PADANG, Desapenari.id – Hujan deras yang mengguyur Kota Padang sejak siang hari ternyata menyimpan petaka mendadak bagi dunia pendidikan di sana. Bayangkan, pada Senin (3/8/2026) sore, puluhan pelajar dan tenaga pengajar di kompleks SMP dan SMA PMT Prof Dr Hamka, yang terletak strategis di Jalan Bypass Padang, tepatnya di wilayah Air Pacah, tiba-tiba saja terkurung banjir bandang. Air yang naik dengan cepat lantas melumpuhkan aktivitas belajar mengajar dan mengubah suasana sekolah menjadi ladang genangan yang mencekam. Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan tersebut, Basarnas Padang lantas bergerak cepat untuk mengevakuasi mereka yang terjebak, karena akses keluar masuk sekolah pun sudah terputus total oleh derasnya air.
Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, menjelaskan dengan nada serius bahwa pihaknya langsung menerjunkan tim penyelamat setelah menerima laporan kepanikan dari pihak sekolah. Menurut penuturannya, banjir yang melanda kawasan tersebut tidak hanya merendam halaman, tetapi juga menghalangi para pelajar dan guru untuk meninggalkan area sekolah, sehingga mereka pun terpaksa mengungsi ke lantai atas gedung. “Air tiba-tiba naik begitu cepat dan menggenangi akses jalan, sehingga para guru dan murid tidak bisa keluar. Kami pun memutuskan untuk segera melakukan evakuasi,” ujar Abdul Malik di Padang, ketika dikonfirmasi terkait kejadian dramatis tersebut.
Situasi pelik terjadi di lapangan; para pelajar dan tenaga pengajar memilih bertahan di dalam lingkungan sekolah sambil menunggu pertolongan datang. Mereka tidak bisa pulang karena jalanan di luar sudah menjelma seperti sungai kecil, sedangkan di dalam area sekolah, kondisi bangunan masih cukup kokoh untuk dijadikan tempat perlindungan sementara. Sambil menunggu tim SAR datang, mereka berusaha tenang meski rasa cemas menyelimuti, karena mereka tahu bahwa di luar, arus air mungkin jauh lebih berbahaya jika dipaksakan untuk dilalui tanpa bantuan profesional.
Proses Evakuasi yang Menegangkan: Perahu Karet Jadi Penyelamat!
Lantas, bagaimana proses evakuasi yang begitu mendebarkan itu dilakukan? Abdul Malik membeberkan bahwa tim penyelamat dari Basarnas Padang dikerahkan langsung ke lokasi dengan membawa peralatan lengkap, terutama perahu karet. Tim ini tidak membuang waktu; mereka segera mengarungi genangan air yang cukup tinggi untuk menjangkau lokasi sekolah yang terisolasi. Mengingat akses jalan yang terendam membuat para pelajar tidak bisa keluar dengan berjalan kaki, tim pun harus menyusuri area yang tergenang dengan hati-hati. Selain itu, kedalaman air yang mencapai hampir satu meter di beberapa titik dan arus yang cukup deras membuat operasi ini harus dilakukan secara ekstra profesional, karena jika dipaksakan tanpa alat bantu, nyawa mereka tentu akan terancam.
Setibanya di lokasi sekolah, tim SAR langsung mengambil tindakan cepat dan terukur. Mereka tidak menunggu lama; regu penyelamat pun mengangkut para pelajar dan guru secara bertahap menggunakan perahu karet. Proses evakuasi ini berlangsung dengan tertib; setiap perahu membawa beberapa orang untuk kemudian diantarkan menuju titik kumpul yang lebih aman di luar kawasan banjir. Para pelajar yang rata-rata masih duduk di bangku SMP dan SMA itu tampak ketakutan, namun tim penyelamat terus menenangkan mereka sambil memandu langkah demi langkah evakuasi yang aman.
Mengapa Mereka Memilih Bertahan di Sekolah?
Tentunya, muncul pertanyaan besar: mengapa para pelajar dan guru memutuskan tetap di dalam lingkungan sekolah alih-alih mencoba keluar sendiri? Jawabannya tegas: karena kondisi di luar area dinilai sangat tidak aman dan mengancam jiwa. Genangan air yang cukup tinggi serta meluasnya banjir membuat akses jalan tertutup total, sehingga mustahil untuk dilalui dengan kendaraan biasa apalagi berjalan kaki. Selain itu, ketiadaan jalur evakuasi darurat yang aman tanpa perlengkapan khusus seperti pelampung atau perahu membuat mereka lebih bijak untuk memilih menunggu bantuan dari tim SAR. Walau area sekolah tidak sepenuhnya terendam, tempat itu berfungsi sebagai benteng perlindungan sementara yang cukup layak hingga proses evakuasi dimulai.
Keputusan bertahan ini tentu tepat, karena tim SAR Padang sendiri mengakui bahwa kondisi banjir di kawasan Air Pacah memang tergolong ekstrem. Seluruh akses menuju sekolah nyaris tak terlihat karena tertutup air keruh yang membawa lumpur dan sampah. Pihak sekolah pun dengan sigap mengarahkan seluruh siswa dan guru untuk mengungsi ke lantai dua gedung, sambil menunggu kabar dari petugas. Mereka mengikuti arahan demi keselamatan bersama, dan tidak ada satu pun yang nekat menerobos banjir karena sadar akan risiko besar yang mengintai.
Tim SAR Padang Bergerak Aktif di Tengah Cuaca Ekstrem
Di tengah situasi darurat ini, Abdul Malik menegaskan bahwa tim SAR Padang langsung diturunkan ke lapangan untuk memberikan bantuan maksimal kepada seluruh masyarakat yang terdampak banjir. Mereka tidak sekadar diam di posko; tim bergerak secara aktif dengan menyisir berbagai titik rawan banjir di wilayah Kota Padang, termasuk kawasan perumahan, pusat perbelanjaan, dan tentunya area pendidikan yang menjadi prioritas penyelamatan. Setiap laporan warga yang masuk segera ditindaklanjuti, dan mereka pun terus berkomunikasi dengan pemerintah setempat untuk memastikan distribusi bantuan berjalan lancar.
Tidak hanya fokus pada evakuasi, tim SAR Padang juga secara rutin mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi bencana susulan. Mereka menyoroti bahwa hujan lebat yang terus mengguyur dalam beberapa waktu terakhir berpotensi memicu berbagai bencana lanjutan, seperti tanah longsor dan banjir kiriman dari hulu sungai. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk terus memantau informasi resmi dari badan meteorologi dan tidak mudah terpancing untuk beraktivitas di luar saat hujan deras mengguyur.
Di sisi lain, proses evakuasi di sekolah PMT Prof Dr Hamka berjalan dengan lancar berkat koordinasi yang baik antara tim SAR, pihak kepolisian, dan relawan setempat. Setelah semua pelajar dan guru dievakuasi, mereka langsung dibawa ke posko pengungsian sementara yang telah disiapkan oleh pemerintah kota. Di sana, mereka menerima makanan, minuman, dan layanan kesehatan dasar untuk memastikan kondisi fisik mereka tetap prima. Meskipun kejadian ini cukup mengejutkan, pihak sekolah dan orang tua murid mengucapkan rasa syukur yang mendalam karena seluruh proses evakuasi dapat dilakukan tanpa ada korban jiwa. Kini, mereka berharap banjir segera surut dan aktivitas belajar mengajar dapat kembali normal dalam waktu dekat.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

