JAKARTA, Desapenari.id – Langkah tegas langsung diambil oleh Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Trenggono, setelah ratusan warga di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dilaporkan keracunan akibat mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Tanpa menunggu waktu lama, Trenggono pun bertolak ke lokasi untuk meninjau langsung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kasih Iman Samuel Papua yang menjadi biang keladi insiden memilukan ini. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati fakta bahwa dapur umum tersebut menyimpan segudang kekurangan yang sangat serius.
“Saya langsung bergerak cepat mengunjungi SPPG yang menangani kasus ini. Jujur, saya temukan banyak sekali kekurangan di sana. Bahkan, saya sudah menegur keras koordinator wilayah setempat karena kelalaian pengawasan seperti ini masih saja bisa terjadi,” ungkap Trenggono dengan nada tegas dalam keterangan pers resmi yang digelar pada Jumat (7/8/2026).
Begitu tiba di lokasi, Trenggono tidak hanya sekadar mendengar laporan dari petugas. Ia turun langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap setiap tahapan proses produksi makanan. Mulai dari cara penyimpanan bahan baku, proses memasak, hingga penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang seharusnya menjadi pedoman utama. Namun, hasil di lapangan sungguh mengecewakan. Karena ditemukannya berbagai pelanggaran dan kelemahan sistemik, BGN akhirnya memutuskan untuk membekukan sementara atau melakukan suspend operasional terhadap SPPG tersebut.
“Sementara waktu, kami bekukan dulu operasional SPPG ini. Kami akan melakukan pemeriksaan dan investigasi mendalam untuk mencari tahu di mana letak kesalahan utamanya. Apakah kesalahan ini bersumber dari SOP yang tidak dijalankan dengan benar, atau justru karena kualitas bahan baku yang sudah menurun sejak awal. Ini menjadi bahan evaluasi kritis bagi kita semua,” tegas Trenggono menambahkan.
Data terbaru yang dihimpun hingga pukul 15.45 WIT menunjukkan skala dampak yang cukup luas. Tercatat tidak kurang dari 219 penerima manfaat sudah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan yang tersebar di Jayapura. Ratusan korban ini terpaksa berjuang melawan mual, muntah, dan pusing setelah menyantap hidangan yang seharusnya bergizi tersebut.
Rincian persebaran pasien cukup bervariatif. Sebanyak 83 pasien harus menjalani perawatan intensif di RSUD Yowari, sementara 61 pasien lainnya mendapatkan pertolongan pertama di Puskesmas Depapre. Puskesmas Sentani turut merawat 14 pasien, dan dua pasien lainnya dirawat di Puskesmas Komba. Satu pasien dilaporkan mendapatkan perawatan di Puskesmas Kampung Harapan. Di sisi lain, rumah sakit-rumah sakit besar di Jayapura juga kebanjiran pasien. RS Dok II Jayapura menerima empat pasien, RS Abepura menampung 24 pasien, RS Kementerian Kesehatan menangani 21 pasien, dan RS Dian Harapan merawat 20 pasien lainnya.
Meskipun jumlah korban terbilang banyak, ada kabar baik yang patut disyukuri. Dari total keseluruhan pasien, delapan orang di antaranya sudah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatan mereka mulai menunjukkan pemulihan yang signifikan. Namun, tiga pasien lainnya terpaksa harus dirujuk dari RSUD Yowari ke RS Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan perawatan lanjutan yang lebih komprehensif sesuai dengan kebutuhan medis masing-masing.
“Kami memastikan seluruh pasien ini mendapatkan penanganan medis yang layak dan diperlukan. Tidak ada satu pun korban yang kami abaikan,” tutur Trenggono memberikan jaminan kepada publik.
Setelah melakukan penelusuran awal di lokasi kejadian, Trenggono mengungkapkan bahwa indikasi sementara mengarah pada dugaan penurunan kualitas pada salah satu menu yang disajikan. Dari hasil pemantauan, ia menduga ada masalah serius pada pengolahan tempe bacem yang menjadi salah satu lauk dalam paket MBG tersebut.
“Tempe bacem yang disajikan ternyata dimasak terlalu dini. Ini sangat berisiko karena jika makanan didiamkan terlalu lama setelah dimasak, bakteri dapat berkembang biak dengan cepat,” jelas Trenggono menguraikan temuan awalnya.
Meskipun demikian, Trenggono dengan bijak mengingatkan semua pihak untuk tidak terburu-buru menyimpulkan. Penyebab pasti dari kejadian keracunan massal ini masih harus menunggu hasil resmi dari pemeriksaan laboratorium. Ia meminta seluruh masyarakat untuk bersabar dan menunggu hasil investigasi final yang akan dirilis oleh tim ahli.
Hasil investigasi yang komprehensif ini nantinya akan menjadi fondasi utama bagi BGN untuk melakukan penyempurnaan sistem pengawasan mutu dan keamanan pangan. Tidak hanya itu, evaluasi juga akan menyentuh aspek penerapan standar operasional pada seluruh tahapan program MBG, mulai dari proses pengadaan, penyimpanan, pengolahan, hingga pendistribusian makanan kepada para penerima manfaat.
“Di sisi lain, kami terus melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan. Kami bertekad untuk memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis ini semakin baik, terkendali, dan yang terpenting memberikan manfaat yang aman bagi seluruh penerima,” tegas Trenggono menutup pernyataannya.
Dengan adanya insiden ini, BGN dipastikan akan meningkatkan frekuensi inspeksi mendadak ke seluruh SPPG yang tersebar di Indonesia. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen serius pemerintah dalam menjaga kesehatan dan keselamatan jutaan penerima manfaat program makan bergizi gratis di seluruh tanah air.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

