SURABAYA, Desapenari.id – Kasus dugaan korupsi pakan satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang merugikan keuangan negara hingga angka mencengangkan Rp10,2 miliar kini memicu reaksi keras dari DPR RI. Komisi VII DPR RI pun angkat bicara dan secara mengejutkan meminta agar ikon wisata Kota Pahlawan itu ditutup sementara waktu. Langkah tegas ini diambil menyusul penetapan mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PD TS KBS), Choirul Anwar, sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur atas kasus penyalahgunaan dana operasional yang merugikan banyak pihak, terutama para hewan koleksi.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menyampaikan rasa prihatinnya yang mendalam ketika kasus ini mulai terkuak ke publik. Menurutnya, skandal ini bukan hanya soal angka kerugian materi, tetapi lebih dari itu, menyangkut nyawa dan kesejahteraan makhluk hidup yang tidak bisa bersuara. “Tentu kami sangat prihatin. Nilainya mencapai sekitar Rp10 miliar lebih, dan yang menjadi korban paling utama adalah hewan-hewan di sana. Hal seperti ini sudah sangat keterlaluan dan tidak boleh terjadi lagi,” tegas Chusnunia saat ditemui di kompleks parlemen, Jumat (24/7/2026). Ia menegaskan bahwa praktik curang seperti ini jelas mencoreng dunia konservasi dan pendidikan di Indonesia.
Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Nunik itu bahkan secara blak-blakan menyarankan opsi kontroversial, yakni penutupan total operasional KBS. Baginya, lebih baik kandang-kandang itu kosong dari pengunjung sementara waktu daripada terus menerus menyaksikan satwa-satwa malang itu menjadi tumbal dari ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. “Kalau secara pribadi, saya melihat kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Daripada satwa-satwanya terus menjadi korban, mungkin lebih baik ditutup sementara,” ujarnya dengan nada tegas. Ia menambahkan bahwa kebun binatang yang dulunya menjadi tempat wisata edukasi kini justru menyimpan duka dan ironi yang dalam.
Nunik juga menekankan bahwa kebijakan penutupan ini tidak bersifat permanen, melainkan sebagai langkah darurat untuk mereset sistem. Setelah ada pola pengelolaan yang baik dan transparan, serta dipastikan tidak lagi berpotensi terjadi korupsi atau persoalan serupa, barulah pintu gerbang KBS bisa dibuka kembali untuk masyarakat. “Saat ini juga banyak alternatif wisata lain yang lebih sehat dan aman untuk anak-anak. Tempat-tempat itu juga bisa menjadi sarana edukasi dan rekreasi sekaligus mengurangi ketergantungan mereka terhadap gawai,” terangnya. Hal ini ia sampaikan sebagai bentuk solusi agar masyarakat tidak kehilangan akses rekreasi meskipun KBS tutup sementara.
Di sisi lain, Nunik mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk tidak tinggal diam dan segera menggerakkan mesin birokrasi guna mengevaluasi seluruh operasional KBS secara menyeluruh dan radikal. Ia meminta agar tidak ada lagi sekat-sekat birokrasi yang menghambat proses perbaikan, karena nyawa satwa di dalamnya sedang dipertaruhkan. “Terus terang, kami masih syok. Sampai sekarang rasanya masih sulit berkata-kata melihat kondisi yang terjadi di sana. Yang jelas, kami merekomendasikan agar dilakukan evaluasi secara menyeluruh tanpa kompromi,” bebernya sembari menekankan urgensi perbaikan sistem.
Tidak cukup dengan rekomendasi verbal, Nunik mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mematangkan rencana untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi KBS. Langkah ini dinilai penting untuk melihat secara langsung kondisi aktual hewan-hewan yang selama ini menjadi korban kelalaian dan keserakahan. “Namun nanti akan kami bicarakan dengan teman-teman di komisi, apakah memungkinkan untuk melakukan sidak langsung ke lokasi. Kita tidak bisa hanya membaca laporan di atas kertas, kita harus turun ke lapangan,” katanya. Sidak ini diharapkan bisa mengungkap fakta-fakta lain yang belum terpapar oleh penyidik kejaksaan.
Sementara itu, hebohnya kasus ini semakin menjadi sorotan nasional karena menyangkut lembaga publik yang selama ini diandalkan sebagai tempat konservasi satwa langka. Kejati Jatim sendiri saat ini masih terus mendalami aliran dana dan modus operandi yang digunakan oleh tersangka dalam menyelewengkan anggaran pakan. Publik pun dibuat geram karena dugaan korupsi ini terjadi di tengah keterbatasan anggaran perawatan satwa yang seharusnya menjadi prioritas utama. Banyak pihak menilai bahwa sudah saatnya pengelolaan kebun binatang di Indonesia tidak lagi dijadikan lahan basah bagi para koruptor.
Dengan adanya tekanan dari DPR RI ini, diharapkan Pemkot Surabaya segera bertindak cepat dan transparan. Evaluasi total harus dilakukan, mulai dari pengadaan barang, sistem keuangan, hingga tata kelola sumber daya manusia. Kasus ini menjadi pelajaran pahit bahwa pengawasan yang longgar hanya akan merugikan satwa dan menguntungkan segelintir oknum. Selain itu, penutupan sementara diharapkan memberikan ruang bagi pihak berwenang untuk membersihkan segala praktik buruk yang mengakar di dalam tubuh pengelola KBS.
Menariknya, sorotan juga tertuju pada bagaimana nasib para pekerja dan pegawai harian KBS jika penutupan sementara benar-benar terealisasi. Namun, Nunik menegaskan bahwa keselamatan dan gizi satwa tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. “Kami akan memastikan proses perbaikan tidak mengganggu hak-hak dasar satwa maupun karyawan, tetapi yang pasti, pengelolaan harus bersih,” pungkasnya. Isu ini terus bergulir dan menjadi pembicaraan hangat di berbagai kalangan, dari aktivis lingkungan hingga masyarakat awam yang selama ini menggemari KBS.
Di akhir pernyataannya, Nunik kembali mengingatkan bahwa kasus KBS ini adalah cermin dari buruknya tata kelola di institusi sejenis lainnya. Ia meminta agar aparat hukum tidak berhenti pada penetapan tersangka saja, melainkan mengusut tuntas seluruh pihak yang terlibat. Sebab, jika tidak, maka praktik korupsi pakan satwa akan terus berulang dan semakin banyak hewan yang menjadi korban. Saat ini, semua mata tertuju pada langkah konkret Pemkot Surabaya dan proses hukum di Kejati Jatim yang akan menentukan masa depan KBS serta nasib satwa-satwa yang ada di dalamnya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

