DENPASAR, Desapenari.id – Dunia transportasi dan tata kota di Pulau Dewata bakal berubah drastis! Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), baru saja melontarkan gebrakan besar yang langsung menyita perhatian publik. Dalam sebuah rapat koordinasi yang digelar di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Senin (20/7/2026), AHY secara gamblang membeberkan deretan program prioritas pembangunan infrastruktur yang super ambisius. Bukan hanya transportasi massal biasa, tetapi juga layanan water taxi atau taksi air yang selama ini hanya jadi impian, serta sistem transportasi laut pesisir yang akan menghubungkan kawasan Selatan Bali. Wah, siap-siap Bali makin cakep!
Di tengah hiruk-pikuk pariwisata yang kian padat, AHY menegaskan bahwa pembangunan di Bali tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, ia secara aktif mengajak seluruh elemen untuk bahu-membahu mulai dari pemerintah pusat, jajaran pemerintah daerah, berbagai kementerian dan lembaga terkait, hingga jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Semua pihak harus kompak, karena menurutnya, hasil dari rapat koordinasi tersebut tidak akan dibiarkan mengendap begitu saja. Pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi berkala secara ketat guna memastikan setiap program yang sudah direncanakan tetap berjalan di jalurnya.
“Kami tidak akan pernah berhenti mengawal ini. Tim saya akan terus mengecek progres pembangunan melalui rapat-rapat lanjutan. Ini penting untuk memastikan semua pekerjaan tetap on track. Kami harus satu visi, satu rencana, dan yang terpenting adalah satu eksekusi di lapangan,” tegas AHY dengan penuh keyakinan dalam keterangan resmi yang diterima awak media pada Selasa (21/7/2026). Kalimat ini pun langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat kebijakan publik.
Lebih lanjut, AHY menguraikan bahwa pemerintah saat ini sedang memfokuskan diri pada pembangunan infrastruktur yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga terintegrasi dengan konektivitas antarwilayah dan penataan ruang yang matang. Semua elemen itu disatukan dalam satu ekosistem pembangunan yang berkelanjutan untuk Bali. Jadi, tidak ada lagi tumpang tindih proyek yang justru merugikan masyarakat. Setelah kebijakan besar ini ditetapkan, sejumlah kementerian pun langsung kebagian tugas berat sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Di sektor transportasi, misalnya, pemerintah secara serius mendorong pengembangan moda transportasi massal yang modern. Namun, yang paling membuat publik heboh adalah rencana pengadaan layanan water taxi yang akan beroperasi di kawasan padat penduduk seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sarbagita. Konsep taksi air ini diyakini bisa menjadi solusi alternatif yang menyenangkan sekaligus mengurangi kemacetan di jalan darat. Selain itu, pemerintah juga tidak main-main karena akan segera melakukan studi kelayakan untuk transportasi laut pesisir di kawasan Bali Selatan. Bahkan, untuk memaksimalkan kenyamanan, sistem transportasi pengumpan atau feeder juga sedang dirancang agar bisa mengintegrasikan semua layanan transportasi yang ada. Dengan begitu, wisatawan dan warga lokal bisa pindah dari bus ke taksi air dengan sangat mudah.
Tapi, bukan hanya transportasi yang menjadi sorotan. Di sektor permukiman, perhatian pemerintah juga sangat besar terhadap masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah mendorong pembangunan rumah susun yang layak dan terjangkau, serta turut serta mengembangkan kawasan berbasis budaya di daerah Sesetan, Denpasar. Langkah ini diambil agar pembangunan tidak melupakan akar budaya Bali yang begitu kuat.
Sementara itu, di bidang lingkungan, isu sampah yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi Bali juga mulai ditangani secara serius. Sejumlah kementerian mendapat mandat khusus untuk memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, melindungi lahan pangan produktif agar tidak beralih fungsi, serta mengintegrasikan perencanaan pembangunan antar sektor. Pemerintah pusat dan daerah juga sepakat untuk segera menyusun master plan pariwisata Bali yang baru, guna mengatur keseimbangan antara industri pariwisata dan kelestarian alam.
Tidak ketinggalan, peran BUMN pun akan dioptimalkan secara maksimal. Menurut AHY, BUMN akan mengambil peran strategis dalam memperkuat konektivitas udara dan laut. Hal ini dilakukan sekaligus untuk mengintegrasikan ekosistem pariwisata dan aviasi di Pulau Dewata. Artinya, wisatawan yang datang lewat jalur udara nantinya akan langsung terhubung dengan transportasi laut yang disiapkan, menciptakan pengalaman perjalanan yang mulus tanpa repot.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga tidak tinggal diam. Mereka didorong untuk lebih gencar melakukan edukasi pengelolaan sampah berbasis sumber kepada masyarakat. Selain itu, upaya pengendalian alih fungsi lahan juga terus digalakkan agar Bali tidak kehilangan lahan pertaniannya yang subur. Semua pihak harus sadar, bahwa menjaga Bali tidak hanya tugas pemerintah pusat, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif kita semua.
AHY juga memberikan pesan penting bahwa seluruh dukungan pembangunan yang diberikan oleh pemerintah pusat tetap memperhatikan karakteristik unik dan kearifan lokal Bali. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pandangan di antara para pemangku kepentingan adalah hal yang wajar. Namun, AHY meminta agar perbedaan tersebut dikelola secara konstruktif, sehingga tetap melahirkan kebijakan terbaik yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Bali.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bali, I Wayan Koster, dengan blak-blakan memaparkan berbagai tantangan pelik yang dihadapi daerahnya. Di tengah tingginya geliat aktivitas pariwisata, Koster mengakui bahwa Bali saat ini sedang bergulat dengan masalah kemacetan lalu lintas yang kronis, persoalan sampah yang sulit terurai, serta keterbatasan infrastruktur penunjang lainnya. Menurutnya, semua itu adalah pekerjaan rumah besar yang harus segera dibereskan. Karena itu, Koster menilai bahwa peningkatan kapasitas infrastruktur adalah satu-satunya kunci untuk menjaga daya saing pariwisata Bali di kancah global sekaligus menjamin keberlanjutan lingkungan di masa depan.
“Peningkatan kapasitas infrastruktur menjadi kunci utama. Kita harus menjaga daya saing, tetapi kita juga tidak boleh mengorbankan keberlanjutan Bali itu sendiri,” pungkas Koster dengan nada optimis. Semua mata kini tertuju pada realisasi nyata dari program-program ambisius ini. Apakah water taxi akan segera memecah kebisingan ombak di Selatan Bali? Kita tunggu aksinya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

