TULUNGAGUNG, Desapenari.id – Musibah maut menimpa usaha peternakan milik Abdul Munir di Dusun Plandangan, Desa Boro, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Bagaimana tidak, kandang ayam miliknya ludes dilalap si jago merah pada Minggu (19/7/2026) sekitar pukul 23.30 WIB. Tak hanya bangunan yang hangus, ribuan ayam di dalamnya pun ikut menjadi korban dalam peristiwa nahas ini.
Peristiwa kebakaran di Tulungagung ini ternyata dipicu oleh kelalaian kecil yang berakibat fatal. Diduga kuat, gas elpiji bocor dari alat pemanas buatan yang digunakan untuk menjaga suhu kandang. Akibat kejadian tragis ini, pemilik harus merelakan kerugian materiil hingga ratusan juta rupiah setelah ribuan ayam petelur produktif dan anak ayam mati terpanggang api.
Musim Bediding Jadi Biang Keladi, Pemanas Malah Jadi Bencana
Kasi Operasional Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat Tulungagung), Bambang Pidekso, mengonfirmasi bahwa kobaran api pertama kali muncul dari area alat pemanas suhu kandang. Memang, penggunaan alat pemanas intensif ini menjadi keharusan seiring dengan masuknya musim bediding Tulungagung yang membawa suhu udara dingin ekstrem pada malam hari.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara di lapangan, pemilik kandang ternyata sempat melakukan penggantian tabung gas elpiji beberapa saat sebelum insiden terjadi. Diduga terdapat malafungsi atau ketidakrapatan pada instalasi katup maupun selang regulator saat penggantian tersebut. Kesalahan teknis sekecil inilah yang kemudian memicu petaka besar.
“Sebelumnya pemilik kandang mengganti tabung gas elpiji untuk pemanas. Diduga ada gas yang bocor,” jelas Bambang saat memberikan keterangan resmi kepada media, Senin (20/7/2026).
Lebih lanjut, Bambang memaparkan bahwa setelah tabung elpiji tersebut diganti, pemilik menyalakan alat pemanas seperti biasa untuk menghangatkan seisi ruangan kandang. Namun, tanpa disadari, kebocoran pada saluran membuat gas elpiji terakumulasi dengan cepat di dalam ruangan tertutup sebelum akhirnya tersulut oleh pemantik api alat pemanas. Sungguh ironis, alat yang seharusnya melindungi ayam-ayam tersebut malah menjadi penyebab kematian mereka.
“Saat musim dingin, kandang ayam biasa memakai pemanas untuk menghangatkan suhu dalam kandang. Diduga ada kebocoran gas,” sambung Bambang.
3.100 Ekor Ayam Tak Berkutik, Si Jago Merah Melahap Semuanya
Kecepatan perambatan api membuat proses evakuasi mustahil dilakukan. Betapa tidak, api dengan sigap merambat ke seluruh sudut kandang dan menjebak ribuan ayam di dalamnya. Tercatat sebanyak 3.100 ekor ayam yang berada di dalam bangunan tersebut mati terpanggang dan tidak ada satu pun yang berhasil diselamatkan dari amukan si jago merah.
Komoditas peternakan yang hangus tersebut terdiri dari 2.100 ekor ayam petelur yang saat ini berada dalam masa produktif harian. Selain itu, terdapat pula 1.000 ekor anak ayam berusia sekitar 35 hari yang sedang dipersiapkan sebagai generasi ayam petelur berikutnya. Betapa menyedihkan, semua harapan pemilik untuk masa depan peternakannya musnah dalam sekejap.
Kondisi anak ayam yang masih berumur 35 hari tersebut memang sangat rentan terhadap perubahan suhu udara dingin di musim bediding, sehingga penempatan alat pemanas diletakkan sangat dekat dengan posisinya. Saat api menyulut gas yang terjebak, seluruh unggas tersebut langsung terjebak di dalam sekat-sekat pembatas. Tak ada kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri.
Konstruksi Bambu Jadi Bom Waktu, Api Cepat Melahap
Faktor konstruksi bangunan kandang ditengarai menjadi penyebab utama mengapa api dengan sangat cepat melalap seluruh area peternakan. Meski tiang utama bangunan telah menggunakan struktur beton yang kokoh, namun material pembatas horizontalnya didominasi bahan yang rawan terbakar. Bambu sebagai material utama ternyata menjadi celah mematikan dalam insiden ini.
“Kandang memang tiang-tiangnya beton, tapi bagian untuk mengurung ayam banyak menggunakan bahan bambu. Ada juga bahan-bahan mudah terbakar lainnya,” ungkap Bambang.
Selain material bambu, ketiadaan penjaga di area peternakan pada malam hari serta letak kandang yang terpisah cukup jauh dari rumah utama Abdul Munir membuat insiden ini terlambat disadari. Warga baru mengetahui adanya kebakaran setelah api sudah membesar dan membubung tinggi ke langit. Sayangnya, saat itu semuanya sudah terlambat.
Pihak Damkarmat Tulungagung yang menerima laporan segera menerjunkan tim rescue ke lokasi kejadian. Meski bergerak cepat, api ternyata lebih cepat lagi melahap seluruh isi kandang.
“Kami tiba di lokasi sekitar pukul 23.58 WIB, api sudah menguasai kandang. Pemadaman selesai pukul 00.50 WIB, Senin dini hari,” kata Bambang.
Dua Unit Damkar Dikerahkan, Satu Jam Memastikan Api Padam
Guna menjinakkan si jago merah, sebanyak dua unit mobil pemadam kebakaran beserta satu unit mobil tangki penyuplai air dikerahkan ke Dusun Plandangan. Petugas membutuhkan waktu hampir satu jam untuk memastikan api benar-benar padam dan melakukan proses pendinginan. Upaya maksimal pun dilakukan demi mencegah kebakaran menjalar ke pemukiman warga sekitar.
Syukurlah, tidak ada korban jiwa manusia dalam musibah ini. Namun, seluruh bangunan kandang, ribuan ekor unggas, serta perlengkapan peternakan modern di dalamnya kini telah rata dengan tanah. Total kerugian kebakaran ayam dan properti milik korban ditaksir mencapai Rp 400.000.000 (empat ratus juta rupiah). Sebuah pukulan telak bagi perekonomian keluarga Abdul Munir yang selama ini menggantungkan hidup dari usaha peternakannya.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para peternak lainnya untuk lebih berhati-hati dalam penggunaan alat pemanas berbahan bakar gas. Pengecekan rutin terhadap instalasi selang dan regulator harus menjadi prioritas utama, terutama di musim bediding seperti sekarang. Sekali lagi, kelalaian kecil bisa berakibat fatal dan menghancurkan usaha yang telah dibangun bertahun-tahun.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

