MANOKWARI, Desapenari.id – Hari-hari penuh harapan kini harus berganti dengan duka mendalam. Yanto Idorway, sosok presenter TVRI Papua Barat yang dikenal ramah dan bersahaja, hingga kini masih belum juga ditemukan setelah dinyatakan hilang sejak Sabtu, 18 Juli 2026 lalu. Namun, di tengah derasnya arus sungai dan tebalnya kabut yang menyelimuti kawasan pencarian, tim gabungan SAR terpaksa menghentikan operasi penyisiran sesuai dengan standar operasi yang telah ditetapkan oleh badan pencarian dan pertolongan.
Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Manokwari, Reza Afrianto, dengan tegas menjelaskan bahwa penghentian pencarian ini bukanlah tanpa alasan. Pihaknya mengikuti prosedur operasi standar (SOP) yang sudah menjadi pedoman dalam setiap operasi SAR. Tak hanya itu, keputusan berat ini pun diambil setelah tim berkomunikasi dan mendapat kesepakatan langsung dari pihak keluarga korban yang dengan lapang dada menerima kondisi yang ada.
“Selanjutnya, kami tetap akan melakukan pemantauan secara berkala. Apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan korban, maka operasi SAR akan segera kami buka kembali,” ucap Reza Afrianto saat ditemui pada Jumat (24/7/2026) di lokasi posko pencarian. Pernyataan ini tentu menjadi secercah harapan bagi keluarga dan publik yang masih menantikan kepastian nasib sang presenter.
Lebih lanjut, Reza memaparkan bahwa ada tiga faktor utama yang menjadi acuan dalam penghentian operasi SAR. Pertama, operasi dianggap selesai apabila seluruh korban berhasil ditemukan dalam keadaan selamat ataupun meninggal dunia. Kedua, pencarian dapat dihentikan jika tim penilai lapangan menyimpulkan bahwa upaya yang dilakukan sudah tidak efektif lagi mengingat berbagai keterbatasan dan hambatan teknis di lapangan.
“Yang ketiga, dan ini menjadi titik paling krusial, operasi SAR wajib dihentikan apabila selama tujuh hari pelaksanaan operasi tidak ditemukan satu pun tanda-tanda keberadaan korban, baik itu barang pribadi, jejak langkah, ataupun indikasi lainnya,” ungkap Reza dengan nada prihatin. Keputusan ini memang pahit, namun harus dijalankan demi kepatuhan terhadap prosedur dan keselamatan seluruh tim yang bertugas.
Tak dapat dipungkiri, suasana haru menyelimuti saat Reza Afrianto menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada keluarga besar Yanto Idorway dan juga masyarakat luas yang turut prihatin. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan bahwa tim SAR gabungan sudah mengerahkan segenap kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan terbaik yang mereka miliki. Seluruh armada canggih baik dari Basarnas, jajaran Kepolisian, hingga personel TNI pun telah dikerahkan tanpa kenal lelah.
“Kami sungguh-sungguh mohon maaf. Kami sudah berupaya secara maksimal. Segala pengetahuan, keterampilan, dan armada yang kami punya sudah kami kerahkan. Namun, segala sesuatu ada di tangan Tuhan. Kami sangat prihatin dan turut berduka atas musibah yang menimpa keluarga,” ujarnya dengan nada mengharukan.
Pada hari ke-7 pelaksanaan operasi, tim SAR menghadapi tantangan alam yang sungguh luar biasa di kawasan Air Terjun Memti, Kampung Sisrang, Kabupaten Pegunungan Arfak. Kabut tebal menggantung rendah dan membatasi jarak pandang para pencari. Cuaca ekstrem berubah dengan cepat, suhu udara turun drastis hingga menusuk tulang, dan yang paling mengkhawatirkan adalah derasnya arus sungai yang meningkat secara signifikan. Kondisi ini jelas membahayakan keselamatan tim dan memaksa mereka untuk mengambil langkah antisipatif.
Reza membeberkan bahwa tim pencarian telah menyusuri setiap celah-celah batu besar yang ada di sepanjang aliran sungai. Mereka menyisir medan sejauh kurang lebih 1,6 kilometer dengan penuh kewaspadaan. Tak hanya itu, pemantauan udara juga dilakukan dengan menerbangkan drone berteknologi thermal yang mampu mendeteksi panas tubuh manusia atau hewan dalam radius 1 hingga 2 kilometer dari lokasi kejadian. Namun, sayangnya, hingga batas waktu yang ditentukan, belum ada satu pun sinyal positif yang berhasil tertangkap oleh perangkat canggih tersebut.
Selain upaya fisik dan teknologi, tim SAR juga gencar melakukan penyebarluasan informasi kepada masyarakat sekitar. Melalui peran aktif Babinsa dan Bhabinkamtibmas, pemberitahuan tentang korban hilang disebarkan ke kampung-kampung di sepanjang aliran sungai. Langkah ini bertujuan agar masyarakat ikut waspada dan segera melapor apabila menemukan tanda-tanda keberadaan Yanto di wilayah mereka masing-masing.
Tim SAR gabungan mulai bergerak menuju lokasi pada pukul 08.00 WIT dengan semangat pagi yang membara. Setelah menempuh perjalanan yang cukup berat, mereka tiba di area pencarian sekitar pukul 10.00 WIT dan langsung memulai operasi penyisiran sesuai dengan rencana yang telah disusun rapi. Seluruh personel bekerja bahu-membahu, saling bergantian menyusuri medan ekstrem yang licin dan berbatu.
Hingga pukul 17.50 WIT, seluruh area yang menjadi fokus pencarian telah diperiksa dengan saksama. Namun, takdir berkata lain. Yanto Idorway belum juga berhasil ditemukan. Kelelahan mulai terasa, namun semangat tim tetap membara hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 18.15 WIT ketika mereka melaksanakan evaluasi bersama. Dalam forum tersebut, hadir tim SAR gabungan, unsur potensi SAR dari berbagai elemen masyarakat, dan yang paling penting, pihak keluarga korban yang turut serta dalam diskusi panjang ini.
Suasana duka begitu terasa ketika perwakilan keluarga Yanto angkat bicara. Dalam luapan kesedihan yang mendalam, mereka menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas respons cepat dan upaya maksimal yang telah diberikan oleh Tim SAR sejak pertama kali laporan diterima hingga hari ketujuh pencarian. Kata-kata penuh haru pun terlontar dari mereka, mengharukan hati setiap orang yang hadir di ruangan evaluasi.
“Kami sekeluarga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas respons cepat dan seluruh upaya dari Tim SAR selama ini. Sejak menerima laporan hingga hari ketujuh, semuanya sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh,” ucap salah seorang keluarga dengan mata berkaca-kaca.
Meskipun proses pencarian resmi dihentikan, keluarga menyatakan bahwa harapan baik itu tak pernah padam. Mereka masih percaya bahwa suatu saat nanti, baik tim SAR maupun masyarakat umum akan menemukan tanda-tanda keberadaan Yanto. Keluarga juga berharap agar Kepolisian Resort Pegunungan Arfak terus melakukan pengembangan pencarian dengan pendekatan-pendekatan baru yang mungkin belum tergali selama ini.
“Kami masih menaruh harapan. Baik kepada tim maupun masyarakat luas, apabila ada yang menemukan saudara kami Yanto, mohon segera laporkan. Kami tidak akan pernah menutup pintu harapan,” lanjutnya dengan suara lirih.
Operasi pencarian yang berlangsung selama satu minggu penuh ini memang menjadi ujian berat bagi semua pihak yang terlibat. Cuaca ekstrem di Pegunungan Arfak, medan yang terjal, dan minimnya petunjuk keberadaan korban menjadi tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil akhir operasi SAR ini. Namun semangat solidaritas dan kerja sama antarinstansi patut diapresiasi setinggi-tingginya.
Sejumlah pengamat dan pegiat media pun ikut menyoroti kasus hilangnya presenter TVRI ini. Banyak yang menilai bahwa kondisi geografis dan iklim di kawasan pegunungan memang menjadi tantangan serius dalam setiap operasi penyelamatan. Meskipun teknologi modern seperti drone thermal sudah digunakan, namun kabut tebal yang pekat dapat mengganggu kinerja sensor dan kamera.
Sementara itu, masyarakat di sekitar Kampung Sisrang juga turut bersedih mendengar penghentian operasi pencarian ini. Mereka berdoa dan berharap semoga Yanto Idorway segera ditemukan dalam kondisi apapun, sehingga keluarganya bisa mendapatkan kepastian dan ketenangan batin.
Tidak hanya itu, sejumlah rekan kerja Yanto di TVRI Papua Barat pun menyatakan rasa duka dan kehilangan yang mendalam. Mereka mengenang sosok Yanto sebagai pribadi yang ceria, profesional, dan selalu membawa energi positif di ruang redaksi. Kehilangan seorang presenter yang begitu dekat dengan masyarakat Papua Barat jelas meninggalkan lubang besar, baik di dunia penyiaran maupun di hati para pemirsa setianya.
Kini, seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pencarian hanya bisa pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa. Namun, semangat kemanusiaan dan solidaritas tetap menyala. Mata dan telinga masyarakat di sekitar aliran sungai akan terus terbuka lebar, sebab siapapun bisa menjadi pahlawan dengan memberikan informasi yang berharga.
Kisah tragis ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang betapa pentingnya keselamatan dan kewaspadaan saat beraktivitas di alam terbuka, terutama di kawasan yang rawan perubahan cuaca ekstrem. Semoga kedepannya, tidak ada lagi musibah serupa yang menimpa para pekerja media yang sudah berjuang menyampaikan informasi kepada masyarakat di daerah terpencil.
Tim SAR pun berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi internal dan meningkatkan kapasitas serta kesiapsiagaan mereka. Pelajaran berharga dari operasi kali ini akan menjadi bekal berharga untuk menghadapi kemungkinan operasi pencarian dan pertolongan di masa depan.
Doa dan dukungan mengalir deras dari berbagai penjuru. Bagi keluarga besar Yanto Idorway, semoga diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan berat ini. Semoga cahaya harapan tetap menyinari perjalanan mereka, dan semoga Yanto segera ditemukan dalam keadaan apapun, memberikan kepastian yang selama ini dinantikan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

