandainya harus dibakar, harus ditungguin. Apalagi daerah perkebunan yang dekat dengan permukiman,” tegas Bergas dengan nada serius.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, sisa pembakaran yang berupa bara api bisa terbawa angin dan melayang ke area permukiman. “Dikhawatirkan sisa pembakaran yang terbang, yang masih berupa bara ini, menuju ke arah permukiman terkena angin. Nah, ini kan berbahaya,” imbuhnya dengan penuh keprihatinan.
Maraknya karhutla di Jawa Tengah menjadi pengingat keras bahwa bencana ini sebenarnya bisa dicegah dengan kesadaran kolektif. Perpaduan antara faktor alam dan kelalaian manusia memang sulit dihindari, namun dampaknya bisa diminimalisir dengan langkah-langkah preventif yang tepat.
Setiap warga memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran. Mulai dari tidak membuang puntung rokok sembarangan, mengawasi ketat setiap aktivitas pembakaran, hingga melaporkan segera jika melihat titik api. Kerja sama semua pihak sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini secara efektif!
Musim kemarau masih akan berlangsung beberapa waktu ke depan. Oleh karena itu, kewaspadaan tinggi harus terus dijaga. Jangan sampai kelalaian sekecil apapun berujung pada bencana besar yang merugikan banyak pihak. Mari bersama-sama menjaga Jawa Tengah dari ancaman karhutla!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

